Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 93. Kebenaran Yang Menyakitikan


__ADS_3

Bab 93


Arga dan Pandu sedang mencari informasi tentang Jelita, ibunya Ratu. Mungkin dengan mengetahui keberadaan wanita itu bisa menyelamatkan hidup si gadis malang itu.


"Kalau Jelita yang diceraikan oleh suaminya yang bernama Hendra, apa ibu tahu?" tanya Arga sambil memperhatikan setiap gerak-gerik si ibu pemilik warung nasi.


"Jelita? Di kampung ini tidak ada yang namanya Jelita," jawab si ibu pemilik warung.


Arga dan Pandu saling melirik. Jangan sampai perjalanan jauh mereka itu sia-sia.


"Jelita itu nama anak tunggal Pak Kades yang dibawa kawin lari, Bu," timbal seorang laki-laki tua.


Fakta yang baru diketahui oleh Arga dan Pandu. Keduanya tidak menyangka akan mendengar kabar seperti ini. Mereka malah jadi semakin penasaran dengan sosok Jelita ini.


"Oh, Ita anaknya Pak Kades Agung? Dia sudah lama tidak ada kabarnya," lanjut wanita bertubuh gempal itu.


"Gosipnya dia sudah meninggal, ginjal dia diambil sama orang kaya," tambah laki-laki tua yang duduk tidak jauh dari Arga dan Pandu.


Arga dan Pandu tentu saja terkejut. Rasa kasihan kepada nasib wanita bernama Jelita ini semakin besar.


"Maksud ginjalnya diambil oleh orang kaya itu gimana, ya, Pak?" tanya Pandu yang kini duduk menghadap laki-laki tua itu.


Terlihat laki-laki itu menerawang jauh untuk menggali kembali ingatannya. Kejadian ini terjadi sudah lebih dari dua puluh tahun yang lalu.


"Malam itu Jelita datang seorang diri saat hari hampir tengah malam. Keadaannya sedikit aneh, karena saat bapak tegur dia tidak jawab. Ternyata saat  pulang rumah Pak Kades, dia juga diusir sambil dicaci-maki. Bapak tidak berani menolong waktu itu. Jelita pun pergi sambil menangis entah ke mana. Lalu, saat subuh-subuh bapak lihat Jelita pergi bersama Ayu naik ojek. Katanya mau diajak kerja ke ibu kota. Tapi, beberapa tahun kemudian anaknya Ayu keceplosan bilang kalau Jelita itu sudah meninggal karena ginjalnya dijual sama orang kaya," ucap laki-laki tua itu dengan mata yang berkaca-kaca.


Arga dan Pandu pun ikut merasa sedih. Dada mereka terasa sesak membayangkan bagaimana kehidupan Jelita saat itu.


"Lalu, apa keluarga Pak Kades masih ada?" tanya Arga dengan suara tercekat.


"Sudah tidak ada lagi. Mereka sudah lama meninggal. Pak Kades Agung meninggal lima tahun setelah kejadian malam itu. Kalau Bu Kades meninggal tiga tahun lebih dahulu. Sebelum meninggal Pak Kades bilang semua hartanya itu untuk Jelita dan anaknya. Tapi, sebelum mereka kembali kami warga bisa mengolah lahan itu. Rumahnya juga sering dipakai untuk pertemuan oleh warga di desa ini," jawab laki-laki tua itu.

__ADS_1


Setelah berbincang dengan pemilik warung dan juga ayahnya, Arga dan Pandu melihat-lihat keadaan di kampung itu sekalian melihat rumah Bi Ayu yang ada di kampung. Ternyata rumah itu dihuni oleh salah satu kerabat Bi Ayu. Rumah miliknya itu paling bagus dan paling besar dibandingkan dengan rumah penduduk yang lainnya.


Mereka langsung tahu siapa Pandu itu. Ini karena Bi Ayu sering memperlihatkan wajah majikannya. Mereka menyambut kedatangan Arga dan Pandu dengan baik.


"Tuan mau ke mana?" tanya laki-laki yang bernama Hasan, sepupunya Bi Ayu.


"Mau lihat-lihat rumah almarhum Pak Agung yang mantan kades itu," jawab Pandu.


"Apa Tuan sudah menemukan anaknya Jelita?" tanya Hasan tiba-tiba.


"Iya. Namanya Ratu. Bapak, kok, tahu?" tanya Pandu balik.


"Akhirnya anaknya Jelita sudah ketemu! Bapak sudah lama menunggu kedatangan dia. Berat sekali diamanahi oleh Ayu buat menyimpan uang milik Jelita yang harus dikasihkan jika bertemu dengan anaknya," jawab Hasan.


