
Bab 84
Tawa Marsha langsung terdengar begitu melihat rekaman video saat Arga memakaikan baju Alva dan bayi itu buang air kecil mancur ke tubuh ayahnya. Saat sedang membersihkan ruang keluarga tadi, tanpa sengaja wanita itu melihat ada laptop milik Arga yang disimpan di bufet.
Niatnya Marsha ingin melihat foto-foto dan video yang pernah mereka buat dahulu. Ternyata ada satu file yang diberi nama "MY SON". Tangannya langsung klik bagian itu karena penasaran dengan isinya. Isinya banyak sekali, lebih dari seribu video. Maka dia klik lagi secara acak.
Air mata Marsha bercucuran saat melihat Alva yang masih bayi merah diurus oleh Arga. Laki-laki itu begitu telaten saat memandikan, memakaikan baju, menggendong sambil meninabobokan anaknya. Satu persatu video itu diputar olehnya. Kali ini secara berurutan mulai dari video pertama di mana tertera tanggal tiga hari setelah kelahiran Alva. Di mana Arga belajar menggendong bayi kepada ibunya. Memberikan susu dengan dot sambil bersholawat seperti yang sering dilakukan oleh kedua ibu mereka.
Tidak terasa sudah satu setengah jam Marsha melihat beberapa video yang berisikan keseharian Arga dan Alva. Kegiatan itu direkam saat sang suami sedang tidak menunggui dirinya di rumah sakit. Dengan melihat video ini, wanita itu bisa tahu tumbuh berkembang Alva dari bayi. Selain itu dia berasa ikut melihat perkembangan putranya dari waktu ke waktu.
Tertawa, menangis, cemas, senang, semua perasaan itu muncul silih berganti saat Marsha menonton video-video itu. Arga membuat rekaman itu memang sengaja dia buat untuk Marsha. Laki-laki itu berharap kalau istrinya bisa melihat tumbuh kembang anaknya dari hari ke hari.
"Sedang lihat apa? Serius sekali," tanya Arga lalu mencium pucuk kepala sang istri.
"Kok, sudah pulang?" Marsha tanya balik.
"Ingin makan siang bersama istri dan anakku," jawab Arga sambil mendekati Marsha setelah meletakan paper bag berisi makanan dari rumah makan padang di meja.
"Aku melihat video-video Mas dan Alva yang masih bayi," jawab Marsha setelah mencium tangan suaminya.
"Dulu, aku belum sempat memperlihatkan video-video ini sama kamu, Sayang. Padahal aku sengaja membuat video itu untuk istriku tercinta agar tahu seperti apa anak kita bisa tumbuh," tutur Arga.
"Terima kasih, Mas," ucap Marsha mereka saling beradu pandang.
__ADS_1
Arga memajukan wajahnya dan meraih bibir ranum milik Marsha. Keduanya berciuman dengan lembut awalnya. Namun, lama kelamaan, ciuman itu beruang menjadi ciuman mesra.
"Ayah kenapa gigit mulut Bunda?" tanya Alva yang berjalan ke arah kedua orang tuanya.
Arga dan Marsha langsung memisahkan diri. Muka kedua orang dewasa itu kini merah padam. Betapa malunya mereka kepergok sang buah hati sedang bermesraan.
"Eh, i–tu …." Arga hanya menggaruk pipinya, bingung mau jawab apa.
Marsha tidak tahu kalau anaknya sudah bangun tidur. Bahkan suara pintu dibuka pun dia tidak mendengarnya. Saking asyiknya dia bermesraan dengan sang suami.
"Alva jagoan bangun tidur sendiri. Yuk, kita makan sama Ayah dan Bunda!" ajak Marsha mencoba mengalihkan perhatian putranya agar tidak menanyakan ciuman mereka tadi.
Ketiganya makan siang siang bersama. Alva sekarang sudah fasih dalam membaca doa sebelum makan. Arga dan Marsha tersenyum bahagia saat sang buah hati dengan suara nyaring melafalkan bacaan doanya.
***
"Apa sebaiknya kita cek kesuburan ke dokter?" tanya Arga dengan lirih.
Marsha yang duduk di pangkuan Arga hanya bisa mengerutkan kening. Dia tidak mengerti kenapa suaminya punya pikiran seperti itu.
"Kenapa harus dicek?" tanya Marsha balik.
Arga menarik napas dalam-dalam. Jujur ada rasa sesak di dadanya jika memikirkan hal ini. Dia selalu berpikir kalau kesehatan dirinya bermasalah.
__ADS_1
"Karena aku belum juga bisa membuat kamu hamil," jawab Arga yang merasa frustrasi.
Sorot mata Arga sarat akan kesedihan. Tentu saja sebagai laki-laki normal dia ingin bisa menghasilkan keturunan dari benihnya.
"Kita baru menikah tiga bulan, jadi kita nikmati waktu masa-masa pengantin baru," ucap Marsha sambil menangkup wajah suaminya.
Arga ingin bilang kenapa dirinya tidak mampu membuat Marsha langsung hamil. Sementara dahulu Sakti bisa membuat wanita itu mengandung benihnya dengan sekali melakukan hubungan badan.
"Kita ambil sisi positifnya saja, Mas. Saat ini kita bisa menikmati masa-masa berpacaran," lanjut Marisa dengan berbisik mesra.
"Jangan menggoda aku, Sayang! Saat ini kamu masih datang bulan, aku tidak bisa menyentuhmu," ucap Arga memberikan peringatan kepada sang istri.
Marsha malah tersenyum menggoda kepada suaminya. Kerlingan mata wanita itu terlihat menggemaskan di mata Arga.
"Aku sudah suci, Mas," bisik Marsha
Ucapan sang istri membuat Arga melongo, lalu tanpa ba-bi-bu dia pun langsung menyerang Marsha tanpa ampun. Karena sudah enam hari dia menahan diri akan godaan sang istri selama ini.
***
Apakah ada masalah dengan kesuburan di antara keduanya? Ikuti kisah mereka selanjutnya, ya!
Kalau agak kacau ceritanya maaf, ya. Aku sudah ngetik ini sampai 4x karena ketiduran melulu dan naskah jadi kacau.
__ADS_1