Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 95. Ungkapan Arga


__ADS_3

Bab 95


Tubuh Marsha bergetar antara menahan marah, kesal, dan sedih. Dia tidak menyangka kalau suaminya memiliki masalah dalam kesuburannya. Hal yang membuat dia marah adalah fakta yang disembunyikan oleh Arga. Sedih memang saat tahu laki-laki yang dicintainya sedang dalam kondisi tidak baik. Namun, bukan dengan begini caranya.


"Apa aku memang tidak pantas untuk tempat kamu berbagi, Mas?" gumam Marsha dengan berlinang air mata. Dadanya pun terasa sangat sesak.


"Bunda! Apa pensilnya sudah ketemu?" Terdengar suara Alva di balik pintu.


Marsha pun segera menghapus air matanya. Dia memasukan kembali kertas hasil tes itu ke dalam laci.


"Tunggu, Sayang. Bunda masih mencarinya," balas Marsha sambil membuka laci lainnya dan ada sebuah pensil di sana.


Marsha pun bergabung dengan Alva dan Safira yang sedang merapikan krayon milik masing-masing. Saat dia hendak menekan pensil itu terlihat ada ukiran nama Valerie di sana. Semakin sesak saja dada wanita itu.


'Apa di hati kamu masih ada dia, Mas?' batin Marsha.


Wanita itu menghabiskan waktu dengan mengajak bermain Alva dan Safira di taman yang ada di lingkungan apartemen. Dia ingin menghilangkan rasa sakit hati dan marahnya. Dengan bersenang-senang bersama kedua bocah itu membuat perasaan dia kembali membaik.


"Safira!" Dokter Rama melambaikan tangan kepada putrinya yang sedang naik ayunan dan didorong oleh Marsha.


"Papa," balas Safira lalu berlari menghambur memeluk ayahnya.


Arga melihat ada anak dan istrinya di taman. Maka dia pun memarkirkan mobilnya di sana. Dia berjalan cepat ke arah dua orang yang dicintainya, tanpa tahu ada Dokter Rama di dekat mereka.


"Sayang. Kalian sedang main di luar." Arga memeluk Marsha dan Alva secara bergantian.


Dokter Rama tercengang saat tahu suami Marsha adalah laki-laki yang pernah menjadi pasiennya. Dia masih ingat betul kepada Arga karena dulu harus menunggu lama pasiennya ini dan melewatkan menjemput Safira.


"Pak Arga?" Dokter Rama memanggil suami dari Marsha.

__ADS_1


Arga langsung mengalihkan pandangannya ke samping dan betapa terkejutnya dia saat melihat ada Dokter Rama. Padahal selama ini dia selalu berusaha menghindari orang itu. Namun, sekarang takdir berkata lain, mereka dipertemukan kembali.


"Mas, kamu kenal dengan papanya Safira?" tanya Marsha dengan tatapan heran.


"Aaa, iya. A–ku kenal dia," jawab Arga gugup.


Dokter Rama merasa suasana di sana menjadi canggung. Maka, dia pun memutuskan untuk segera pergi bersama dengan putrinya. Meski seperti biasa Safira selalu enggan dibawa pulang karena masih ingin bersama dengan Marsha.


***


Arga merasa ada yang aneh dengan istrinya. Sejak tadi wanita itu banyak terdiam. Bahkan makan siang dan makan malam pun mereka memilih pesan makan lewat online. Marsha beralasan sedang tidak enak badan.


"Sayang, mau aku pijat badannya?" tawar Arga sambil naik ke atas ranjang.


"Tidak perlu, Mas," balas Marsha.


Wanita itu masih kesal dan marah karena Arga masih bersikukuh untuk menyembunyikan hasil kesehatannya meski sudah dipancing beberapa kali tentang ada hal penting yang ingin dibicarakan olehnya.


Laki-laki itu tidak kuat didiamkan seperti ini oleh istrinya. Baru kali ini selama mereka menikah Marsha seakan tidak acuh kepadanya.


Marsha pun duduk dari pembaringannya. Lalu dia menatap suaminya.


"Bukan aku yang harus berkata, tapi kamu, Mas. Apa ada yang mau kamu katakan kepada aku?" Lagi-lagi kalimat itu yang diucapkan oleh Marsha.


