
Bab 120
Arga akhirnya memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi tadi di kantor. Dahulu dia sudah berjanji kepada Marsha tidak akan menyembunyikan apa pun darinya. Keduanya akan bersama-sama menghadapi segala yang terjadi kepada mereka.
"Aku takut kalau mereka berani berbuat nekad kepadamu atau Alva. Mereka itu sangat licik dan jahat," ucap Arga dengan lirih.
Terlihat ekspresi wajah laki-laki sangat sendu. Pancaran matanya juga mengisaratkan kecemasan.
Marsha menarik tubuh Arga ke dalam pelukannya. Laki-laki itu pun membalas dalam rengkuhan hangatnya.
"Jangan takut atau cemas, ada Allah yang akan menjaga. Kita berdoa agar Allah melindungi kita dari kejahatan dan tipu daya orang-orang jahat," kata Marsha.
Hati dan pikiran Arga sekarang merasa tenang. Memang tidak salah kalau membicarakan sesuatu kepada pasangan kita. Karena bisa saja semua solusi permasalahan yang sedang dihadapi itu ada padanya.
"Terima kasih, Sayang. Sekarang sudah terasa plong," ujar Arga dan memberikan ciuman di pipi sang istri.
"Bukannya kita sebagai pasangan suami istri itu harus saling. Saling membantu, saling menyayangi, saling mendengarkan curahan hati pasangan, saling–" ucapan Marsha terpotong karena Arga menciumnya.
"Aku sangat bahagia sekali bisa menjadi suami kamu, Sayang." Tatapan Arga sudah berkabut gairah.
Marsha hanya bisa menelan saliva. Dia tahu keinginan suaminya sekarang.
"Sekarang usia kandungan sudah aman. Jadi, boleh, ya?" Arga tersenyum tampan dan Marsha tidak bisa menolak keinginan suaminya.
***
Mariana mendatangi apartemen Valerie. Dia marah karena cincin miliknya diambil oleh sang kakak tanpa izin darinya. Hubungan mereka sampai sekarang tidak pernah akur.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Valerie yang baru bangun tidur.
"Kau sudah mengambil cincin aku diam-diam, 'kan?" Mariana menarik lengan kakaknya dengan kuat.
__ADS_1
"Cincin apa?" Valerie balik memaki adiknya tidak terima atas tuduhannya.
Valeri menarik kuat tangannya sampai terlepas dari cengkeraman Mariana. Keduanya kini berhadapan dengan penuh emosi.
"Ngaku saja, deh. Ada rekaman video memperlihatkan kamu memakai cincin punya aku. Itu satu-satunya cincin yang di buat khusus. Lalu dari mana kamu punya itu?" Mariana nyolot dan tubuh Valerie bergetar.
"Ngaku saja! Kamu menyusup ke kantor Pandu dan mengacak-acak isi kantor Arga? Punya niat apa kamu sebenarnya?" lanjut Mariana menatap benci kepada kakaknya.
Beberpa hari yang lalu Valerie pulang ke rumah. Saat akan meminjam eyeliner di kamar Mariana, dia melihat ada cincin di bawah kaki kursi meja rias. Bentuknya sangat bagus dan elegan. Tanpa berpikir panjang, benda itu dibawa oleh wanita itu. Apalagi ukuran sangat pas di jarinya dan terlihat sangat cantik.
Mariana menginginkan cincin itu kembali karena harganya sangat mahal dan mempunyai kenangan indah. Dia kehilangan benda itu dan lupa menaruhnya di mana. Saat melihat rekaman video CCTV, dia akhirnya tahu di mana cincin miliknya berada sekarang.
"Jangan suka mengada-ada kamu! Main fitnah orang. Aku tidak pernah melakukan apa yang kamu tuduhkan barusan," bantah Valerie.
"Sudah aku bilang, jangan ngeles terus kamu! Akan aku laporankan ke kantor polisi biar apartemen kamu di geledah. Siapa tahu selain cincin berlian milikku akan ada lagi barang-barang yang lainnya," tukas Mariana dengan senyum mengejek.
