
Bab 159
Shinta dan Dewi duduk berhadapan di ruang tamu. Wanita berjilbab itu sedang menunggu kedatangan suaminya yang baru saja ditelepon.
"Rama ada di mana?" tanya Shinta dengan tatapan sinis.
"Bukannya tadi sudah aku bilang kalau Mas Rama sedang berada di rumah sakit," jawab Dewi yang menatapnya tajam.
"Iya, aku tahu dia sedang berada di rumah sakit. Setiap rumah sakit itu pasti ada namanya. Dasar bodoh, begitu saja tidak mengerti," ujar wanita ber-make up full.
Dewi menyunggingkan senyum mengejek. Menurut dia, orang yang duduk di depannya 'lah orang bodoh. Dia tanya orang, ya, itu jawabannya.
"Tunggu saja Mas Rama pulang. Saat ini keberadaan Safira sedang disembunyikan dari para wartawan atau siapa pun yang tidak ada kepentingan dengannya," balas ibu dua anak itu.
Baru saja sepuluh menit berlalu, Shinta sudah tidak sabar menunggu kedatangan Rama. Apa lagi ini hari sudah tengah malam. Dia ingin beristirahat dan tidur. Laki-laki yang ikut bersama dengannya pun sudah merasa ngantuk dan memintanya untuk pergi ke hotel dahulu.
"Kenapa mantan suamimu itu belum juga datang? Seberapa jauh rumah sakit itu?" tanya laki-laki bertampang bule.
"Lumayan jauh karena ada di pinggiran kota. Kalian tahu sendiri kalau jalanan di Jakarta itu suka macet," jawab Dewi.
"Jika Rama belum muncul setelah setengah jam, kita susul saja dia ke rumah sakit. Aku minta alamatnya." Suami Shinta itu terlihat mulai kesal.
Ternyata Dokter Rama sudah ditunggu selama 30 menit, belum juga pulang. Akhirnya Shinta pergi menuju ke rumah sakit setelah memaksa dan mengancam Dewi. Dia merasa kalau mantan suaminya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Karena saat dia hubungi, nomornya kembali tidak aktif.
***
__ADS_1
Di waktu yang bersamaan, Alfarizi dan Alvin mendatangi sebuah pondok pesantren yang jaraknya sekitar lima kilometer dari rumah sakit. Jarak yang dekat di tambah jalanan lenggang karena hari sudah malam. Namun, mereka kesulitan saat mengutarakan maksud kedatangan ke sana dan meminta salah seorang kyai untuk menikahkan Alva dan Safira.
Hampir lima belas menit mereka menunggu di pintu gerbang, baru bisa masuk untuk menemui orang yang di maksud. Ternyata, Pak Kyai tidak langsung menemui mereka, baru setelah sepuluh menitan orang itu menemui Alfarizi dan Alvin.
"Tadi, saya baru mendengar maksud kedatangan kalian ke sini. Memangnya siapa yang akan menikah?" tanya Kyai Saleh.
"Teman kami, Pak Kyai. Saat ini calon istrinya sedang koma. Sebelum kejadian naas itu menimpa dirinya, dia ingin menikah dengan teman kami itu," jawab Alfarizi dengan sopan.
Alfarizi menceritakan singkat kejadian yang baru menimpa Safira. Kyai itu mendengarkan dengan seksama. Karena merasa kasihan setelah mendengar kisah Alva dan Safira, Kyai Saleh setuju ikut dengan kedua pemuda itu.
"Apa semua persiapan sudah disediakan? Seperti mahar dan saksi?" tanya Kyai Saleh.
"Insya Allah sudah ada, Pak Kyai," jawab Alfarizi.
***
Mata Alva terbelalak saat melihat Shinta dan suaminya datang bersama kedua orang tuanya. Sementara itu, dirinya belum menikah dengan Safira seperti yang sudah dia rencana tadi.
"Fira!" Shinta berlari menghambur memeluk tubuh Safira.
Dokter Rama ingin menarik Shinta agar tidak memeluk Safira terlalu erat. Namun, George menghalanginya. Laki-laki bertampang bule itu menatap dia dengan tajam.
"Assalamualaikum. Kita sudah bawa–"
Pintu terbuka dan menampilkan sosok Alfarizi dan Alvin yang datang bersama Kyai Saleh. Wajah kedua pemuda itu menegang karena melihat ada seorang wanita yang menangis sambil memeluk tubuh Safira dan laki-laki bule bertubuh tinggi besar. Keduanya yakin kalau itu adalah mama dan papa tirinya Safira.
__ADS_1
"Gawat. Sepertinya pernikahan ini tidak akan terjadi," bisik Alvin kepada Alfarizi.
"Benar. Lihat saja mukanya Alva sudah tidak bersemangat begitu," balas pemuda yang bertubuh lebih tinggi.
"Ya. Lebih tepatnya terlihat kaku dan rahangnya mengeras. Eh, kedua tangan dia terkepal kuat," lanjut Alvin masih berbisik.
Kyai Saleh terdiam melihat adegan di depan matanya. Di dalam hati dia mendoakan kesembuhan untuk Safira. Dia merasa iba melihat gadis yang sedang berbaring di atas ranjang pasien.
"Maaf, permisi. Siapa yang akan dinikahkan malam ini?" tanya Kyai Saleh karena semua malah terdiam.
Mendengar itu sontak saja Shinta menegakkan badannya. Dia berbalik lalu menatap tajam kepada Dokter Rama berganti ke Kyai Saleh. Terlihat sekali kalau wanita itu tidak suka mendengarkan perkataan barusan.
"Apa maksudnya?" tanya Shinta dengan nyalang.
"Safira meminta pernikahan dengan Alva di percepat," jawab Dokter Rama dengan tegas.
"Tidak. Aku tidak mau putriku menikah dengan anak haram itu!" bentak Shinta dengan mata melotot sambil menunjuk kepada Alva.
Alfarizi dan Alvin tidak tahu tentang Alva yang lahir karena hamil di luar nikah. Kedua pemuda itu saling beradu pandang, lalu melihat ke arah Alva.
Marsha dan Arga merasa sakit hati mendengar putra sulung mereka disebut anak haram. Shinta mengatakan itu untuk menghina dan merendahkan Alva. Sejak dahulu wanita ini memang tidak suka kepada Alva. Makanya dia mencari cara agar Safira dan Alva tidak bisa bersama. Dia juga sudah merencanakan untuk menjodohkan Safira dengan anak rekan bisnis George.
"Diam kau Shinta! Aku akan tetap menikahkan Safira dengan Alva, apa pun yang terjadi. Ini keinginan dan impian dalam hidup dia," tukas Dokter Rama dengan menahan amarah.
***
__ADS_1
Akankah Alva bisa menikahi Safira? ikuti terus kisah mereka, ya!