Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 144. Penyelamatan Para Korban


__ADS_3

Bab 144


Club ABC sudah dikepung oleh ratusan anggota polisi. Semua pintu juga dijaga agar tidak ada yang bisa kabur dari pemeriksaan. 


Orang-orang yang sedang bersenang-senang di dalam club terkejut dengan kedatangan banyak polisi. Mereka yang sedang berjoget juga sampai berhenti saat aparat menanyai dan memeriksa mereka.


"Jangan bergerak!"


Pengunjung yang sedang bersenang-senang di ruang VVIP sangat terkejut dengan penggerebekan mereka. Sungguh tidak ada pemberitahuan atau bocoran akan adanya sidak dari polisi ke tempat itu.


"Mohon kerja samanya. Untuk diam di tempat masing-masing," kata laki-laki berseragam polisi.


Para wanita yang berada di dalam pengawasan Leonard juga terkejut dengan kejadian ini. Termasuk Sarah yang tidak menyangka kalau pesan ke Alva benar-benar dipercayainya, bahkan mendatangkan jumlah personil tidak terhitung oleh jarinya.


Semua digelandang dan disuruh untuk menjalani tes urin. Para wanita penghibur sengaja di pisahkan ke ruangan tertentu. 


Manajer Club ABC juga dimintai keterangan oleh pihak kepolisian. Wajah orang itu terlihat terkejut dengan kedatangan polisi yang berjumlah banyak. Dia yakin kalau ada yang memberikan laporan buruk sehingga polisi mendadak datang seperti ini.


"Kenapa kalian datang secara tiba-tiba seperti ini?" tanya sang manajer dengan gugup.


"Kami menerima laporan kalau ada beberapa perempuan yang dinyatakan hilang oleh keluarganya berada di sini sekarang ini," jawab salah seorang polisi.


Wajah laki-laki berjas hitam itu semakin pucat dan berkeringat dingin. Dia yang sudah lama kerja sama dengan Leonard tentu saja tahu apa dan siapa yang dibicarakan oleh polisi ini.


Kali ini sang manajer tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan dia tidak diizinkan menyentuh ponselnya. Dia tidak akan bisa memberikan informasi apa yang sedang terjadi di Club saat ini.

__ADS_1


Leonard dan Fery diam-diam bersembunyi di sebuah lemari di ruangan VVIP saat semua orang panik. Keduanya berharap tidak tertangkap oleh aparat. 


"Si*al! Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa tidak ada yang memberi tahu aku kalau akan ada penggerebekan," kata Leonard mengumpat marah.


Fery juga merasa ada sesuatu yang janggal hari ini. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini, yang jelas tadi dirinya ditarik oleh Leonard untuk bersembunyi. Biasanya dia akan diberi tahu kalau ada sidak atau penggerebekan dari kenalannya yang seorang polisi. Namun, hari ini dia tidak diberi tahu.


***


Para wanita yang tadi disuruh menemani para lelaki hidung belang itu langsung diamankan oleh polisi dan dibawa ke tempat penampungan yang akan diawasi oleh dinas sosial.


Kedua polisi wanita itu menenangkan para gadis yang merasa ketakutan akan di penjara. Sebagian dari mereka ada yang pasrah, itu terlihat sekali dari pancaran mata mereka.


"Mohon isi data diri kalian dengan jelas. Karena ada beberapa orang tua yang mencari keberadaan anaknya yang hilang saat pergi ke Jakarta untuk bekerja. Jadi, nanti kami akan menghubungi mereka dan memberi tahu keberadaan kalian di sini," ucap polisi wanita itu sambil menyerahkan selembar kertas kepada semua wanita yang ada di sana.


Alva dan Alfarizi yang ikut mengamankan para korban penipuan ini merasa senang dari ketiga puluh orang itu semua dalam keadaan selamat. Ternyata kalung yang biasanya terpasang, akan mereka buka saat pergi untuk melayani tamu.


Mereka pun mencari perempuan bernama Sarah.  Berharap ada di antara para perempuan yang kini sedang menulis tentang identitas dirinya.


"Apa di antara kalian ada yang bernama Sarah?" tanya Alfarizi.


Beberapa orang perempuan mengalihkan perhatiannya kepada Alfarizi. Laki-laki muda dan tampan membuat mereka yang di sana langsung heboh karena ada lelaki tampan yang mencari keberadaan kenalan mereka.


Sarah yang merasa namanya disebut langsung berdiri sambil mengacungkan tangannya. Dia merasa gugup saat beradu pandang dengan Alfarizi yang dia kira adalah Alva.


"Saya, Sarah."

__ADS_1


Alfarizi tersenyum sambil melambaikan tangannya meminta Sarah mendekat. Perempuan itu akhirnya menghampiri dirinya.


"Senang bisa bertemu dengan kamu. Terima kasih sudah membantu kami," ucap Alfarizi dengan pelan.


"Gimana? Apa sudah ketemu?" tanya Alva yang baru masuk ke dalam ruangan itu.


Sarah dan Alva beradu pandang sejenak. Seperti biasa laki-laki muda itu selalu terkesan cuek kepada kaum perempuan. Padahal dia hanya sedang menjaga diri.


"Ini Sarah," jawab Alfarizi.


"Senang bisa bertemu dengan kamu, Sarah. Syukurlah kamu baik-baik saja," kata Alva kepada Sarah. Senyum tipis tersungging di bibir Alva dan itu membuat Sarah tersipu malu.


"Kedua orang tuamu sedang dalam perjalanan kemari semoga kalian bisa segera berkumpul kembali," kata Alfarizi.


***


"Polisi. Jangan bergerak!" teriak laki-laki berseragam warna cokelat muda.


"Angkat tangan kalian!" Beberapa polisi bersenjata datang sambil mengarahkan pistol kepada laki-laki yang sedang duduk sambil main kartu.


Orang-orang itu terkejut lalu mengangakan kedua tangan mereka. Mereka sudah tidak bisa kabur kemana-mana lagi.


Rumah yang dijadikan untuk menyekap para gadis juga sudah dikepung dan digerebek oleh polisi. Ada beberapa pekerja di sana yang langsung ditahan dan dimintai keterangan.


Sementara itu, para perempuan yang ada di kamarnya masing-masing sedang diupayakan agar bisa terlepas dari kalung boooom itu. Para polisi bingung cara melepaskan kalungnya karena tidak ditemukan kuncinya. Para pekerja juga tidak tahu tentang keberadaan kunci itu.

__ADS_1


***



__ADS_2