Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Dia Kejam


__ADS_3

Hampir seharian berada di dalam ruang istirahat, rasanya Alana tidak pantas dikatakan sebagai anak magang. Meskipun perusahaan itu milik suaminya sendiri, namun dia ingin melakukan pekerjaan magang sama seperti mahasiswa lain.


"Honey, aku sudah bolos kerja selama seminggu", kata Alana dengan raut wajah serius.


"Owh, begitu ya. Berarti kamu harus kena sanksi!" balas Kenzo dengan serius pula.


"Tapi ini bukan kesalahanku sepenuhnya", ucap Alana beralasan.


Sementara Kenzo masih saja menahan tawanya. "Jadi my honey mau menyalahkan siapa lagi?"


"Siapa lagi, kalau bukan suamiku ini", sahut Alana dengan tersenyum meledek.


"Owh, begitu ya. Baik, aku akan menerima sanksi yang sama dengan my honey", ujarnya dengan menyeringai. "Ayo, ikut denganku ke dalam ruang istirahat", lanjutnya.


Alana kaget saat Kenzo mengajaknya kembali masuk ke dalam ruang istirahat. "Honey, karena ini kantor, seharusnya hukuman yang diberikan juga berhubungan dengan pekerjaan."


"Tadi istriku mengatakan bahwa perusahaan ini milikku, berarti aku berhak menentukan sanksi apapun itu."


Alana mendelik saat diserang oleh perkataannya sendiri. "Hm..."


Sebelum Alana menyelesaikan ucapannya, Kenzo sudah menarik tangan Alana hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Kenzo menunduk hingga bibir mereka saling menempel.


Cklekk


"Tuan, gawat..."


Kedatangan Roni yang tiba-tiba membuat Kenzo dan Alana saling menjauh. Alana gegas masuk ke dalam ruang istirahat.


Sementara Roni berdiri dengan kaki gemetar. Dia merasa dirinya yang gawat saat ini, karena masuk di waktu yang tidak tepat. Habislah aku kali ini. Rutuknya sembari membalikkan badan. "Ma- maaf Tuan, tadi aku lupa mengetuk pintu", ucapnya seraya berjalan menuju pintu keluar.


"Tunggu dulu!" ucap suara bariton Kenzo.


Karena sudah tertangkap basah, Roni pun tak dapat mengelak dari kemarahan Kenzo. "Iya, Tuan", jawabnya saat sudah berbalik badan.


"Malam ini kau harus bekerja lembur, setelah itu aku akan segera memutasikanmu!" tegasnya.


Roni mendelik saat mendengar hukuman yang diberikan Kenzo. "Tapi Tuan..."


"Apa hukumanmu mau di tambah?"

__ADS_1


Roni menggeleng lesu. Dia tahu perbuatannya tidak dapat ditolerir oleh Kenzo. "Kalau begitu saya pamit, Tuan", ucapnya lesu.


"Tunggu dulu. Saat masuk tadi aku mendengar kau mengatakan gawat, maksudnya apa?"


Roni tersadar akan tujuannya datang buru-buru ke ruangan Kenzo. "Iya, gawat Tuan. Barusan Alexa memposting sesuatu di media sosialnya. Dan itu menarik perhatian banyak orang, bahkan sedikit berdampak pada hotel Tuan."


"Apa itu? Tunjukkan padaku!"


Roni berjalan mendekati Kenzo. "Ini Tuan", kata Roni seraya memberika ponselnya.


"Ini foto saat di Bali. Jadi dia mau menggunakan ini untuk menggangguku?"


"Sepertinya begitu Tuan. Dia pasti ingin menukar berita ini dengan kebebasan Mamanya."


"Cih, dia terlalu berani menantangku. Aku tidak menyangka dia pernah menjadi kekasihku, walau hanya karena aku salah menebak gadis kecil yang menolongku", sesal Kenzo. "Apakah foto itu asli?" tanyanya kemudian.


Roni menganggukkan kepalanya. "Iya, Tuan. Saya sudah mengecek keasliannya."


"Oke, kalau begitu..."


"Honey...!" pekik Alana.


Alana menghamburkan diri memeluk Kenzo dengan isak tangis. "Ternyata, hiks hiks, Mama Alexa yang menyebabkan Mamaku mengalami kecelakaan", ujarnya dengan isak tangis.


Kenzo memberi isyarat agar Roni keluar dari ruangan itu. Roni pun mengangguk, lalu dia pergi menuju pintu keluar.


