
Kenzo terpaksa mempersingkat perjalanan bisnis di Bali. Dia meminta Roni untuk mengatur ulang agenda kerja di hari ke 5 sampai hari ke 7.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu terdengar bersamaan akhir panggilan di telepon. Kenzo memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana seraya berjalan menuju pintu, lalu membukanya.
"Sayang, makanan pesananmu sudah datang", kata Alexa saat pintu kamar Kenzo terbuka lebar.
"Oke", sahut Kenzo singkat seraya berjalan keluar kemudian menutup rapat pintu kamarnya.
...---...
Di tempat berbeda di kantor polisi.
Alana masih berbincang serius dengan Diva, sahabatnya itu. Diva tiada henti meneteskan air mata, saat mengingat Papanya yang mendapat serangan jantung setelah mendapat kabar bahwa dirinya kini berada dalam tahanan.
"Aku turut prihatin atas apa yang telah terjadi pada Papamu. Semoga Papa kamu lekas pulih, ya", kata Alana dengan penuh perhatian. "Dan aku juga akan berusaha membantumu agar segera bebas", lanjutnya seraya menggenggam erat tangan gemetar Diva.
"Terimakasih, Al", sahutnya dengan nada lirih. "Aku janji Al, untuk kedepannya tidak akan pernah melakukan seperti itu lagi. Bahkan jika aku harus mempertaruhkan diriku, aku akan sanggupi", sambungnya.
"Jangan berkata seperti itu! Aku tidak mau ada kejadian seperti ini lagi!" tegas Alana.
"Maaf, jika ucapanku salah. Tapi aku benar-benar berjanji tidak akan mengulanginya lagi, Al!" Diva mengusap kasar sisa air mata dipipinya sambil menatap Alana. Dia merasa bahwa dirinya adalah sahahat terburuk.
"Aku harap kau bebas secepatnya dan segera bertemu dengan Papamu."
"Terimakasih kau sudah mendoakan hal yang baik untukku, Al. Semoga hal yang baik pun terjadi padamu."
Alana menatap Diva dengan tersenyum. "Kita anggap semua yang telah terjadi sebagai ujian persahabatan kita", tutur Alana dengan lembut.
Diva mengganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Kau benar, Al", sahutnya dengan nada lirih.
"Maaf, Mba. Waktu berkunjung sudah habis", kata petugas jaga.
Alana pun berpamitan pada Diva. Rasanya dia tidak tega untuk membiarkan sahabatnya itu seorang diri berada dalam tahanan.
Aku harus segera meminta bantuan Kenzo, ucap Alana di dalam batinnya. Dia menatap sendu saat petugas jaga membawa Diva masuk kembali ke dalam sel tahanan.
"Sudah selesai, Nyonya?" tanya Roni saat baru saja selesai mengirimkan email melalui telepon pintarnya. Lalu dia berdiri menghampiri Alana.
__ADS_1
"Sudah", jawab Alana singkat. "Ayo, kita temui suamiku", lanjutnya dengan wajah serius.
"Baik, Nyonya."
Kemudian mereka berjalan beriringan menuju mobil di parkir.
"Langsung ke hotel, Pak", kata Roni pada supir.
"Baik, Pak", sahut Pak supir seraya melajukan kendarannya. Tak lupa dia menyetel lagu Shania Twain untuk mengiringi perjalanan mereka ke hotel.
"Nyonya yang hubungi Tuan Kenzo atau saya?" tanya Roni saat Alana mangap, baru saja dia akan menyanyikan bait pertama lagu itu. "Eh, maaf Nyonya", katanya saat melihat ekspresi Alana melalui kaca spion.
"Pak Roni saja yang hubungi", sahut Alana seraya membuang pandangannya keluar kaca jendela mobil. Dia malu, karena Roni melihat ekspresinya saat akan bernyanyi.
"Baik, Nyonya." Roni langsung meraih ponselnya dari saku celana. Lalu dia menghubungi kontak Kenzo.
"Halo, asisten belagu", sahut suara Alexa dari seberang telepon.
"Kenapa telepon Tuan Kenzo ada padamu?" tanya Roni dengan nada marah.
"Cih, kau masih bersikap tidak sopan padaku! Lihat saja sebentar lagi kau akan mengemasi barang-barangmu sama seperti Alana kakak tiriku yang b*doh itu!"
