Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Berterus terang


__ADS_3

Dengan gugup Alana memegang handle pintu kamarnya dan membukanya. "Lho, kenapa tidak bisa di buka", ucapnya bingung. Tangannya terus bergerak, menekan handle pintu.


"Stop, Al!" tegas Diva. "Berikan kartunya", pintanya yang membuat Alana bingung.


"OMG, jangan bilang kau tidak membawa kartunya ke luar." Diva terbeliak seraya menatap Alana.


Alana mngernyitkan keningnya. "Kartu apaan?" tanyanya.


"Apa ini pertama kalinya kau menginap di hotel?"


Alana manggut-manggut sebagai jawaban.


"Pantes saja", kata Diva seraya menghela nafas berat. "Ya, mau gimana lagi. Kalau begitu aku akan menelepon bagian resepsionis dan meminta mereka membukakannya." Diva berjalan masuk ke dalam kamarnya dan diikuti oleh Alana. Lalu dia menekan nomor resepsionis dan meminta kartu kamar Alana.


Diva terperangah seraya menutup mulut lebarnya. Lalu menatap dengan curiga ke arah Alana. "Jadi temanmu itu tamu spesial hotel ini?" tanya Diva. Dia tidak menyangka sahabatnya itu ternyata dapat bergaul dengan kalangan borjuis.


Alana mengangguk pelan. "Sebenarnya..."


"Sebentar ya", ucap Diva memotong ucapan Alana kala ponselnya berbunyi.


Alana memberi isyarat dengan tangannya pada Diva yang sedang menerima panggilan telepon, bahwa dia akan keluar dari kamar Diva.


Setelah Diva menganggukkan kepalanya, Alana berjalan keluar dan langsung menghubungi Kenzo. Dia tidak mungkin berada di luar kamar atau berlama-lama di kamar Diva sampai malam tiba. Alana beruntung, karena telepon darinya di angkat Kenzo dan mengatakan Roni yang akan mengantarkan kartu kamar padanya.


Tidak berselang lama Roni datang menemui Alana yang masih berdiri di dekat pintu kamar. "Maaf, kalau Nyonya menunggu lama", ucap Roni seraya memberikan kartu kamar.


"Emm, tapi aku tidak tahu cara menggunakannya", kata Alana dengan tersenyum.


Roni pun ikut tersenyum. "Tidak apa-apa, Nyonya. Biar saya ajarkan", sahutnya dengan berjalan ke depan pintu. "Nyonya tinggal tempelkan di sini", lanjutnya mengajari Alana. Lalu terdengar bunyi pintu terbuka. "Nah, sudah terbuka kan", tunjuk Roni saat membuka handle pintu.


Alana tersenyum. Dia merasa malu karena tidak mengetahui hal semudah itu.


"Sekarang kartunya saya bawa ya, Nyonya. Kartu Nyonya ada di sini", tunjuknya pada kartu yang menempel pada kotak sensor. "Kalau Nyonya mau keluar lagi, jangan lupa kartunya di ambil dulu, setelah itu Nyonya keluar dan tidak perlu mengunci kamar."


"Terimakasih, Pak Roni. Saya paham sekarang."

__ADS_1


"Sama-sama, Nyonya. Kalau begitu saya kembali ke ruang rapat."


"Iya, Pak. Sampaikan juga terimakasihku pada suamiku."


Roni tersenyum kala mendengar Alana menyebut kata suamiku. "Baik, Nyonya", sahutnya. Lalu dia berjalan keluar dari kamar Tuan dan Nyonyanya itu.


Alana seakan melupakan yang baru saja terjadi. Dia berjalan dengan santai menuju pantry untuk mencari minuman dingin. Namun tiba-tiba suara bel kamarnya terdengar. Dia mendelik, khawatir kalau orang yang sedang memencet bel adalah sahabatnya Diva.


Alana berjalan menuju pintu kamarnya, lalu dia berjinjit seraya mengintip. "Benar kan itu Diva", gumamnya. Dia ingin berterus terang pada Diva, namun dia bingung bagaimana cara mengatakan huhungannya dengan Kenzo saat ini. Tiba-tiba terdengar kembali suara bel yang disertai ketukan pintu.


"Apapun yang nantinya Diva pikirkan tentangku, biarkan saja itu terjadi asalkan persahabatan kami tidak rusak", ucapnya bermonolog. Tangannya langsung bergerak membuka handle pintu.


"Kenapa lama sekali, Al?" tanya Diva. Lalu dia berjalan masuk sebelum Alana memintanya masuk. "Wah, emang beda ya kamarnya tamu spesial", ucapnya kemudian saat netranya sedang menyusuri setiap sudut ruangan itu.


