Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 152. Meminta Bantuan


__ADS_3

Bab 152


Alva berkeliling mencari keberadaan Safira. Ketika dia menuju ke rumah Mutiara dipertengahan jalan ada mobil milik gadis itu dalam keadaan rusak. Laki-laki itu langsung memeriksa keadaan kendaraan itu. Betapa terkejutnya dia saat keberadaan gadis itu tidak ada di dalamnya.


Pintu mobil tidak terkunci, lalu Alva memeriksa di dalam itu ada tas milik Safira dan Mutiara. Kini dia yakin kalau ada orang yang sudah mencelakai mereka.


"Ya Allah, lindungi dan selamatkan Safira dan Mutiara di mana pun mereka berada," ucap Alva bergumam.


Laki-laki itu memeriksa kamera yang terpasang di mobil itu. Bola mata Alva terbelalak saat melihat orang yang sudah menculik kedua gadis itu adalah Leonard dan Fery. Langsung saja dia menghubungi polisi dan melaporkan apa yang sudah terjadi kepada Safira dan Mutiara. Dia juga meminta bantuan untuk melacak kedua penjahat itu di beberapa tempat tinggal milik mereka atau rumah sakit. Pemuda itu menduga kalau Safira dan Mutiara dalam keadaan terluka dan harus mendapatkan perawatan.


Mau tidak mau Alva menghubungi Dokter Rama. Walau dia harus bertanggung jawab atas penculikan Safira ini, tidak apa-apa. Bagi dia yang terpenting sekarang adalah keselamatan gadis itu.


"Pa, maaf sudah mengganggu. Ada kabar yang tidak mengenakkan terjadi kepada Safira," kata Alva setelah menjawab salam dari Dokter Rama.


"Kenapa Safira?" tanya laki-laki paruh baya itu di sebrang.


"Sebenarnya Safira sudah diculik oleh Leonard dan Fery," jawab Alva dengan suaranya yang bergetar.


"Apa? Bagaimana itu terjadi?" teriak Dokter Rama.


Berita tentang Leonard dan Fery memang masih menjadi breaking news di media elektronik atau media sosial, maupun cetak. Semua orang tahu siapa kedua orang ini dan apa kejahatan mereka.


"Safira tadi pulang dari kampus dan mengantarkan Mutiara pulang. Tetapi, di jalan mereka di culik oleh Leonard dan Fery. Alva sudah meminta bantuan kepada polisi untuk melacak keberadaan mereka," balas Alva dengan pelan karena dia merasa bersalah tidak mengawasi kekasihnya itu.

__ADS_1


"Papa akan ikut mencari," ucap Dokter Rama.


"Itu ... sebenarnya, Safira dan Mutiara mengalami luka. Aku menduga ada dua kemungkinan tentang keberadaan Safira dan Mutiara saat ini. Pertama, mereka berada di rumah sakit atau kedua mereka berada di salah satu tempat milik Leonard atau Fery untuk bersembunyi. Jika mereka menyekap Safira dan Mutiara di gedung kosong atau gudang yang terbengkalai, akan terlalu beresiko untuk mereka," jelas Alva.


Tidak terdengar suara Dokter Rama di sebrang sana. Ini tentu saja membuat Alva merasa calon mertuanya itu dalam keadaan marah.


"Papa akan hubungi semua rumah sakit yang ada di kota ini. Mau itu rumah sakit swasta atau negeri, rumah sakit besar atau kecil, bahkan klinik sekalipun. Setidaknya dengan ini kita akan tahu apa Safira dibawa ke rumah sakit atau tidak," kata laki-laki paruh baya itu.


"Terima kasih, Pa. Semoga kita segera bisa menemukan keberadaan Safira," ucap Alva.


Tepat setelah Alva menghubungi Dokter Rama, datang mobil polisi dan ada dua orang yang turun. Mereka memeriksa TKP dan mencari petunjuk tentang kejahatan ini.


"Beberapa orang polisi sudah ditugaskan oleh kepala polisi untuk mencari keberadaan Leonard dan Fery di beberapa rumah milik mereka," kata salah seorang polisi.


Mendengar ini tetap hati dan pikiran Alva masih merasa belum tenang. Dia akan merasa tenang jika sudah memastikan dengan mata kepala sendiri keberadaan Safira.


***


Terdengar dering handphone miliknya yang dia simpan di saku celananya. Dokter Rama melihat nama sang istri tertera di layar yang terpasang foto dirinya sekeluarga.


"Assalamualaikum, Sayang. Ada apa?" tanya Dokter Rama setelah menepikan mobilnya.


"Wa'alaikumsalam, Mas. Barusan aku mendapat kabar dari Mbak Marsha kalau Fira menghilang," jawab Dewi dengan panik.

__ADS_1


"Iya. Mas juga sekarang sedang mencari keberadaan Fira dan temannya. Alva tadi menghubungi dan meminta memeriksa data pasien yang yang ada di rumah sakit yang tidak jauh dari mobil Fira ditemukan tadi," ucap laki-laki berkepala lima.


"Apa? Jadi, mobilnya sudah ditemukan! Lalu, bagaimana dengan Fira, Mas?" tanya Dewi semakin panik.


"Kata Alva Fira diculik oleh orang yang sedang jadi buronan polisi. Kamu tahu kasus penjualan manusia dengan modus lowongan kerja? Nah, orang itu yang sudah menculik Fira. Makanya, Sekarang kami semua sedang mencari keberadaan Fira. Polisi juga sudah turun tangan," jawab Dokter Rama.


Dewi malah menangis tergugu, lalu tidak terdengar suara apa-apa lagi setelah bunyi sesuatu yang jatuh. Dokter Rama memanggil nama istrinya beberapa kali, tetapi tidak ada sahutan darinya.


"Astaghfirullah. Apa yang sudah terjadi kepada istriku?" Dokter Rama memutar arah balik menuju ke rumahnya untuk melihat keadaan sang istri.


Begitu masuk ke dalam kamar tidurnya, terlihat Dewi terbaring di lantai dalam keadaan tidak sadarkan diri. Dokter Rama memeriksa keadaannya, lalu menggosoknya dengan minyak telon.


"Sayang, bangun!" Dokter Rama memanggil Dewi sambil membelai kepalanya.


Perlahan Dewi membuka mata, dia langsung memeluk tubuh Dokter Rama sambil menangis. Walupun Safira adalah anak sambungnya, dia begitu menyayangi gadis itu sama seperti anak kandungnya sendiri.


"Mas, aku mohon selamatkan Safira. Jangan sampai dia mengalami seperti para gadis malang itu," kata Dewi dalam Isak tangisannya.


Dewi teringat tadi Safira sempat mengirim pesan kepadanya kalau Shinta akan datang ke Indonesia. Tentu saja dia harus menyiapkan diri untuk menghadapi wanita itu. Mantan istri Dokter Rama itu, memang tidak menyukai dirinya. Makanya, setiap bertemu selalu mengeluarkan kata-kata hinaan dan makian.


'Semoga saja Shinta masih lama pulangnya ke Indonesia. Jangan sampai dia tahu apa yang sudah terjadi sekarang. Aku tidak mau kalau sampai Fira diambil oleh Shinta,' batin Dewi.


***

__ADS_1


Apakah Shinta akan tahu kalau Safira sudah diculik oleh buronan? Ikuti terus kisah mereka, ya!



__ADS_2