"Emangnya apa yang harus aku katakan kepadamu?" Arga balik bertanya.


"Ya, barangkali ada sesuatu yang penting," jawab Marsha.


"Bukannya sudah aku katakan tadi, tidak ada sesuatu yang penting dan aku sembunyikan dari kamu," tukas Arga.

__ADS_1


'Apa hasil tes kesuburan kamu itu tidak penting bagimu, Mas? Apa kamu tidak mau memiliki anak denganku. Padahal mulutmu selalu mengatakan ingin cepat memiliki anak dariku. Apa semua itu bohong?' batin Marsha.


"Sebaiknya kita tidur dan beristirahat. Kamu pasti capai, Mas!" titah Marsha kemudian membaringkan kembali tubuhnya.


Arga mau tidak mau ikut apa kata sang istri meski dia masih diliputi banyak pertanyaan. Dia lupa dengan hasil tesnya karena berniat memberi tahu setelah menjalani tes untuk kedua kalinya. Laki-laki itu ingin melihat perkembangan dirinya setelah melakukan pengobatan dan menjaga pola makannya.


***


Setelah selesai sholat berjamaah Subuh, Marsha berpikir ini saat yang tepat untuk membahas masalah yang sedang terjadi saat ini. Jika kemarin suaminya dalam keadaan lelah, maka setelah beristirahat semalam pasti keadaannya sudah lebih baik.


"Mas, ini maksudnya apa?" tanya Marsha kepada Arga setelah mengganti pakaiannya.


Arga terkejut saat melihat amplop berlogo sebuah rumah sakit yang di letakan di atas kasur. Tidak lupa juga dengan pensil yang terukir nama sang mantan. Sekarang dia tidak bisa mengelak lagi.


"Maaf, aku belum mengatakan hal ini kepadamu, Sayang," jawab Arga dengan berat karena kerongkongannya terasa tercekik.


Marsha masih terdiam dan menatap tajam kepada Arga. Membuat laki-laki itu semakin merasa takut dan bersalah.


"Aku juga belum bisa menerima kenyataan ini. Aku takut, aku sedih, dan aku juga merasa lemah," kata Arga dengan lirih sarat akan kesedihan dari nada bicara dan ekspresi wajahnya.


"Aku ini laki-laki yang ingin dilihat hebat olehmu, Sayang. Tapi, saat tahu kalau aku memiliki masalah dengan kesehatan aku yang seperti ini, aku malah minder dan merasa tidak berguna sama sekali. Aku sedih ... aku terluka saat melihat kamu begitu semangat ingin memiliki anak denganku. Makanya aku melakukan pengobatan ini tanpa memberi tahu kamu. Aku tidak mau melihat kamu bersedih. Apalagi yang paling aku takutkan adalah kamu pergi meninggalkan aku karena masalah ini," lanjut Arga dengan mata yang berkaca-kaca dan suaranya yang bergetar.


Arga meraih wajah Marsha yang kini terlihat sendu dengan mata yang sudah berair. Sekali berkedip saja cairan bening itu pasti meluncur di pipinya.


"Aku berniat memberi tahu kamu setelah melakukan tes kedua. Apa kamu tahu kenapa aku sekarang rajin memakan makanan berprotein tinggi. Kacang-kacangan dan rajin minum susu kedelai. Itu semua aku lakukan dalam proses pengobatan agar kondisi super*ma yang dihasilkan menjadi sehat dan baik. Selama ini aku selalu termenung. Mungkin yang terjadi kepadaku saat ini adalah buah dari perbuatan aku dahulu. Namun, dengan adanya dirimu di sisiku yang selalu mengingatkan diri ini untuk selalu berdoa dan berusaha, membuat aku merasa yakin kalau kita akan bisa punya anak," jelas Arga dengan pelan.


Marsha masih terdiam dalam menahan tangisannya. Dia merasa menjadi istri yang tidak dipercaya oleh suaminya untuk tempat berbagi. Apa pun yang terjadi dan apa yang ada di dalam diri Arga, akan dia terima dengan ikhlas. Bukannya pasangan suami istri itu harus menerima segala kekurangan dan kelebihan yang ada pada pasangannya.


***

__ADS_1


Apakah hubungan Marsha dan Arga mendingin atau malah lebih menghangat? Ikuti terus kisah mereka, ya!


__ADS_2