"Div, ada yang ingin aku omongin denganmu", ucap Alana.


"Nanti dulu, Al. Jangan pelitlah sama sahabat sendiri", tukas Diva yang masih mengagumi kamar yang ditempati Alana. Tiba-tiba tangan Diva memegang handle pintu kamar Kenzo.


Alana pun bergegas menghalanginya. "Jangan, Div. Itu kamar suamiku", imbuhnya.


Diva melotot tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Suami?"


Diva pun mengikuti Alana dan duduk tepat di sampingnya. "Ceritakanlah! Aku punya banyak waktu untuk mendengarkannya."


Terdengar hembusan nafas panjang Alana. Dia pun menoleh ke arah Diva dan mulai membuka suaranya menceritakan alasan dia menikah. Sesekali Diva terlihat mengangguk saat Alana bercerita, hingga tanpa terasa air mata Alana mengalir mengingat kejadian itu.


Diva mengusap lembut pipi chubby Alana. "Kau adalah sahabatku, aku tidak ingin kau menderita terlalu lama", ucapnya saat Alana menyudahi ceritanya. "Jika kau memiliki perasaan pada Kenzo, maka aku akan mendukungmu untuk tetap mempertahankan hubungan rumah tangga kalian. Namun jika kau sama sekali tidak memiliki perasaan padanya, maka tinggalkanlah!"


"Aku bingung", keluh Alana.


"Kenapa?"


"Suamiku masih mencintai Adik tiriku." Alana menghembuskan nafasnya ke udara, menjeda ucapannya. Lalu dia menatap Diva dengan intens. "Aku takut untuk memiliki perasaan pada suamiku sendiri."


"Kenapa kau harus mengalah, Al. Adik tirimu yang telah meninggalkan Kenzo, jadi dia tidak punya hak untuk merebutnya kembali. Sekarang kau harus bisa merebut hati suamimu. Apalagi kau tinggal berdua dengan suamimu di sini. Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya, Al." ucap Diva menasehati Alana.

__ADS_1


Alana terdiam beberapa saat. Dia mencoba memikirkan perkataan Diva. "Kau benar, Div. Aku akan menunjukkan pada suamiku, kalau aku memang pantas menjadi istri sesungguhnya, bukan istri kontrak", balas Alana dengan yakin.


"Ini baru namanya sahabat Diva", ujarnya seraya merangkul Alana. "Sudah cukup penderitaan yang kau alami selama ini, aku tidak mengizinkan kau mengalah lagi!" tegasnya.


Alana menatap Diva dengan tersenyum sumringah. Dia merasa beruntung karena memiliki sahabat yang selalu memahami dirinya.


Ting. Tong.


Bunyi bel membuat Alana dan Diva panik, mereka saling menatap seakan memikirkan hal yang sama.


"Apa itu Kenzo?" tanya Diva.


"Kayaknya bukan, deh. Dia kan punya kartu kamar sendiri."


"Tapi dia kan gak bisa melihat, Al."


Alana memang tidak memberitahu pada siapapun tentang Kenzo yang sudah bisa melihat, kecuali keluarganya sendiri.


"Dari pada penasaran, biar aku lihat dulu", ujarnya seraya berjalan menuju pintu. Alana kembali berjinjit untuk melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya. "Itu hanya pekerja hotel yang membawakan loundry!" seru Alana yang membuat Diva bernafas lega. Lalu dia membuka pintu.


"Permisi, dengan Nyonya Kenzo?" tanya seorang roomboy.


"Iya, saya sendiri."


"Saya membawakan gaun pesanan Tuan Kenzo, silahkan di terima Nyonya", ucapnya kemudian seraya menyerahkan paperbag pada Alana.


"Terimakasih, Pak", jawab Alana saat paperbag sudah berada ditangannya. Lalu dia menutup kembali pintu saat pria yang mengantarkannya paperbag berisi gaun itu pamit.


"Apa isinya? Lihat dong." Diva seakan tidak sabar untuk membuka paper bag Alana.


"Hus, jangan di sentuh!" tolak Alana dengan memukul punggung tangan Diva.


"Pelit amat." Diva mengelus tangannya dengan wajah cemberut.


"Makanya cepat nikah", ledek Alana sambil mengeluarkan isi paperbag. Diva pun menanti dengan penasaran.

__ADS_1


"Wah, cantik", ucap mereka bersamaan. Gaun indah berwarna merah itu membuat mata Alana dan Diva berbinar.


"Kau sangat beruntung", ujar Diva dengan wajah sedih. Dia pun mengingini gaun seperti milik Alana.


__ADS_2