Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Bulan Madu


__ADS_3

Alana mengerjap kala pendengarannya terusik oleh suara jipratan air dari dalam kamar mandi. Sontak netranya mencari-cari keberadaan Kenzo. "Apa suamiku sedang mandi? Tapi kenapa pagi sekali?" Alana meraih ponsel miliknya yang ada di atas nakas. "Masih jam 5", gumamnya seraya meletak kembali ponselnya.


Tidak lama kemudian terdengar suara pintu kamar mandi di buka. Alana buru-buru menarik selimut menutup tubuh polosnya.


"Apa dia masih tidur?" Kenzo mendekat guna memastikan apakah Alana masih tidur. "Hm, mungkin dia kelelahan", ucap Kenzo kemudian kala melihat mulut Alana masih menganga. Lalu dia berjalan menuju walk-in closet.


Alana menutup mulutnya yang menganga kala merasakan Kenzo sudah tidak menatapnya lagi. "Mumpung dia sedang berpakaian", ucap Alana seraya menyibak selimut. Lalu perlahan dia turun dari tempat tidur. "Aww" ringisnya kala sesuatu di bawah sana terasa perih dirasakannya.


Kenzo gegas keluar dari walk-im closet dan menghampiri Alana. "Ada apa?" tanyanya panik.


"Bukan apa-apa, honey", sahut Alana malu.


"Apa karena perbuatanku tadi malam?"


Alana mengangguk pelan sebagai jawaban.


Kenzo semakin mendekat pada Alana. "Maafkan aku, honey", ucapnya. Lalu merangkul tubuh polos Alana.


"Hm, aku mau ke kamar mandi dulu", imbuhnya. Sentuhan Kenzo membuatnya bereaksi lain. Aku tidak mau suamiku berfikir kalau aku sedang menggodanya. Ucap Alana di dalam batin. Lalu dia menyentak lembut tubuh Kenzo yang masih bertelanjang dada.


"Honey, kau harus tanggung jawab!" seru Kenzo.


Alana mendelik mendengar ucapan Kenzo. Atau jangan-jangan suamiku... Alana menduga-duga di dalam benaknya bahwa Kenzo meminta sesuatu yang sedari tadi dia hindari agar tidak terjadi. "Aku harus tanggung jawab apa, honey?"


"Aku sudah mandi dan sepertinya harus mandi lagi!" Kenzo mengangkat tubuh polos sang istri ke dalam kamar mandi.


Setelah mereka selesai mandi, Alana bernafas lega. "Syukurlah dia tidak melakukan apapun selain mandi", ucap Alana bergumam kala dirinya sedang mengenakan pakaiannya.


"Honey, kita akan berangkat ke Paris sore ini untuk berbulan madu di sana", ucap Kenzo yang membuat Alana tersentak kaget, karena Kenzo mengatakannya dengan tiba-tiba. "Bawa barang yang penting saja. Kita cuma beberapa hari di sana."


"Oke, honey", jawab Alana sedikit gaguk. Dia tidak menyangka Kenzo telah mengatur bulan madu di luar negeri.


"Ayo, kita sarapan dulu."


Alana gegas menggayut mesra tangan Kenzo, Hal itu membuat Kenzo senang.

__ADS_1


"Aku senang honey memperhatikan ucapanku", kata Kenzo dengan tersenyum. "Aku akan segera menyelesaikan urusan di kantor, setelah itu aku akan menjemputmu di rumah. Tolong siapkan juga pakaianku nanti", ucap Kenzo tanpa terasa mereka sudah berada di ruang makan.


"Oke, honey", sahut Alana seraya melepaskan gandengannya, lalu duduk di kursi.


...---...


Di dalam kamar, Alexa telah bersiap dengan segala bukti-bukti untuk melaporkan perbuatan Steve, kekasihnya itu. "Aku tidak akan pernah membiarkan penghinaan yang telah kau lakukan padaku!" seringai Alexa seraya menutup amplop coklat itu dan memasukkannya ke dalam tas. Kemudian dia berjalan keluar dan menuruni anak tangga.


"Pagi, Pa. Pagi, Ma", sapanya pada kedua orangtuanya yang tampak lesu.


"Pagi, sayang. Kau terlihat bersemangat pagi ini", ujar Sally.


"Harus dong, Ma. Jika kita tidak bersemangat, bagaimana mungkin kita bisa menyelesaikan semua masalah."


