Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Di kantor Kenzo


__ADS_3

Kenzo dan Alana baru saja melangkah masuk ke dalam kantor polisi, tidak sengaja Roni melihat sosok keduanya, dia pun gegas menghampiri pasangan suami istri itu.


"Kenapa kau ada di sini?" tanya Kenzo sebelum Roni menyapa.


"Sa- saya diberitahu oleh Nyonya kalau orang yang... "


"Sudah lupakan saja! Ayo kita lihat pelakunya." Kenzo tidak sabar mendengar ucapan Roni yang terbata-bata.


Mereka pun berjalan masuk ke dalam, namun Kenzo tidak mengizinkan Alana melihat pria itu.


Setelah menunggu lama, Kenzo dan Roni keluar dan berjalan menghampiri Alana.


"Siapa pria itu sebenarnya?" tanya Alana dengan tidak sabar.


"Dia hanya suruhan seseorang, tapi dia belum mau mengatakan siapa yang telah menyuruhnya melakukan itu", sahut Kenzo dengan wajah serius.


Alana manggut-manggut seraya memikirkan perkataan Kenzo. Siapa yang punya dendam pribadi denganku? Ucap Alana di dalam batinnya.


"Sudah jangan terlalu dipikirkan, nanti juga pasti tahu siapa pelakunya."


"Hm..." jawab Alana singkat, namun dia masih tetap memikirkan, barangkali dia tidak sengaja menyinggung seseorang.


Kenzo mencubit gemas hidung Alana. "Sudah di bilang jangan dipikirkan lagi."


"Iya, iya", sahut Alana dengan tersipu malu, karena sikap Kenzo telah membuat mereka menjadi pusat perhatian.


Sementara Roni tersenyum kala melihat Tuannya itu semakin berani menunjukkan perhatiannya pada sang istri di depan banyak orang.


"Apa kau sudah tidak ingin bekerja lagi?" suara bariton Kenzo memudarkan senyuman Roni.


"I- iya, kita ke kantor sekarang Pak", sahut Roni gugup. Baru saja aku kagum pada perbuatannya, sekarang dia sudah menunjukkan sifat aslinya. Ucap Roni di dalam batinnya.


Kenzo memberikan kunci mobil pada Roni, lalu dia menggandeng tangan sang istri menuju mobil di parkir. "Honey ikut ke kantor, ya. Biar nanti tidak canggung saat magang", imbuh Kenzo.


Alana mengangguk sebagai jawaban. Kemudian dia masuk ke dalam mobil, diikuti oleh Kenzo yang duduk tepat disampingnya.


...---...


Di dalam sebuah kamar sunyi, terdengar suara isak tangis. Pintu kamar di buka, namun dia tetap menangis.


"Mama, apa yang terjadi?" Alexa menghampiri sang Ibu yang terduduk di lantai dengan wajah sembab.

__ADS_1


"Steve..." suara lemah Sally disertai sesenggukan membuat Alexa mengernyitkan keningnya.


"Kekasih Mama itu? Apa yang terjadi padanya?"


"Dia telah tiada... Hwuaa..." Suara tangis Sally semakin kencang. Alexa pun terpaksa membujuk sang Ibu agar tidak menangis lagi.


"Sudah dong, Ma. Apa Mama tidak takut kalau nanti Papa tiba-tiba pulang ke rumah dan melihat kondisi Mama seperti sekarang ini."


"Dia cinta pertama Mama, Nak. Kau pasti paham, jika cinta pertamamu pergi meninggalkanmu", sahut Sally lirih.


"Tapi Mama sudah punya suami, berarti dia hanya sebatas kekasih gelap Mama!"


Sally tidak terima dengan penuturan Alexa. "Kau tidak bisa berkata seperti itu!" tegas Sally. "Jika saja Steve tidak membantu Mama mendapatkan Papamu sekarang, mungkin kau tidak akan ada, dan tidak dapat menikmati semua kekayaan ini."


Alexa terdiam beberapa saat, lalu dia berjalan menjauhi sang Ibu. "Mama salah! Semua yang kita nikmati saat ini, bukan karena jasa kekasih gelap Mama itu, tapi memang sudah ditakdirkan menjadi milik kita."


Tangis Sally mulai mereda. Dia menatap ke arah Alexa. "Kau salah besar, Nak. Ada suatu rahasia yang tidak kau ketahui. Suatu saat kau akan tahu dan berhutang padanya. Kalau begitu Mama akan pergi ke tenpat peristirahatannya terakhir." Sally bangkit dari posisinya, lalu berjalan menuju kamar mandi.


