Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Pendukung Sebenarnya


__ADS_3

Pria tinggi berpakaian security sigap menangkap karyawan pria yang hampir saja kabur itu.


"Ayo!" kata kedua security saat membawa paksa pria itu pada Kenzo.


"Kenapa kau lari?"


"A- aku hanya di suruh seseorang, Tuan." ucapnya mengaku sebelum Kenzo menanyakan hal itu padanya.


"Siapa yang menyuruhmu?"


"Seseorang yang menyebut dirinya sebagai orang suruhan pak Billy, Tuan."


Kenzo marah mendengar nama Billy. "Roni, bawa dia ke pihak yang berwajib!" titahnya bernada kesal.


"Baik, Tuan", sahut Roni.


Akhirnya para pelaku berhasil di tangkap berkat hasil kerja salah seorang staff Kenzo. Dia tidak pernah lalai melakukann backup rekaman CCTV, jadi begitu para pelaku merusak DVR, backup yang rutin di lakukan oleh pria bertubuh tinggi dan terlihat rapi saat berpakaian itu langsung dia berikan pada asisten Kenzo.


"Siapa namamu?" tanya Kenzo pada IT staff yang telah membantu memudahkan urusannya itu.


"Saya Henry, Tuan."


"Roni, biarkan dia menggantikan posisi atasannya dan berikan dia gaji melebihi atasannya itu."


"Baik, Tuan", sahut Roni.


Kenzo bernafas lega karena semua urusannya di Bali berjalan dengan lancar, namun dia sedikit kecewa karena rencana bulan madunya bersama sang istri terpaksa di tunda.


...---...


Di sebuah ruangan tampak seorang pria bertubuh gempal duduk seraya meneguk minuman h*ram ditangannya. "Dasar orang-orang tidak berguna!" teriaknya dengan kesal kala menerima kabar bahwa rencananya untuk menghancurkan Kenzo telah gagal.


Tidak lama kemudian ada orang yang mencoba menerobos masuk ke dalam ruangannya. "Apa yang kalian lakukan?" tanya pria itu dengan wajah garang.


"Pak Billy, anda di tahan, silakan ikut dengan kami", ucap pria berbadan kekar itu.


"Cih, apa kau pikir aku akan percaya dengan omong kosongmu ini? Pergilah, jangan pernah menggangguku", tukas Billy dengan nada tidak ramah.


"Ayo, bawa dia!" titah salah seorang yang tampak seperti pemimpin di antara pria itu.


"Hei, jaga sikap kalian atau akan aku buat kalian kehilangan pekerjaan!"


Mereka tetap membawa paksa Billy ke luar dari ruangan minim penerangan itu.

__ADS_1


Tangan salah seorang petugas mengibas angin. "Nafasnya bau sekali!" ucap petugas itu kala aroma dari mulut Billy menyeruak masuk ke dalam penciumannya.


"Dia kan baru minum, jelas baulah", sahut pria yang tampak sebagai pimpinan itu. "Bawa saja dia, jangan hiraukan aroma tubuhnya!"


"Aku harus menghubungi pengacaraku!" ucap Billy setengah sadar. Lalu dia menekan asal ponselnya. "Hei, tunggu dulu. Aku belum bicara dengan pengacaraku!" Billy mencoba merebut kembali ponselnya yang telah di ambil petugas.


"Nanti saja bicaranya. Setelah kita sampai di kantor."


Billy tidak punya tenaga lagi untuk merebut kembali ponselnya. Akhirnya dia pasrah saat di bawa oleh petugas.


...----...


Berita penahanan Billy terdengar oleh Kenzo. Dia tidak menyangka pihak berwajib begerak begitu cepat. "Apa ini orang yang diandalkan paman?" Kenzo meragukan Billy adalah dalang di balik kebangkrutan perusahaan Papanya sebelumnya. Apalagi dia begitu mudah menangani masalah yang baru saja terjadi.


"Malam, Tuan", sapa Roni kala datang mendekati Kenzo yang sedang berdiri di balkon.


"Malam... Apa semuanya sudah beres?"


"Sudah, Tuan. Bahkan saya dengar Pak Billy sudah di tahan."


"Iya, aku tahu. Tapi aku merasa sedikit aneh."


Roni mengernyitkan keningnya. "Kenapa, Tuan?"


"Jadi, apa Tuan curiga masih ada orang yang mendukung mereka?"


Kenzo menganggukkan kepalanya. "Orang yang telah membuatku kehilangan orang tua."


