
Bab 142
Alva bertemu dengan tiga orang polisi laki-laki dan dua polisi wanita. Meski ini diluar perkiraan dia, tetapi pertemuan ini membuat mereka berpikir keras dan akhirnya dibuat keputusan kalau kelima polisi itu akan menyamar ke Club ABC nanti malam.
Alva, Alfarizi, dan Alvin tidak mau masuk ke tempat seperti itu. Mereka bertiga memutuskan untuk mengawasi area di sekitar Club ABC. Alva dan Alfarizi di satu mobil sedangkan Alvin dengan motor gede miliknya. Mereka akan mengawasi dan berjaga di titik yang berbeda.
Ada waktu beberapa jam lagi ke waktu perjanjian, Alva menghabiskan waktu bersama Alfi dan Safira di taman apartemen. Sementara itu, Arshy sedang ada jadwal kuliah. Mereka terlihat seperti pasangan muda yang harmonis.
Alva menjahili Alfi dengan menggelitik telapak kakinya sehingga bayi itu terus tertawa. Tentu saja Safira kesal karena nanti malam Alfi akan rewel jika siang harinya kelelahan bermain.
"Alva, sudah kasihan Alfi. Lihat, tuh! Mukanya kini berubah merah karena tertawa terus," kata Safira sambil memanyunkan bibirnya.
"Tidak apa-apa. Alfi sangat senang, tuh!" balas Alva sambil tersenyum jahil.
Orang-orang di sana sudah tahu kepada Alva dan Safira. Bagaimana hubungan keluarga mereka, bahkan mereka mengira kalau keduanya sudah menikah dan Alfi adalah anak mereka.
Safira yang kesal, akhirnya membawa Alfi ke pangkuannya. Dia memberikan mainan bayi agar dimainkan olehnya.
"Bagaimana keadaan Mutiara sekarang?" tanya Alva sambil memainkan tangan Alfi.
__ADS_1
"Sekarang keluarganya merasa agak tenang setelah tahu kita sedang berusaha menolong mereka. Sungguh, sangat miris sekali kehidupan mereka berada di bawah tekanan. Tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa," jawab Safira.
"Ternyata mereka benar-benar mengawasi Mutiara saat berada di luar rumah. Di kampus saja kami mendapatkan teror dari mereka. Aku sampai berpikir apa mereka itu sudah tidak punya hati dan perasaan. Hari ini kita kejutkan dengan gambar foto adiknya Mutiara yang dilumuri tinta merah. Maksudnya adalah jangan macam-macam jika tidak ingin sesuatu terjadi kepada ada asiknya itu.
***
Sementara itu, Mutiara dan keluarganya yang sedang berada di rumah. Rasanya Mutiara ingin memberontak dan melawan mereka. Sudah hampir empat bulan, mereka berada dalam pengawasan dan tekanan. Gadis itu harus menjadi seorang perawat dan juru masak di rumahnya.
Mutiara tidak bisa berbuat banyak saat ibunya jatuh sakit, Leonard malah mengancamnya dengan mengacungkan pistol ke arah mereka. Jika sakit mereka akan memberikan obat yang dibeli di apotek.
Ada beberapa CCTV yang terpasang di rumah Mutiara, sehingga Alva memberikan ide untuk berkomunikasi dengan warga meski secara diam-diam. Dia menulis lewat selembar kertas nasi bekas dan menggunakan kecap untuk dijadikan tinga tulisannya. Gadis itu mencari titik buta yang tidak terekam oleh kamera CCTV.
Pak RT/Pak RW, tolong kami! Kami sedang disekap oleh para penjahat, sehingga tidak bisa berbuat apa.
Mutiara bimbang kapan memberikan kertas berisi pesan itu. Karena saat ini Alva atau polisi sedang memikirkan cara melepaskan kalung di lehernya.
'Kata Safira, mereka akan mencari cara melepaskan kalung ini? Tapi, sampai kapan, ya?' batin Mutiara.
***
__ADS_1
"Jangan sampai rencana malam ini gagal. Banyak langganan yang memesan," kata Fery sedang berkumpul bersama beberapa orang. Salah satu di antara mereka ada Leonard.
"Apakah tidak ada gadis baru lagi yang datang?" tanya Leonard.
"Tidak ada, Tuan. Sepertinya kabar hilangnya para gadis yang pergi ke kota untuk bekerja sudah tersebar luas, sehingga tidak ada lagi yang tertarik untuk bekerja di jasa yang kita tawarkan itu," jawab laki-laki paruh baya.
Leonard manggut-manggut, uang yang dia hasilkan dari usahanya ini bisa memberikan banyak pendapatan baginya. Sudah puluhan miliar yang dia dapat dari bisnis ini dalam kurun waktu lima tahun. Dia hanya perlu memberi makan dan tempat untuk gadis-gadis itu. Jika ada yang berani melawan dia akan memberikan hukuman.
"Sebaiknya kita perluas lagi jaringan lowongan kerja ke pulau sebrang," ucap Fery memberikan sebuah ide.
"Benar juga," balas Leonard sambil tersenyum lebar.
Jika di tempat ini sudah tidak ada lagi mangsa, maka cari ke tempat lainnya. Dia percaya dengan iming-iming gaji besar pasti akan banyak gadis muda yang tertarik.
"Lakukan perekrutan calon tenaga kerja ke beberapa luar pulau. Aku ingin sekarang juga kamu membuka pengumuman lowongan kerja!" perintah Leonard.
Orang yang menjadi bawahan Leonard pun mematuhi perintah tuannya. Dia segera keluar dari ruangan itu untuk menjalankan tugasnya.
***
__ADS_1