
Kenzo dan Alana berjalan menuju kamar mereka, setelah seorang sang Manager hotel memberikan kunci kamar.
"Ayo, masuklah", kata Kenzo saat pintu kamar terbuka lebar.
Alana melangkah masuk. Dan seketika netranya terbeliak kala melihat kamar yang tampak mewah itu.
"Kamarmu di sana!" tunjuk Kenzo pada kamar yang ada di sebelah kanan. Namun Alana tidak memperhatikannya. Mulutnya masih menganga kala mengagumi kamar yang tampak seperti sebuah apartemen itu.
Alana membalikkan badannya. "Kamar saya di mana?" tanyanya dengan tersenyum.
Kenzo tidak menyahutnya. Dia menatap Alana seperti seorang ayah yang sedang memarahi anaknya karena tidak memperhatikan ucapannya.
Alana paham arti tatapan sang suami, dia pun memainkan jari-jari tangannya untuk menutupi rasa takutnya. "Apakah sebelumnya suamiku sudah memberitahuku?"
"Hem..." balas Kenzo dengan berdehem yang membuat Alana semakin gugup. Dia tidak ingin asal menebak kamar yang akan dia tempati saat ini.
"Aku mau minum sebentar", ucapnya seraya berjalan menuju pantry. Sebenarnya itu hanya siasatnya untuk membiarkan Kenzo masuk lebih dulu ke dalam kamarnya.
Dan benar saja, Kenzo mendorong kopernya ke dalam kamar. Setelah Alana tahu di mana kamar Kenzo, dia pun meletakkan gelas yang masih menyisakan setengah itu. Kemudian mendorong kopernya menuju kamar yang tidak di tuju Kenzo.
Alana menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia masih merasa sedikit mengantuk, karena waktu tidurnya berkurang kala membayangkan makan malam bersama Kenzo.
Tok. Tok.
Alana berjalan menuju pintu. "Ya, ada apa suamiku?" tanyanya.
"Apa istriku ingin sekamar denganku?" tanya Kenzo dengan tersenyum.
Alana menggelengkan kepalanya. "Enggak", jawabnya dengan cepat.
"Jadi, kenapa istriku berada di kamar ini?"
"Bukankah tadi suamiku masuk ke dalam kamar sana?" tanya Alana dengan menunjuk kamar yang ada didepannya. Tanpa sadar ucapannya telah membongkar triknya sendiri.
Kenzo menaikkan alisnya. Dia tidak mengalihkan pandangannya dari Alana. "Jadi tadi istriku hanya berpura-pura minum?"
Alana menutup mulutnya. Dia baru sadar dengan apa yang diucapkannya, yang secara tidak langsung sudah memberitahu Kenzo cara dia mengetahui kamarnya. Dia langsung meraih kopernya dan mendorongnya ke kamar yang berseberangan.
"Malunya aku", ucap Alana saat menutup pintu kamarnya. Lalu dia berjalan seraya mendorong kembali kopernya. "Pantes saja dia menyuruhku di kamar yang ini", ucapnya bermonolog kala melihat nuansa kamar yang berwarna pink. Dia pun membuka kopernya lalu memilih pakaian ganti.
__ADS_1
...---...
Kenzo sudah berpakaian rapi layaknya akan pergi ke pertemuan penting. Lalu dia berjalan menuju kamar Alana.
Tok. Tok.
"Istriku..." panggilnya bersamaan dengan mengetuk pintu.
"Iya, sebentar", terdengar suara Alana yang menyahut dari dalam.
Ceklek.
"Ada apa suamiku?" tanya Alana kala pintu terbuka sebagian.
"Aku akan pergi ke pertemuan dengan kolega bisnis. Jadwalnya dimajukan jadi siang ini. Istriku di tinggal sendiri tidak apa-apa kan?"
Alana tersenyum seraya menganggukkan kepala. "Ya, gak apa-apa kok" jawabnya.
"Oke, kalau begitu aku tinggal ya. Sampai jumpa nanti malam." Kenzo melangkahkan kakinya menjauhi Alana, lalu dia berjalan keluar dengan memakai kaca mata hitamnya. Dia berjalan di tuntun oleh Roni yang sudah menunggunya di luar beberapa menit yang lalu.
