
Mobil yang ditumpangi Kenzo dan Alana melesat meninggalkan kantor milik Thompson group.
"Honey, kenapa banyak sekali wartawan di pintu lobi kantor?" tanya Alana saat mereka telah menjauh dari kerumunan para awak media.
"Mereka sedang mencari berita, honey."
Alana mengernyit bingung. "Emamgnya ada berita apa di kantor my honey."
Kenzo menghembuskan nafas beratnya. "Adik tirimu berbuat ulah lagi. Dia memposting foto yang dia ambil saat kita di Bali."
"Foto seperti apa, sampai my honey di uber awak media?"
Pertanyaan Alana tidak langsung di jawab oleh Kenzo. Dia tampak sedikit ragu mengatakannya pada Alana. "Hm, sebuah foto yang tidak pantas untuk di lihat, honey."
"Tidak pantas di lihat?" ulang Alana yang di jawab dengan anggukan oleh Kenzo. Sementara Roni melirik dari spion untuk melihat reaksi Alana.
Seketika mata Alana membulat saat menyadari maksud sang suami. "Itu artinya my honey dan dia sedang... " ucapan Alana terhenti. Sambil menutup mulut dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak mungkin!" sesalnya.
"Maafkan aku honey", ucap Kenzo lesu.
Alana masih syok mengetahui sebuah fakta yang menyakitkan. Perasaannya baru saja mekar, kini harus hancur berkeping-keping. Kecewa dengan Kenzo, dia pun membuang jauh pandangannya ke luar kaca jendela.
*Jika saja aku menolak tegas menjadi pengantin pengganti, maka Kenzo sudah menikahi Alexa, dan mereka hidup bahagia bersama. Tapi aku juga tidak bisa disalahkan dalam hal ini, karena pernikahan kami terjadi bukan atas kemauanku. Harusnya Kenzo jujur, jika dia masih mencintai Alexa dan ingin kembali bersamanya. Aku pasti akan pergi jika dia minta*. Ucap Alana di dalam batinnya.
"Honey..." panggil Kenzo sembari memegang tangan Alana.
Dengan cepat Alana menepis tangan Kenzo. "Aku sedang tidak ingin bicara!" tukasnya. Tatapannya sendu. Dalam hitungan detik bulir kristal itu jatuh tanpa ada yang memerintah.
"Honey, please dengarkan penjelasanku dulu", bujuk Kenzo yang menyadari sang istri sedang menangis.
Tak ada kata yang terucap dari bibir Alana. Dia masih larut dengan kesedihannya. Mata nanarnya menatap pohon yang sedang berlarian, hingga tiba-tiba dia merasakan sebuah tangan bergerak menarik wajahnya.
"Honey, maafkan aku. Semuanya terjadi di luar kesadaranku. Aku sungguh tidak melakukan apapun dengan Alexa. Dia menjebakku, honey."
"Dia itu mantan kekasihmu. Jadi wajar kalau kalian masih memiliki perasaan. Mungkin selama ini aku menjadi penghalang hubungan kalian berdua", pungkas Alana.
__ADS_1
"Jangan ngomong sembarangan honey. Percaya padaku, tak lama lagi kebenarannya akan segera terungkap."
"Tuan, kita sudah sampai", kata Roni dengan perasaan gugup. Tatapan Kenzo melalui spion, membuatnya menciut.
Alana gegas keluar dari dalam mobil. Kepalanya terasa pusing saat memikirkan banyak masalah yang terjadi hari ini.
Melihat sang istri buru-buru keluar, Kenzo pun keluar dari dalam mobil dan mengejar langkah Alana. "Honey, tunggu sebentar", pinta Kenzo, namun Alana semakin mempervepat langkahnya, hingga sampai di depan pintu kamar.
"Maaf, saat ini aku sedang tidak ingin di ganggu", tegas Alana. Lalu dia membuka handle pintu dan berjalan masuk ke dalam kamar.
Kenzo menuruti permintaan Alana. "Oke, aku tidak akan mengganggumu", sahut Kenzo seraya beranjak dari posisinya berdiri. Kemudian dia menuruni anak tangga, untuk menemui Roni.
"Apa nyonya masih marah, Tuan?" tanya Roni saat bertemu dengan Kenzo di ruang tamu.