...----...


Di perusahaan milik Kenzo, beberapa karyawan membicarakan Alana yang menurut mereka sangat beruntung, karena dapat berjalan bersama dengan Kenzo.


"Dia sangat cantik", puji karyawan pria berambut lurus.


"Aku rasa kau hanya cemburu saja, kan?"


"Mana mungkin aku cemburu pada wanita kelas rendahan seperti dia. Coba lihat cara berpakaian wanita itu, sangat kampungan", ketus wanita itu.


"Kau! Silakan menghadap ke HRD!" titah Roni pada wanita berambut ikal itu, karena sedari tadi dia mendengar percakapan mereka.


"Gawat! Aku ketahuan", ucap wanita itu dengan perasaan cemas. Sementara pria yang bersama dengannya menatap iba dirinya.


"Semoga kau masih tetap bekerja di sini', ucap pria itu mendoakan.


"Terimakasih atas perhatianmu. Kalau begitu aku ke ruang HRD sekarang." Wanita itu berjalan dengan langkah gontai meninggalkan rekan kerja prianya itu.


...---...


"Bagaimana? Apa sudah beres?" tanya Kenzo pada Roni yang sudah menyusul langkah mereka.


"Sudah, Tuan."

__ADS_1


"Bagus!" sahut Kenzo dengan raut wajah senang. "Kalau begitu tolong kau kumpulkan seluruh karyawan di lantai 4!" titahnya kemudian.


"Baik, Tuan", jawab Roni. Lalu dia berpamitan dan melangkahkan kakinya meninggalkan Kenzo dan Alana.


"Ayo, kita ke lantai 4", ajak Kenzo pada Alana.


"Oke", sahut Alana singkat. Lalu dia berjalan berdampingan dengan Kenzo. Perasaannya sedikit gugup kala membayangkan puluhan atau bahkan ratusan karyawan akan menatapnya.


"Selamat siang, Pak", sapa beberapa karyawan hampir bersamaan.


"Siang", jawab Kenzo penuh wibawa. Lalu dia dan Alana berjalan masuk ke dalam ruangan yang tampak luas dengan desain interior yang cukup unik itu.


"Selamat siang semua...." sapa Kenzo pada seluruh karyawan yang ada diruangan itu.


"Kalian yang berada di sudut jendela!" seru Kenzo tanpa menunjuk. "Jika tidak ingin berada di sini, silakan pergi!" tegas Kenzo saat telinganya terusik oleh suara berbisik karyawannya itu.


Suasana ruangan itu berubah tegang, hingga untuk bernafas saja mereka harus menahan agar hembusan nafasnya tidak menimbulkan suara.


"Tidak perlu terlalu tegang. Saya hanya ingin memperkenalkan istri saya, Alana", kata Kenzo seraya melirik Alana yang berdiri disampingnya. "Kedepannya Alana akan magang di tempat ini, jadi saya tidak ingin mendengar ada yang berkata buruk tentangnya!" tegasnya. "Roni lanjutkan!" Kenzo beranjak dari posisinya yang diikuti oleh Alana dibelakangnya.


Roni mengambil alih tugas Kenzo dengan cara mencairkan suasana, hingga para karyawan mulai bernafas lega setelah sebelumnya mereka bergidik ngeri kala mendengar suara bariton Kenzo.


Sementara Kenzo dan Alana sudah berada di dalam lift. Sesekali Alana mencuri pandang sang suami. Spontan Kenzo berdiri tepat dihadapan Alana, hingga mereka saling beradu pandang. "Jika honey ingin menatap suamimu ini, silakan. Tapi jangan diam-diam", ucap Kenzo seraya menatap intens Alana.


Kini jantung Alana berdegup kencang, wajahnya pun merona kala Kenzo tidak mengalihkan pandangannya dari Alana.


"A- aku tidak sengaja... "


Ting.


Pintu lift terbuka lebar, namun tangan Kenzo bergerak cepat untuk menutup kembali pintu lift.


"Ke- kenapa..."


Cup.


Ciuman singkat itu membuat Alana membeku. Lidahnya pun kelu, seakan tak mampu untuk berucap.


Cup.


Kenzo mengulangi aksinya sekali lagi, namun dengan tempo yang cukup lama, hingga Alana kehabisan nafas.

__ADS_1


Setelah adegan itu, Kenzo menghubungi petugas CCTV, untuk menghapus rekaman CCTV dimana dirinya sedang mencium sang istri.


__ADS_2