Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Kenzo Kecewa


__ADS_3

"Keluarlah!" titah Kenzo pada seseorang yang duduk dengan menjadikan daftar menu sebagai penutup wajah.


Sontak pria itu membuka penutup wajahnya. "Ma- maaf Tuan, saya tidak menyangka akan berada di restoran yang sama dengan Tuan", sahut pria itu berdalih.


"Jangan pura-pura lagi! Aku tahu kau datang kemari ingin mengintip."


Roni tersenyum canggung, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Saya hanya jaga-jaga, barangkali Tuan akan membutuhkan bantuanku nantinya."


"Aku tidak perlu bantuanmu!" tukasnya dengan penuh wibawa. "Segeralah menyingkir dari sini, sebelum Alana datang."


"Tuan sungguh kejam!" Roni mendramatisir nada suaranya.


"Sayang sekali! Padahal aku telah berniat untuk menaikkan gaji seseorang, tampaknya belum rezeki dia", ujar Kenzo dengan berpura-pura iba.


"Maaf, Tuan. Saya mau pamit pulang, karena masih ada urusan yang belum selesai." Roni beranjak dari posisinya dengan tersenyum pahit.


Kenzo tersenyum puas melihat Roni pergi dengan kelabakan, bersamaan dengan itu Alana datang dari kamar mandi.


"Maaf, aku lama", katanya yang berusaha santai, lalu bokongnya kembali menempel di kursi bekas dia duduk.


"Tidak apa-apa. Makanannya masih tetap hangat kok."


Alana hanya membalas dengan tersenyum kaku. Entah kenapa kerongkongannya sudah seperti tanah tandus saja, dia harus berulang kali meneguk segelas air saat Kenzo menatapnya.


"Jangan kebanyakan minum, entar makanannya gak kamu sentuh", nasehat Kenzo.


Alana meletakkan gelas yang telah menyisakan setengah gelas air. Netranya mencari makanan yang cocok dilidahnya.


Ting.


Sendok Kenzo dan Alana saling beradu saat keduanya memilih lauk yang sama. Alana menarik kembali sendoknya, sementara lengan Kenzo yang panjang terjulur kala sendoknya yang penuh lauk diberikan pada Alana. "Makan yang banyak", ucapnya penuh perhatian.


Apa maksudnya ini? Tadi pagi dia membatalkan kontrak nikah dan mengatakan hubungan kami kembali seperti semula. Malam ini dia bersikap aneh sekali, romantis dan bahkan mengatakan cintanya. Ucap Alana bingung di dalam batinnya.


"Kenapa my honey menatapku seperti itu?" tanya Kenzo.


Alana kembali meraih gelas dan meminumnya dalam sekali tegukan, sapaan honey membuat Alana merasa gugup.


"Sudah aku katakan jangan terlalu banyak minum. Makanlah dulu beberapa suap", ucapnya dengan lembut.

__ADS_1


Alana mulai mengisi mulutnya dengan makanan. Dia melakukannya dengan ritme cepat, hingga hampir tersedak.


"Pelan-pelan saja, tidak akan ada yang merebut makananmu", canda Kenzo, namun semakin membuat Alana gugup.


"Aku sudah selesai." Alana meletakkan sendok dan garpu berdampingan. Air di dalam teko kaca seakan milik Alana sepenuhnya, dia tak ingin berbagi dengan Kenzo.


Gluk... Gluk...


Netra Kenzo membulat sempurna kala melihat sang istri menyandarkan tubuhnya setelah segelas air habis tak bersisa hanya dalam sekali tegukan. "My honey, apakah masih butuh air minum?"


Alana menggelengkan kepalanya. "Aku butuh istirahat", jawabnya dengan kepayahan karena perutnya yang sudah membesar.


Kenzo terpaksa meletakkan sendok dan garpu ditangannya. "Kalau begitu kita pulang sekarang", kata Kenzo setelah mengusap lembut mulutnya dengan napkin, lalu dia meminta bil pada pelayan restoran.


Setelah selesai membayar. Alana berusaha bangkit dari tempat duduknya, gegas Kenzo membantu istrinya yang kepayahan berdiri. Netra mereka saling beradu pandang, hingga akhirnya saling mengunci.


Satu detik, dua hingga sepuluh detik. Alana buru-buru memutus pandangannya, rasanya jantungnya hampir saja meledak.


"Ayo, honey", ajak Kenzo dengan lembut. Alana menuruti ajakan Kenzo Mereka berjalan bersama menuju pintu ke luar.


Saat tiba diparkiran, netra Kenzo menelisik sosok pria berbadan tegap yang tidak asing baginya. "Dia", gumam Kenzo yang masih dapat di dengar Alana.