Kenzo menanggapi dengan berdehem dan anggukan kepala. Lalu dia duduk di sofa.
"Tuan, ada yang ingin aku sampaikan. Bolehkah kita bicara di ruang kerja Tuan?"
"Ayo", ajak Kenzo sembari bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke lantau atas.
...---...
"Tuan, jika ini terus berlanjut maka beberapa anak perusahaan Tuan terpaksa.di tutup", kata Roni dengan wajah serius. Dia dapat merasakan apa yang sedang dirasakan Kenzo saat ini, karena selama 12 tahun menjadi asisten Kenzo, dia juga telah melalui jatuh bangun perusahaan Kenzo.
"Aku tahu", jawab Kenzo singkat. Namun otaknya sedang berfikir keras untuk menangani masalah perusahaannya.
"Bagaimana kalau Tuan bicarakan hal ini dengan Nyonya. Dia pasti mau membantu Tuan."
"Aku tidak mau dia berkorban hanya demi beberapa anak perusahaan. Biarkan saja kalau memang harus di tutup", kata Kenzo dengan raut wajah sedih. Sebenarnya dia tidak tega jika para karyawannya harus kehilangan pekerjaan.
Mendengar perkataan Kenzo barusan, Roni pun mengurungkan niatnya untuk berbicara pada Alana.
"Kau tidak perlu kuatir", ucap Kenzo yang berusaha tegar. "Besok kita adakan konferensi pers. Aku yakin setelah itu perusahaan akan baik-baik saja."
"Baik, Tuan", jawab Roni.
__ADS_1
"Aku akan kembali ke kamar. Seperti biasanya, kau menginaplah malam ini."
Roni mengangguk pelan, namun hatinya berkata lain. Walaupun rumahnya tidak sebagus rumah Kenzo, tapi dia lebih suka tinggal dirumahnya sendiri.
...---...
Kenzo berjalan menuju kamarnya. Saat sudah berada di depan pintu, dibukanya handle pintu dengan perlahan, agar tidak membangunkan Alana. Namun tetap saja keheningan malam membuat nyaring suara pintu saat dibuka oleh Kenzo.
"Kenapa gelap sekali?" tanyanya seraya meraba dinding untuk mencari saklar. Setelah ketemu lampu pun menyala. Kenzo menyusuri setiap sudut ruangan mencari keberadaan Alana, namun dia tidak menemukannya.
Kenzo berusaha tenang dengan mencari sang istri di kamar mandi dan walk-in closet, namun dia tetap tidak menemukannya. "Kemana dia pergi?" tanya Kenzo dengan mengusap kasar rambutnya. Lalu dia berjalan keluar dan mencarinya di pantry.
"Apa Tuan butuh sesuatu?" tanya seorang pelayan.
Belum sempat Kenzo menjawab, Roni datang menghampiri mereka.
"Roni, apa kau melihat istriku?" tanya Kenzo sedikit panik.
"Tidak Tuan", jawab Roni.
"Saya melihatnya Tuan", sahut sang pelayan dengan gugup, karena dia tidak menanyakan kemana Alana pergi.
"Di mana?" tanya Kenzo dengan tidak sabar.
Sang pelayan menunduk karena merasa takut. "Maaf Tuan, tadi saya membiarkan Nyonya pergi."
Sontak Kenzo kaget mendengar perkataan sang pelayan. "Dia pergi kemana?"
"Sa- saya tidak tahu Tuan. Tadi saya melihat Nyonya pergi ke luar rumah dengan membawa koper besar."
Kenzo tersentak kaget mendengar penuturan sang pelayan. Lalu dia mengalihkan padangannya pada Roni. "Roni, ayo kita kejar. Dia pasti belum jauh", kata Kenzo seraya beranjak dari posisinya berdiri. Kemudian dia berlari ke luar rumah.
Roni pun mengambil kunci mobil, lalu menyusul Kenzo ke luar rumah.
"Kenapa balik lagi Tuan?" tanya Roni saat melihat Kenzo berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah lesu.
__ADS_1
"Tidak perlu di kejar lagi", katanya lirih tanpa penjelasan apapun. Kenzo terus berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.