Ramond mendelik kala mendengar kata sok bijak putri keduanya itu. "Aku sudah mengenalmu sejak kecil, bagaimana mungkin sikap cengengmu itu berubah tegar hanya dalam sekejap."


"Papa meremehkanku. Aku ini kan putri Papa, jadi tentulah sifat Papa menurun padaku. Selama ini aku hanya sedang menyembunyikan sifat asliku."


"Mungkin hanya Tuty yang akan percaya dengan omonganmu itu."


"Lihatlah! Baru juga aku katakan hanya Tuty yang percaya. Sekarang sepertinya kau tidak punya harapan lagi, karena tidak akan ada yang percaya dengan sifat aslimu itu."


"Mama..." rengek Alexa meminta dukungan pada sang ibu.


"Mama sudah selesai makan", kata Sally seraya bangkit dari tempat duduk.


"Papa juga sudah selesai", susul Ramond. Dia pun berjalan seraya membawa tas kerjanya.


Alexa hanya bisa menikmati sarapan paginya seorang diri. Dia sadar karena perbuatannya saham papanya jadi anjlok, jadi dia tidak ingin menambah beban pikiran orang tuanya. Untuk itu dia putuskan untuk melaporkan Steve dan Pak Baron.


...---...


Waktu berlalu sangat cepat, hingga tanpa terasa mentari sudah meninggi dan waktunya bagi para pekerja keras untuk menikmati makan siang.


"Roni, kita makan siang di rumah saja. Sekalian ada beberapa berkas yang harus aku berikan padamu."

__ADS_1


"Baik, Tuan", sahut Roni.


Lalu mereka berjalan keluar ruangan. Setelah berada di luar Kenzo langsung menghampiri sekretarisnya


"Shinta dalam satu minggu ke depan tolong kamu reschedule jadwal saya."


"Baik, Pak. Apa Bapak akan melakukan perjalanan bisnis lagi?" tanya Shinta, karena dia merasa tidak pernah memesankan tiket untuk atasannya itu.


"Bukan!" sahut Kenzo seraya menatap ke arah Roni. "Beritahu saja dia nanti. Aku buru-buru!" ucap Kenzo seraya mengayunkan langkahnya meninggalkan Shinta yang masih berdiri dengan wajah bingung.


"Kenapa harus pak Roni yang memberitahuku?" Shinta bertanya saat bayangan Kenzo dan Roni sudah tidak terlihat lagi dalam pandangannya.


...---...


Beberapa jam kemudian, Roni kembali ke kantor setelah mengatar Kenzo dan istrinya ke bandara.


"Pak Roni..." panggil Shinta yang sedari tadi telah menahan rasa penasarannya.


"Aku tahu kau memanggilku untuk apa", ucap Roni to the point. Lalu dia menghela nafas seraya menatap Shinta. "Tuan Kenzo pergi berbulan madu ke Paris."


Shinta terperangah mendengar ucapan Roni. "Ini kabar bagus. Kenapa bukan Pak Kenzo saja yang mengatakannya langsung?" tanya Shinta, namun Roni gegas meninggalkan Shinta begitu saja.


"Pak Roni.." Shinta terus memanggil.


Roni membalikkan badannya dengan malas. "Aku sedang sibuk. Jika ada hal penting, aku beri kamu waktu 5 menit. Ayo, katakanlah!"


"Tidak jadi deh", ucap Shinta ragu. Dia tidak ingin dikatakan sebagai karyawan penggosip nantinya.


Roni mendengus kasar. "Kau membuang waktuku saja!" Roni gegas membalikkan badannya dan berjalan masuk ke dalam ruang kerja Kenzo. Banyak hal yang harus Roni lakukan selama Kenzo berbulan madu. "Mungkin aku harus menikah, barulah Tuan Kenzo memberikan izin padaku", gumam Roni. Dia tidak berani jika harus mengatakannya terang-terangan, karena dia khawatir Kenzo memasang CCTV di dalam ruangan itu.


...----...


Alexa baru saja tiba di lobi kantor Kenzo. Entah apa yang ada dalam pikirannya, dia begitu yakin Kenzo akan mendengarkannya.


"Apa? Bulan madu?" ulang Alexa kaget saat sang resepsionis baru saja memberitahukan padanya keberadaan Kenzo.

__ADS_1


Sang resepsionis menelisik wajah Alexa yang tampak tidak asing. "Ternyata kamu!" ucap sang resepsionis bernada kesal. Namun Alexa acuh padanya. Dia pergi tanpa mengucapkan sepata kata.


__ADS_2