Roni menundukkan kepalanya. Dia tidak ingin melihat raut wajah sedih Kenzo. "Kalau begitu apa yang harus saya lakukan, Tuan?"


"Kita tidak perlu melakukan apapun. Orang itu pasti akan menunjukkan dirinya sendiri!"


Roni sebenarnya bingung dengan ucapan Kenzo. Namun dia harus menyahut ucapan Tuannya itu. "Baik, Tuan", sahutnya.


"Tolong pesankan makan malam buatku. Jangan lupa pesankan makan malam untukmu juga."


"Baik, Tuan." Roni gegas berjalan masuk ke dalam kamar.


Sementara Kenzo yang sangat merindukan sang istri harus menahan diri satu malam lagi agar bisa bertemu dengan istrinya. "Sedang apa dia, ya?" Kenzo tersenyum seraya meraih ponselnya dari dalam saku celana. Kemudian dia melakukan panggilan video dengan Alana.


"Halo, honey", sahut Alana dengan menunjukkan senyum diwajahnya.


"Halo, honey. Apa yang sedang kau lakukan?"

__ADS_1


Alana menunjukkan laptop dihadapannya. "Lagi buat laporan honey."


Kenzo menaikkan satu alisnya. "Siapa yang menyuruhmu membuat laporan?" tanyanya.


"Tidak ada, honey. Aku membuatnya untuk diriku sendiri."


Kenzo mengernyitkan keningnya. Dia tahu istrinya mahasiswi terbaik dikampusnya. "Jangan terlalu lelah. Jika kau merasa bosan, pergilah berkunjung ke rumah Ayah mertua."


"Hm, tapi sekarang sudah malam. Aku menunggu my honey pulang saja. Kita pergi ke rumah papa bersama-sama."


"Oke, honey. Tunggu kepulanganku ya."


Alana tersenyum bahagia seraya mengangguk cepat sebagai jawaban. Namun kedatangan Roni membuat senyum diwajah cantiknya hilang.


"Maaf, Tuan", ucap Roni seraya membalikkan badannya dan kembali masuk ke dalam.


"Honey, maaf aku ada urusan sebentar, nanti kita sambung lagi ya", ucap Kenzo saat baru saja menyadari kehadiran Roni dibelakangnya. Lalu dia memutus sambungan video call, setelah Alana membalas dengan mengucapkan kata bye.


...---...


Keesokan harinya.


Sebuah berita besar tersiar diberbagai media cetak dan penyiaran TV. Perusahaan keluarga Atmajaya mengalami kebangkrutan. Billy pun tidak terima perusahaannya hancur, sementara orang yang selama ini mendukungnya tetap tenang tanpa peduli padanya.


Melalui putra sulungnya, Billy meminta bantuan pada pendukungnya itu.


Saat ini Albert sudah berada di perusahaan milik keluarga Dave. Dia sudah menunggu lama di lobi perusahaan Ayah Dave, namun resepsionis tak kunjung memberinya kabar kapan dia diizinkan masuk.


"Mba, Apa saya sudah diperbolehkan masuk?" Lagi-lagi Albert bertanya saat tidak ada kepastian.


"Mohon bersabar ya, Pak", sahut sang resepsionis dengan sopan.


"Sabar, sabar! Dari tadi aku hanya mendengar kata itu. Apa mba pikir aku tidak punya kerjaan lain?"


Sang resepsionis tidak menyahut ucapan Albert. Dia membisu dan pasrah mendengar ocehan yang penuh amarah itu.


"Kenapa diam?" tanya Albert dengan tatapan tajam. Nafasnya yang naik turun menunjukkan kesabarannya sudah di ambang batas. "Katakan pada bosmu itu, jika dalam waktu satu menit dia tidak mengizinkan aku naik, maka aku tidak akan segan untuk memberitahu semua orang siapa dia sebenarnya."


Resepsionis wanita itu gegas menghubungi kembali sekretaris pemilik perusahaan untuk memberitahu pesan dari Albert.


"Baik, Bu", ucap sang resepsionis seraya menutup sambungan telepon.


"Maaf sudah menunggu lama, Pak. Silakan Pak Albert naik ke lantai 7 dengan menggunakan lift di sebelah kanan ya, Pak", kata sang resepsionis dengan ramah.

__ADS_1


"Dari tadi dong! Ini nunggu di ancam dulu!" ketus Albert. Lalu dia berjalan menuju pintu lift. Namun siapa sangka ada yang mengikuti Albert sesaat setelah Albert berjalan menuju pintu lift.


__ADS_2