Kenzo hendak melangkahkan kakinya berjalan menghampiri pria itu, namun dia urungkan. "Bukan siapa-siapa", jawabnya seraya masuk ke dalam mobil. Alana pun ikut masuk ke dalam mobil. Kemudian mobil itu melesat pergi dari parkiran.


Pria bertubuh tegap itu menatap kepergian mobil Kenzo. "Untung saja dia tidak kemari", katanya dengan bernafas lega. "Tunggu saja tanggal mainnya Kenzo!" lanjutnya dengan menyeringai.


...---...


Dipersimpangan lampu merah, Kenzo memainkan jari-jarinya mengetuk kemudi mobil. "Em, apakah my honey sudah melamar magang di kantor?"


Alana menoleh ke samping, menatap wajah tampan sang suami yang tampak sedikit gugup. "Kemungkinan besok aku masukkan lamarannya."


Kenzo melajukan kendaraannya saat lampu merah sudah berganti hijau. "Tidak perlu! Besok biarkan Roni yang mengurusnya."


"Oke, honey", jawab Alana dengan nada pelan.


Cittt...


Decitan ban mobil membuat Alana tersentak kaget. Entah hal gila apa yang membuat sang suami nekat melakukan hal yang membahayakan mereka.

__ADS_1


"Hei...! Bisa nyetir gak sih?" teriakan pengemudi sekaligus makian yang hampir saja menabrak mobil mereka dari belakang.


Alana memegang dadanya, jantungnya hampir saja copot di buat Kenzo. Syukur kami bisa selamat, ucap Alana di dalam batinnya.


"Maaf, honey. Tadi spontan ngerem mendadak, karena ucapan honey barusan."


Alana mendelik, lalu menutup mulutnya yang menganga. Apa yang aku katakan barusan, ucapnya di dalam batin. Otaknya seakan tidak singkron dengan ucapannya.


"Bisa honey katakan lagi?"


Alana berpura-pura menguap. "Hua...Aku ngantuk sekali, mungkin karena tadi kekenyangan", dalih Alana.


Kenzo memutar kembali kepalanya, hingga menatap ke arah depan, tanpa menyahut ucapan Alana. Dia melajukan kendaraan dengan perasaan kecewa.


Maafkan aku, karena membuatmu kecewa. Saat ini aku belum benar-benar siap untuk memanggil dengan sebutan honey. Ucap Alana di dalam batinnya, lalu dia membuang pandangannya ke luar kaca jendela mobil.


...---...


Tidak ada lagi perbincangan di antara Kenzo dan Alana, bahkan sampai mereka memasuki kamar. Kenzo langsung melangkah menuju kamar mandi sementara Alana menyiapkan bantal dan selimut di sofa.


Tidak berselang lama Kenzo keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan menuju walk in closet. Alana pun bergantian masuk ke dalam kamar mandi.


Saat Alana keluar dari dalam kamar mandi, dia tidak melihat keberadaan Kenzo. Lalu dia berjalan menuju sofa dan membaringkan tubuhnya di sana.


Tengah malam Kenzo masuk ke dalam kamar, netranya menatap nanar sang istri yang sedang tertidur di sofa. "Apa dia benar-benar ngantuk?" gumamnya. Perlahan Kenzo melangkah, agar Alana tidak terbangun. Tangannya menarik selimut yang tersibak oleh tendangan kaki sang istri. "Selamat malam, my honey", ucapnya seraya tersenyum menatap wajah manis sang istri.


Alana bergerak membalikkan badannya. Kenzo pun menelungkup di lantai. Dia tidak ingin Alana mengira kalau dirinya mengambil kesempatan di saat Alana tidur. Kemudian dia bangkit dari atas lantai, mengibaskan pakaiannya dan berjalan menuju tempat tidur.


...---...


Di tempat berbeda, di sebuah ruangan minim penerangan tampak dua orang pria sedang meneguk minuman terlarang itu. Seorang wanita berpakaian minim datang menghampiri.


"Lagi Tuan?" tangannya seolah ingin menuang minuman.


Pria bertubuh gempal dengan perut membuncit lebih tertarik pada si wanita. Tangannya justru menarik wanita itu, hingga berada dalam pelukannya.


"Cih, kau tidak pernah berubah!" Pria beruban bertubuh tegap itu beranjak dari posisinya dan pergi meninggalkan pria gendut itu.


"Steve!" seru pria itu saat baru saja keluar dari ruangan. "Apa lagi yang kau inginkan?"

__ADS_1


__ADS_2