Setelah Roni keluar, Kenzo mengusap lembut kepala Alana. "Tenangkan dirimu dulu", pintanya. Kemudian dia menyentak lembut tubuh Alana. "Ayo, kita duduk."


Alana mengikuti Kenzo duduk di sofa. "Kenapa bibi tega melakukannya? Padahal Mama sangat baik padanya, bahkan sudah menganggapnya sebagai keluarga sendiri", ucap Alana dengan hati pedih. "Kejam! Dia sangat kejam! Aku tidak akan pernah memaafkannya!"


Kenzo mendelik kala mendengar penuturan Alana. Dia sudah menduga istrinya akan bereaksi seperti itu, makanya dia menunggu sampai ayah mertuanya memberitahukan hal itu pada Alana. "Honey, aku tahu kau pasti sangat membenci ibu tirimu itu. Tapi saat ini dia sudah di tahan dan akan segera di sidang."


"Iya kau benar Honey. Terimakasih kau telah menemukan bukti kejahatan bibi. Selama ini aku mengira mama tiada, hanya karena kecelakaan biasa. Aku tidak menyangka bibi tega merusak rem mobil, hingga kami mengalami kecelakaan." Air mata Alana kembali mengalir kala mengingat peristiwa itu. Dia mengira kecelakaan itu terjadi hanya karena rasa cemburu mamanya pada ibunya Alexa.


Tangan kekar Kenzo mengusap lembut wajah Alana. "Aku tahu penderitaan yang kau alami selama ini. Mereka telah memperlakukanmu layaknya pembantu, bahkan Alexa mengatakan bahwa kau adalah anak pembatu mereka."


"Aku tidak mempermasalahkan itu. Aku hanya tidak terima perkataan ibu tiriku yang menyebut aku sebagai anak pembawa s*al! Bahkan papa pun ikut mengatakannya."


"Sudah, lupakan semua kisah kelam itu! Saat ini kita punya keluarga sendiri, jadi mari kita bangun kepercayaan di antara kita. Aku janji tidak akan pernah mengkhianatimu!"

__ADS_1


"Honey, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok. Jadi aku tidak bisa mengucapkan janji seperti itu, aku hanya akan berusaha untuk tetap setia pada ikatan pernikahan kita."


"Tidak apa-apa honey. Aku yakin maksud kita pasti sama", ucap Kenzo sembari mencium kening Alana. "Aku mencintamu, honey", katanya dengan memeluk erat tubuh Alana.


"Aku juga mencintaimu honey", balas Alana dengan tersenyum.


Kemudian Kenzo menyentak lembut tubuh Alana. "Mungkin para penjahat yang mengikuti kita pagi ini masih berada di luar. Bagaimana kalau malam ini kita menginap di sini?" tanya Kenzo.


"Hm, bagaimana kalau kita buat laporan ke polisi saja, jadi mereka bisa mengawal kita."


"Owh, gitu ya", jawab Kenzo kurang bersemangat. "Kalau begitu, aku akan meminta pengawal kita saja yang mengawal. Aku tidak mau urusannya jadi panjang."


"Oke, honey. Aku yakin my honey bisa menangani semuanya dengan baik", sahut Alana bersamaan dengan suara ketukan pintu.


Tok. Tok.


"Masuk!" ucap Kenzo.


"Permisi Pak."


"Ya, ada apa Shinta?"


"Di bawah ramai awak media, mungkin Pak Kenzo sulit ke luar dari pintu depan."


"Cepat sekali mereka bergeraknya", kesal Kenzo. "Oke, terimakasih infonya, Shinta "


"Baik Pak. Kalau begitu saya pamit undur diri, sekalian mau pulang."


"Oke!" jawab Kenzo singkat.


"Ada apa lagi, honey?" tanya Alana penasaran. Namun belum sempat Kenzo menjawab, Roni pun masuk.


"Tuan, saya sudah menyiapkan para pengawal di lobi kantor. Tapi sepertinya banyak wartawan di bawah. Apa kita keluar lewat basement saja?"


"Iya, lewat basement."


"Honey, apakah kau bisa menjelaskan masalah sebenarnya?"


"Aku akan menjelaskannya nanti, saat kita di dalam mobil. Sekarang kita harus buru-buru pergi menghindar dari para wartawan."

__ADS_1


Alana terpaksa menuruti perkataan Kenzo, agar mereka segera berada di dalam mobil dan Kenzo menceritakan semuanya.


__ADS_2