Valerie yang kalut pun menjambak rambut Mariana dengan kuat sampai berteriak kesakitan. Wanita itu tidak mau kalah dari sang kakak, lalu memberikan balasan yang tidak kalah menyakitkan.
Kedua wanita dewasa itu kini saling menjambak dengan kuat. Mariana dan Valerie saling bergulat. Kedua tangan dan kaki bergerak melancarkan serangan. Kuku-kuku tajam milik sang adik mencakar wajah kakaknya tanpa ampun sehingga menggoreskan luka yang mengeluarkan banyak darah.
"Aaaaa! Tidak. Apa yang kau lakukan?" Valerie berteriak kesakitan sambil menyentuh wajahnya. Dia melihat tangannya berlumuran darah.
"Berengsek kau, Mariana!" Valerie melemparkan sebuah guci hiasan ke kepala Mariana.
Guci itu tepat mengenai sasaran lalu pecah. Teriakan kesakitan kini keluar dari mulut sang adik. Kepalanya terluka dan darah segar keluar membasahi wajah dan sebagai jatuh ke lantai.
Mariana merasakan sakit sekali di kepalanya sampai jatuh pingsan. Sementara Valerie ketakutan setengah mati melihat itu. Dia mengira kalau adiknya mati.
"Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?" Terlihat tubuh Valerie bergetar hebat saking takutnya karena sudah membunuh.
"Pak Broto! Ya, aku harus minta bantuan dia sekarang," ucap Valerie bermonolog.
__ADS_1
Wanita itu pun langsung menghubungi kekasihnya. Laki-laki itu biasanya akan melakukan apa pun untuk dirinya. Valerie sudah sering menerima bantuan dari Pak Broto semenjak di sadar dari koma dan berpisah dengan Arga.
Tidak sampai setengah jam, Pak Broto datang ke apartemen yang dia hadiahkan kepada Valerie. Laki-laki itu memeriksa keadaan Mariana yang masih hidup.
"Dia belum mati," ucap Pak Broto.
"Bagaimana kalau nanti dia melaporkan aku karena sudah membuatnya seperti ini?" tanya Valerie.
"Kalau begitu kita habisi saja sekalian," jawab Pak Broto dan Valerie setuju.
Hati Valerie sudah kotor. Tidak ada belas kasihan lagi yang dia rasakan. Hanya ada kebencian dan dendam saja. Mariana adalah satu-satunya keluarga yang dia punya, tetapi begitu tega kepadanya. Berawal karena cemburu buta menjadi iri dan berubah benci.
Pak Broto dan Valerie membuang Mariana ke lautan. Mereka berharap kalau tubuh wanita itu akan habis di makan ikan.
"Kamu jangan takut. Semua jejak kita sudah dibersihkan," ucap Pak Broto.
"Kita benar-benar aman, 'kan? Aku tidak mau tiba-tiba saja ada polisi datang menangkap aku," tanya Valerie.
"Tenang saja. Semua sudah aman," jawab Pak Broto.
Sementara itu, Pandu mengerutkan kening karena Mariana mengirimkan pesan suara percakapan antara dirinya dengan Valerie. Durasi sangat panjang, bahkan suara teriakan seperti orang yang sedang berkelahi.
Pandu tersentak saat mendengar pembicaraan Valerie dengan Pak Broto. Dia mengira Mariana saat ini sedang menyambungkan pesan suara, apa yang sedang terjadi kepadanya saat ini.
"Mariana dalam bahaya, tapi dia sedang ada di mana saat ini?" Pandu pun bergegas menghubungi pengacara dan temannya yang seorang polisi.
***
Bingung mau nulis apa. Akankah kali ini Valerie bisa mendekam di penjara? Ikuti terus kisah mereka, ya!
Doakan semoga besok bisa launching karya ini! Tubuhku harus sehat dan kuat.
__ADS_1