Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 130. Apartemen


__ADS_3

Bab 130


Alva mendatangi Safira yang sedang menangis di taman kota. Setelah mencari kesana-kemari akhirnya ditemukan juga gadis itu. Dia berdiri di depannya lalu memberikan sebatang cokelat.


Safira mendongakkan kepala melihat kepada Alva yang sedang memegang makanan kesukaannya. Meski kesal gadis itu mengambil cokelat yang disodorkan kepadanya.


"Sebentar lagi hari akan sore," ucap Alva lalu membalikkan badan.


Tanpa banyak bicara Safira tahu maksud ucapan Alva. Dia pun beranjak dari kursi besi itu lalu mengikuti langkah sang pemuda. Diam-diam gadis itu tersenyum bahagia sambil melihat sebatang cokelat yang ada di tangannya.


Alva membukakan pintu mobil untuk Safira agar cepat masuk. Perlakuan seperti ini sangat jarang pemuda itu lakukan. Hanya di saat-saat tertentu saja.


"Terima kasih," kata Safira sambil tersenyum lembut.


Selama Alva menyetir, Safira terus memperhatikan wajah sang pemuda. Menurut gadis itu ketampanannya setiap hari semakin bertambah. Makanya tidak aneh jika banyak perempuan yang jatuh cinta akan ketampanannya.


"Turunlah!" titah Alva sambil membukakan sabuk pengaman pada Safira.


Jantung gadis itu bertalu-talu kencang karena jarak dirinya dengan Alva tidak sampai 15 sentimeter. Maju sedikit saja dia bisa mencium laki-laki itu. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh Safira. Betapa gugup dan berdebar-debar dirinya saat ini. Kedua netra mereka bersirobok, selain itu bisa merasakan hembusan napas orang di depannya.


"Apa yang kalian mau lakukan!" Arshy memukul kap mobil dengan keras.


Alva dan Safira kaget bukan main. Kedua orang itu terlonjak kaget sambil saling menjauh. Tentu saja jantung mereka berdetak kencang karena sudah kepergok oleh orang lain.

__ADS_1


Senyum lebar menghiasi wajah Arshy karena sudah mengagetkan kedua anak manusia berbeda gender itu. Apalagi saat melihat ekspresi wajah kakak sulungnya yang terlihat ingin menerkamnya saat itu juga.


Arshy langsung kabur masuk ke dalam lift, saat melihat kakaknya turun dari mobil dengan tatapan galak. Gadis itu tahu kalau mood kakaknya sedang buruk.


"Orang itu lagi. Siapa, sih, dia?" tanya Safira dengan nada kesal.


Alva tidak menjawab pertanyaan Safira. Dia memilih segera masuk ke dalam lift begitu pintu besi itu terbuka. Sang gadis pun ikut berlari masuk, takut ditinggalkan.


"Malam ini kita makan bersama, ya? Aku akan memasak ayam goreng kesukaan kamu," kata Safira mengajak Alva.


"Sepertinya aku tidak bisa," jawab Alva.


"Kenapa?" tanya Safira.


Belum juga Alva menjawab pintu lift terbuka dan pemuda itu langsung melangkah ke luar. Dia melihat Arshy sedang berdiri di depan pintu unit apartemen milik keluarganya.


Alva berjalan cepat untuk menekan password yang mengunci pintu. Dia lupa kalau password sudah diganti hari kemarin.


"Kenapa password-nya salah?" tanya Arshy dengan muka cemberut.


"Aku lupa memberi tahu kamu nomor pin-nya, tadi," jawab Alva sambil menekan beberapa angka.


Tiba-tiba, kembali terlintas kejahilan Arshy. Gadis itu merangkul lengan Alva sambil melirik kepada Safira.

__ADS_1


Melihat itu, kemudian dengan kasar Safira menarik tangan Arshy dari lengan Alva. Lalu, gantian dia yang memeluk Alva. Perbuatannya itu membuat Arshy dan Alva tercengang.


"Alva itu milik aku!" ucap Safira dengan tegas dan mata menatap tajam kepada Arshy.


"Sejak kapan Kak Alva menjadi milik kamu?" tanya Arshy dengan nyolot lalu menarik kuat tubuh Alva lalu memeluknya.


Safira yang sempat terhuyung ke belakang, ditarik oleh Alva dan menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Namun, hal ini malah dimanfaatkan oleh putri Dokter Rama itu untuk memeluk tubuh Alva.


"Aaaa!" teriak Arshy karena melihat sang kakak memeluk tubuh gadis yang bukan jika keluarganya.


"Haram!" lanjut Arshy sambil melerai pelukan dua sejoli itu.


Jantung Safira bertalu-talu dan pipinya terasa panas. Dia yakin kalau mukanya saat ini merah padam. Saking gugup dan malunya dia sampai salah masuk apartemen. Seharusnya gadis itu masuk ke unit sebelah yang dahulu diisi oleh keluarga Bu Djoko.


"Kenapa Kak Safira masuk ke apartemen kita, Kak?" tanya Arshy sambil menatap pintu yang ditutup di depan mukanya.


Alva sendiri tidak tahu kenapa Safira malah masuk ke tempat mereka. Namun, dia tidak mempermasalahkan, beberapa saat lagi pasti Safira akan sadar sudah salah masuk kamar.


"Aaaa. Kenapa aku masuk ke dalam apartemen milik Alva?" Safira pun segera membalikan badan.


"Auuuu, sakit!" Kepala gadis itu menabrak kening Arshy yang sama-sama mengerang kesakitan.


Kedua gadis itu saling menatap, kemudian tertawa terkekeh sambil memegang kening masing-masing. Alva meninggalkan mereka berdua dan berjalan menuju dapur. Menghadapi dua gadis membuat dirinya harus ekstra sabar.

__ADS_1


"Kamu itu siapa, sih? Dekat-dekat sama Alva terus," tanya Safira dengan ketus.


***


__ADS_2