Menjadi Ayah Untuk Keponakanku

Menjadi Ayah Untuk Keponakanku
Bab 118. Curiga


__ADS_3

Bab 118


"Pak Muh, kirimkan rekaman CCTV ruang kerjaku!" titah Arga kepada petugas pengawasan ruang kontrol melalui panggilan telepon.


"Baik, Pak," balas Pak Muh di seberang sana.


Arga memeriksa berkas yang kemarin belum dia periksa. Dia menyadari ada satu berkas yang seharusnya ditandatangani olehnya hari ini. Lalu, laki-laki itu menghubungi sekretarisnya untuk menanyakan berkas kerja sama dengan PT.DAMAI.


"Kenapa?" tanya Pandu yang baru masuk ke ruang Arga.


"Ada yang masuk dan membuat kekacauan di sini," jawab Arga.


"Ada satu berkas hilang," lanjut Arga dengan gusar.


"Berkas apa yang hilang?" tanya Pandu ikutan panik.


"Kerja sama dengan PT.DAMAI yang katanya akan kita perpanjang sampai tahun depan," jawab Arga yang masih memasang raut kesal.


Terlihat Pandu menyeringai. Tentu saja ini membuat Arga curiga. Laki-laki itu menatap tajam kepada sahabatnya yang diyakini ada keterlibatannya dengan ini.


"Berkasnya ada di ruangan aku," ucap Pandu masih menampilkan seringai jahil.


Arga langsung berdiri dari tempat duduknya dan hendak memukul temannya ini karena sudah membuat panik. Kedua laki-laki dewasa itu malah saling berkejaran di ruangan itu. Suami Marsha yang moodnya mudah berubah efek sindrom simpatik karena kehamilan sang istri. Tentu saja dia kesal dan ini memberi pelajaran kepada Pandu.


"Jangan lari kau!"

__ADS_1


"Tidak mau! Nanti kamu akan pukul aku."


"Kenapa ambil diam-diam dan merusak semua pigura foto milikku?"


"Aku tidak merusak ruang kerja kamu. Aku cuma ambil berkas itu saja karena ada yang mau aku pelajari dahulu."


Tentu saja kedua laki-laki itu jadi merasa ada yang janggal. Pandu berhenti berlari dengan tiba-tiba begitu dekat sofa. Arga yang masih mengejar jadi menubruk tubuh temannya, sehingga keduanya jatuh ke sofa.


"Pak, ini–" sekretaris Agra yang melangkah masuk ke ruangan yang pintunya sudah terbuka sedikit sejak tadi.


Perempuan itu shock melihat pemandangan yang dilihatnya. Arga yang tidak mau sekretaris itu berpikiran macam-macam langsung saja menonjok muka Pandu sambil memarahinya.


"Awas kalau kamu ambil lagi berkas penting secara diam-diam, aku akan memukul kamu lebih dari ini," ucap Arga sambil menyingkir dari atas tubuh Pandu.


Pandu menahan sakit akibat pukulan Arga yang tidak main-main kekuatannya. Sampai rahangnya sakit dan terasa akan lepas.


Belum sempat Arga membalas ucapan Pandu terdengar suara dering telepon. Laki-laki itu pun bergegas mengangkat panggilan itu.


"Pak Arga, rekaman di ruang Bapak sepertinya dimatikan. Tapi, rekaman di lorong dan lift bisa dilihat," ucap karyawan yang bertugas mengawasi keadaan gedung kantor perusahaan keluarga Pandu.


Arga dan Pandu melihat rekaman CCTV yang dikirim oleh Pak Muh. Mereka melihat ada seseorang memakai pakaian hitam-hitam masuk ke lift lalu berjalan di lorong yang menuju ke ruang kerja Arga. Tidak berapa lama kemudian orang itu keluar dengan terburu-buru. Muka orang itu tidak terlihat.


"Mariana? Ngapain dia masuk ke ruang kamu dengan cara seperti itu." Pandu tiba-tiba saja bicara.


Mendengar temannya menyebut nama seseorang yang dia kenal tentu saja Arga langsung meliriknya. Dia mengerutkan kening dengan tatapan penasaran.

__ADS_1


"Mariana? Kamu tahu dia dari mana itu Mariana?" tanya Arga.


"Dari cincin yang dia pakai," jawab Pandu dan itu membuat Arga memutar kembali ke bagian di mana jari tangan orang itu terlihat.


Arga pun langsung menghubungi Mariana. Dia menyuruh untuk segara datang ke ruang kerjanya. Tidak sampai 15 menit wanita itu sudah sampai.


"Ada apa, sih? Aku sampai jatuh dari mobil mendengar suara bentakan kamu!" tanya Mariana yang terlihat menahan sakit sekaligus kesal.


"Aku mau tanya sama kamu, tapi harus di jawab dengan jujur," jawab Arga dengan serius.


Mariana mengedikan bahunya. Wanita itu malah terlihat santai lalu duduk di sofa dekat Pandu.


"Kamu tadi masuk ke sini dan berbuat kekacauan di sini?" tanya Arga to the poin.


"Hah? Aku ini baru saja sampai begitu kamu menghubungi aku tadi. Ya, aku akui kalau masuk ke siangan," jawab Mariana yang terlihat bingung.


"Jawab yang jujur!" teriak Arga.


Pandu dan Mariana tersentak saking terkejutnya. Mereka berdua tahu betapa mengerikannya Arga kalau sedang benar-benar marah. Suaminya Marsha ini memang jarang marah seperti ini.


"Aku sudah jawab dengan jujur. Aku baru saja datang ke sini. Nih, lihat! Tas saja masih aku tenteng," balas Mariana yang tidak terima dengan tuduhan seperti itu.


Pandu dan Arga saling menatap. Keduanya kembali berpikir jika bukan Mariana, lalu siapa?


***

__ADS_1


Benarkah bukan Mariana pelakunya? Ikuti terus kisah mereka, ya!


__ADS_2