"Uang? Uang apa itu, Pak? Kebetulan sekali Ratu memerlukan banyak uang," ucap Pandu.


"Kata Ayu ini uang yang didapat oleh Jelita dengan menjual kedua ginjalnya untuk majikan Ayu yang menderita kerusakan ginjal," balas Hasan.


'Aku tidak menyangka kalau ginjal milik mama sekarang itu dulunya adalah milik ibunya Ratu,' batin Pandu yang masih dalam keadaan shock.


Selama perjalanan pulang, Arga dan Pandu sama-sama terdiam. Tidak ada seorang pun yang berbicara di antara mereka. 


***


Arga baru sampai ke apartemen hampir tengah malam. Rasa rindu kepada sang istri dan anaknya membuat dia ingin tidur bertiga. Dia tidak membangunkan Marsha dan membawa Alva tidur di kamar mereka.


'Ya Allah, aku tidak mau kehilangan mereka. Mereka adalah keluargaku yang paling berharga. Semoga rasa cinta dan sayangku untuk keluargaku tidak akan pernah hilang, meski apa pun yang terjadi,' batin Arga sambil menatap wajah Marsha dan Alva.


Marsha terbangun saat merasa ada tangan kecil yang memeluknya. Begitu dia membuka mata, terlihat ada Alva yang tidur sambil memeluk lengannya. Wanita itu merasa heran dengan keberadaan putranya yang bisa tidur di kamarnya.


'Apa Mas Arga yang mengizinkan Alva tidur di sini?' batin Marsha.

__ADS_1


Wanita itu membelai wajah Arga dengan lembut. Seharian tidak melihatnya ada perasaan rindu yang mendalam. Terdengar lebay jika orang tahu, maklum saja mereka itu masih kehitung pengantin baru yang ingin menghabiskan waktu lebih banyak saat bersama.


"Ada apa?" tanya Arga saat dia terbangun karena merasa ada yang menyentuh wajahnya.


Laki-laki itu menatap lembut sang istri. Wajah yang tidak pernah bosan untuk dia lihat sepanjang waktu.


"Kangen," bisik Marsha dengan semburat rona menghiasi wajahnya.


Arga pun bangun lalu menarik tubuh Marsha agar pindah posisi dengan Alva. Lalu, direngkuhnya sang istri dengan pelukan hangat. Arga memeluk Marsha dan wanita itu memeluk Alva.


Berada dalam pelukan suaminya membuat Marsha merasa nyaman kemudian kembali tertidur lelap. Padahal tadi dia ingin menanyakan kapan pulang dan apa saja yang sudah terjadi kepadanya di kampung itu. Namun, semua sirna hanya karena dekapan seorang Arga sang mantan casanova.


Saat dini hari Marsha terbangun dan mengajak Arga untuk sholat tahajud bersama. Pasangan suami-istri menghabiskan waktu bermunajat sampai mendekati waktu subuh. Biasanya jika sudah selesai tahajud, laki-laki itu sering mengajak sang istri untuk membuat adik untuk Alva. Namun, hari ini tidak dan itu membuat Marsha merasa heran.


"Apa sedang ada masalah, Mas?" tanya Marsha sambil mengelus kepala Arga yang sedang tiduran di pangkuannya.


Pasangan suami-istri itu masih berada di atas sajadah. Arga merasa senang bisa bermanja-manja seperti ini kepada Marsha. Kepenatan pikirannya terasa berkurang dan tergantikan dengan perasaan nyaman.


"Tidak. Hanya ingin seperti ini saja," jawab Arga sambil memandang rupa Marsha dari bawah.


Wanita itu hanya tersenyum sambil mengelus wajah suaminya. Memiliki suami yang rupawan dan pesonanya yang kuat, sering membuat Marsha cemburu. Untungnya dia tahu kalau Arga sangat mencintai dirinya.


"Bagaimana perjalanan kemarin?" tanya Marsha penasaran.


Arga pun menceritakan semua yang terjadi kepada dirinya dan Pandu. Marsha mendengar tanpa memotong pembicaraan suaminya. Hanya ekspresi wajah yang berubah sendu dan mata yang berkaca-kaca menggambarkan apa yang sedang dia rasakan saat mengetahui nasib Jelita yang tidak kalah malangnya dari Ratu.


"Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Pandu sekarang, Mas?" tanya Marsha.


***


Apakah Pandu akan mengatakan semuanya kepada Ratu? Apa Arga akan jujur kepada Marsha akan masalah dalam dirinya? Ikuti terus kisah mereka, ya!

__ADS_1


__ADS_2