Sementara Alana berjalan menuju pantry dan membuka lemari pendingin. Netranya berbinar kala melihat cemilan kesukaannya memenuhi isi kulkas. Diraihnya beberapa cemilan dan di bawanya menuju sofa. Dinyalakannya TV seraya duduk dengan menyilangkan kakinya di atas sofa.
Ini nomor suamimu, segera simpan. Nanti ada pelayan yang akan membawakanmu gaun pesta, pakai itu sebelum jam 7 malam ini. Nanti aku akan menjemputmu. Isi pesan dari Kenzo.
Oke, suamiku. Balas Alana dengan tersenyum. Lalu dia menyimpan nomor ponsel Kenzo dengan nama kontak suamiku.
"Dia menyimpan nomorku dengan nama apa, ya?" gumamnya penasaran. Kemudian dia meletakkan kembali ponselnya di atas meja. Mulutnya tidak berhenti menikmati cemilan sambil menonton TV, hingga rasa kantuk menyerang dan dia tertidur di sofa.
Tiba-tiba dia terganggu dengan suara ponsel miliknya. "Siapa sih", ucap suara paraunya. Dia mengucek mataya yang belum terbuka sempurna itu. Namun sesaat kemuduan matanya melotot, kala membaca nama kontak di layar ponselnya. "Diva", ucapnya.
"Halo, Diva", sapa Alana saat dia menggeser tombol hijau itu.
"Halo, Al. Coba tebak aku di mana sekarang?"
Alana yang baru bangun tidur, seakan malas di suruh untuk berfikir. "Di London?" tebaknya asal.
"Kenapa jalan pikiranmu sepolos itu sih?" tanya Diva berdecak kesal. "Maksud aku tempat yang kira-kira di luar dugaanmu."
Alana terdiam sesaat. Otak yang sering dia pakai untuk menyusun neraca keuangan kini di minta untuk menebak keberadaan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Jangan bilang kau juga di Bali!" tebak Alana.
"Apa maksudmu dengan kata juga, Al?"
Alana mendelik seraya menggigit jarinya, tanpa sadar dia telah memberitahu keberadaannya saat ini. "Eh, bukan apa-apa. Aku hanya ingat akan perjanjian kita", kilahnya.
"Jangan bohong, Al! Katakan kalau kau juga sedang di Bali, kan!" Seru Diva hingga suara kerasnya memekakkan telinga Alana.
"Hem, iya. Tapi aku hanya menemani teman satu kelasku di kampus", bohongnya.
"Kalau begitu kita bertemu sekarang!"
"Tidak bisa, Div. Karena sore ini kami pulang", sahut Alana. Lalu dia berlari ke luar dan berdiri di atas balkon. Pikirnya, angin di lantai 5 gedung hotel itu kemungkinan akan membuat suara ribut di telepon.
"Kau di mana sekarang?"
"Aku kurang tahu pastinya. Suaramu putus-putus, Div."
"Tapi aku bisa mendengar suaramu dengan jelas, bahkan melihatmu juga", sahut Diva.
Alana tersentak kaget mendengar perkataan Diva. Dia pun menoleh ke kanan dan kiri. Netranya membulat sempurna kala melihat Diva sedang berdiri di atas balkon kamar hotel yang sama dengan dirinya.
"Alana!" pekik Diva seraya menatap tajam ke arah Alana. "Katakan kau di kamar nomor.berapa?"
Alana bergerak dengan gusar. Ingin rasanya dia memiliki pintu kemana saja, agar Diva tidak bisa menemukannya.
"Alana!" teriak Diva kembali masih dari seberang, karena Alana menggantung teleponnya.
"Sebentar aku keluar", sahutnya, lalu dia buru-buru masuk dan berjalan keluar pintu.
"Hei, Al", panggil Diva saat keluar dari kamarnya. "Oh, ternyata kau tinggal di situ", ucapnya seraya menghampiri Alana. Kemudian dia memutuskan sambungan telepon. "Mana temanmu?"
"Sedang ke luar, membeli souvenir katanya", jawab Alana.
"Owh..." balas Diva dengan manggut-manggut. "Coba saja kau tinggal lebih lama lagi, kita bisa pergi bersama", sesal Dival.
Alana membalas ucapan Diva hanya dengan tersenyum kaku. Dia belum benar-benar siap untuk menceritakan hubungannya dengan Kenzo saat ini.
"Aku mau lihat-lihat kamarmu, dong", pinta Diva yang membuat Alana mendelik.
__ADS_1