
Bab 74
Perhatian Ayu terpecahkan oleh suara pesan yang masuk ke handphone miliknya. Lalu, dia segera membuka pesan yang dikirim oleh suaminya. Betapa terkejutnya dia saat membaca pesan yang meminta Arga secepatnya datang ke rumah sakit karena Marsha dalam bahaya.
"Arga, sebaiknya kamu cepat pergi ke rumah sakit. Marsha dalam bahaya!" pekik Ayu tanpa sadar.
"Maksud Ibu, apa?" tanya Arga yang langsung berdiri dari samping ranjang.
Laki-laki itu sedang memijat kaki neneknya agar cepat sadar. Dia sangat terkejut saat mendengar ucapan wanita yang sudah melahirkan dirinya.
"Ayah sedang berada di rumah sakit saat ini. Ibu juga tidak tahu maksud ayahmu mengirimkan pesan seperti ini barusan," jawab Ayu.
Dewi yang diam menyimak pembicaraan ibu dan anak itu. Dia tidak mau bicara, takut salah nanti malah dijauhi oleh Arga.
Arga membaca pesan dari ayahnya. Mata dia terbelalak dan jantungnya berdetak kencang.
Bu, tolong suruh Arga segera ke rumah sakit. Ini darurat sekali, pelaku ada di rumah sakit tempat Marsha dirawat.
"Bu, Arga pergi dulu." Arga mencium tangan Ayu, berpamitan.
"Iya. Hati-hati di jalan!" balas Ayu memberi peringatan kepada putranya.
Seketika itu juga Arga langsung pergi meninggalkan rumah. Dewi yang melihat itu menjadi sangat penasaran, apa yang sudah terjadi kepada Pakdhe-nya di rumah sakit.
"Pakdhe kenapa, Budhe?" tanya Dewi.
"Dia tidak apa-apa. Hanya minta Arga segera menjemputnya bersama dengan Marsha dan Alva," jawab Ayu.
Wanita paruh baya itu melanjutkan kembali menggosokkan minyak kayu putih ke dada ibu mertuanya. Dia berharap kalau neneknya Arga ini mau kembali menerima Marsha sebagai cucu menantu.
'Bukannya tadi bilang kalau Marsha sedang dalam bahaya?' batin Dewi.
__ADS_1
'Huh, wanita itu selalu saja bikin ulah dan membuat Mas Arga kesusahan,' lanjut Dewi.
***
Arga mengendarai mobil kali ini. Dia akan menjemput Marsha dan Alva. Dalam hatinya laki-laki itu terus berdoa untuk keselamatan calon istri dan putranya. Untungnya di jalan kota madya tidak macet sehingga dia bisa dengan cepat sampai ke rumah sakit.
Tempat yang Arga tuju adalah ruang rawat Marsha. Dia ingin memastikan dahulu keadaannya. Begitu sampai di sana sudah ada Barata dan Bagas. Keduanya sedang berbicara dengan dokter.
"Pak Barata akan membawa Marsha dan Alva pulang ke rumah. Arga kamu ikut bersama aku!" titah Bagas.
Arga yang sedang menggendong Alva pun mengangguk. Dia tahu apa yang akan mereka lakukan.
"Alva pulang sama Opa dan Nenek, ya," ucap Alva sambil menciumi pipi gembul putranya.
"Tidak mau ke rumah Opa," kata Alva protes.
Bocah itu ingat kalau ibunya menangis setelah pulang dari rumah opa dan oma-nya, kemarin. Alva selalu ikut sedih saat melihat ibunya menangis, seakan tali ikatan batin keduanya terhubung kuat.
Arga menatap Marsha dengan intens. Masih terlihat garis ketakutan dan kesedihan di wajah cantiknya.
"Semua akan baik-baik saja. Aku akan segera menyelesaikan semua urusan di sini dan pulang ke rumah Ayah Bagas," ucap Arga berbisik.
"Aku takut terjadi sesuatu kepadamu, Kak," balas Marsha dengan lirih.
Tadi Marsha sempat mendengar kalau Gunawan mengalami luka karena ingin menolong dirinya kemarin. Dia yakin kalau penjahat itu sangat kuat.
"Yakinlah kalau Allah akan selalu bersama kita dan menolong kita. Aku ingin pelaku yang sudah menculik kamu segera di tangkap. Aku ingin tahu apa motif dia dengan menculik kamu," pungkas Arga masih dengan suaranya yang lembut.
"Aku takut sekali," bisik Marsha dengan tubuh yang kembali bergetar.
Wanita itu sempat membayangkan kalau dirinya diculik itu untuk dijual. Saat ini sedang marak berita tentang perdagangan manusia.
__ADS_1
Arga yang melihat keadaan Marsha langsung memeluknya. Dia tidak mau kalau wanita itu mengalami depresi pasca penculikan.
Bagas hendak menegur Alva, tetapi Indah melarangnya. Saat ini Marsha sangat membutuhkan kehadiran Arga.
"Jangan takut, ada aku, ayah, ibu, dan keluarga besar kita. Semua akan menjaga dan melindungi kamu, Marsha. Jangan lupa juga ada Allah. Bukannya kamu sering bilang kepadaku, kalau kita tidak sendirian, ada Allah selalu bersama dengan kita," tutur Arga dan Marsha membenarkan hal itu.
Wanita itu melepaskan pelukannya seraya berkata, "Kenapa kita berpelukan? Kita belum halal."
"Ayah, aku ingin menikah dengan Marsha sekarang! Tidak apa-apa cuma ijab qobul, nanti resepsi menyusul sambil penandatanganan surat-surat nikah dari KUA," pinta Arga dan mendapat pelototan dari Bagas.
Barata hanya tertawa kecil. Dia ingat kisah dirinya dengan Ayu dahulu yang meminta mertuanya langsung menikahkan mereka. Karena ada pemuda lain yang datang bersama keluarganya untuk meminang Ayu. Padahal keduanya baru kenal sekitar tiga bulanan.
"Tidak ada nikah siri!" ucap Bagas dengan tegas dan tatapan mata yang tajam.
Marsha juga entah kenapa di dalam hatinya ingin segera menghalalkan hubungannya dengan Arga. Muka dia menjadi merah merona saat mendengar bisikan Arga di telinganya.
"Ayo, rayu ayah! Aku ingin bisa menjaga dirimu siang dan malam. Dan bebas menyentuhmu, tanpa takut dosa."
Marsha mencubit perut Arga saking malunya. Hati kecilnya juga menginginkan hal yang sama.
"Ayah …." Marsha kali ini melihat ke arah Bagas dengan tatapan memohon.
Melihat putrinya seperti itu, Bagas mana bisa menolak. Dia selalu saja menuruti kemauan anak semata wayangnya ini.
"Jika semua masalah ini selesai dan semua penjahat ketangkap … kalian boleh menikah. Tapi, aku tidak mau perayaan resepsi yang besar-besaran seperti dahulu. Malu tahu saat ditanya kenapa kalian bercerai. Apalagi sekarang kalian malah akan menikah lagi," ujar Bagas bersungut-sungut karena kesal sekali.
Senyum lebar Arga dan Marsha langsung terukir di wajah keduanya. Mereka berharap pernikahan itu bisa segera terwujud tanpa menunggu lima bulan lagi. Kedua sejoli itu saling melirik dan melempar senyum kebahagiaan.
***
Akankah Arga berhasil menangkap si pelaku dan bisa segera menikah dengan Marsha? Bagaimana dengan reaksi Eyang Sari? Ikuti terus kisah mereka, ya!
__ADS_1