"Kau tidak punya hak untuk memerintah aku!" sahut Alexa dengan kesal. "Sayangku sedang tidak bisa di ganggu. Dia masih terlelap setelah apa yang baru saja kami lakukan."
Roni langsung memutus sambungan teleponnya. Nafasnya naik turun, karena menahan emosi. Dia sangat kesal melihat sikap Alexa yang angkuh dan sok berkuasa.
"Apa itu tadi Alexa?" tebak Alana yang mendengar pembicaraan Roni.
"Iya, Nyonya", sahutnya. "Lebih cepat lagi, Pak", titah Roni pada sang supir. Lalu tangannya sibuk mengotak atik ponselnya. Dia membuka rekaman CCTV di kamar Kenzo. "Kena kau!" seringai Roni.
"Kita sudah sampai Tuan", kata pak supir saat mobil berhenti tepat di pintu masuk lobi hotel.
"Ayo, Nyo -- " Roni menggantung ucapannya saat menoleh kebelakang, dia melihat Alana hendak muntah. "Maaf... maafkan saya Nyonya", ucapnya dengan rasa bersalah, karena telah meminta supir menambah laju kecepatan mobil.
"Tidak apa-apa. Mungkin saya masuk angin, dari tadi pagi belum makan apa-apa."
Roni langsung turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Alana. "Kalau begitu Nyonya makan dulu", kata Roni saat Alana turun dari mobil. Lalu Roni meminta pada security agar memanggilkan karyawan hotel wanita untuk membantu Alana.
"Nyonya di bantu sama dia dulu, saya akan ke atas menemui Tuan Kenzo", imbuhnya.
__ADS_1
"Oke", sahut Alana yang mulai melemah.
Roni gegas menuju lantai 5. Lift yang kosong membuatnya tiba dengan cepat di depan pintu kamar Kenzo.
Roni memencet bel sampai berulang-ulang kali. Namun Alexa tidak juga membukakan pintu.
"****, kenapa aku lupa meminta kunci kamar ini", rutuknya. Lalu dia menghubungi karyawan hotel untuk membawakan kunci kamar khusus Tuan Kenzo.
Ceklek.
Pintu kamar Kenzo terbuka sesaat setelah Roni memutus sambungan telepon.
"Mana Tuan Kenzo?" tanya Roni pada Alexa. Dia memaksa masuk walaupun Alexa mencoba untuk menghalangi.
"Hei! Jangan menerobos kamar orang dengan sembarangan!" teriak Alexa seraya mengikuti langkah Roni sampai ke dalam kamar Kenzo.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Roni. Lalu dia mencoba membuat Kenzo sadar. "Tuan...Tuan bangunlah." Roni menjiprat air ke wajah Kenzo.
"Aku tidak melakukan apapun. Justru Kenzo yang telah melakukannya padaku", sahut Alexa seraya duduk di sofa. "Tapi aku suka", lanjutnya dengan tersenyum.
Roni mengabaikan ucapan Alexa. "Akhirnya Tuan sadar", kata Roni.
Kenzo memijit pelipisnya saat kesadarannya belum kembali sepenuhnya. "Kenapa kepalaku pusing sekali?" tanyanya. Lalu dia mencoba untuk duduk dan menyandarkan punggungnya.
Roni berjalan menghampiri Kenzo, lalu berbisik di telinga Tuannya itu. Seketika mata Kenzo terbuka lebar, kala mendengar apa yang dikatakan oleh Roni.
"Sayang, kau hanya kelelahan setelah kita berdua saling memadu kasih", ucap Alexa yang mencoba menjelaskan.
Kenzo langsung menatap tajam ke arah Alexa. Dia pun beringsut mundur, takut dengan tatapan Kenzo. Kenapa dia menatapku seperti itu, apa yang dikatakan asisten penyibuk ini. tanya Alexa di dalam batinnya.
"Kau keluarlah dulu", titah Kenzo pada Roni.
"Tapi, Tuan -- "
Kenzo menaikkan tangan kanannya meminta Roni tidak membantah ucapannya. Roni pun menuruti perintah Kenzo. Dia pergi meninggalkan kamar Kenzo.
Alexa tersenyum sinis menatap kepergian Roni. Dia yakin Kenzo tidak mendengarkan ucapan Roni, karena Kenzo masih mencintainya.
"Sayang..." panggil Alexa manja seraya berjalan menghampiri Kenzo.
__ADS_1
"Apa kau telah memasukkan sesuatu pada minumanku?" tanya Kenzo mendominasi.