
Tiba-tiba Dave memutus sambungan telponnya. "Em, itu aku memelihara seekor kucing persia. Dia sangat menggemaskan dan ku beri nama istri", sahutnya sedikit gagap.
Kenzo tidak percaya begitu saja dengan ucapan Dave. Dia menelisik ke dalam netra Dave. "Sejak kapan kau menyukai kucing?" tanyanya dengan penuh curiga.
Dave menghela nafas panjang, lalu bersandar pada kursi. Mata nanarnya menatap langit yang mulai gelap, seperti akan turun hujan. "Sejak aku mulai menyukai seorang wanita, tapi tak dapat ku miliki", sahutnya dengan nada lirih.
Kaki Kenzo melangkah maju seraya menarik salah satu kursi kosong dan menjatuhkan bokongnya di sana. "Kenapa kau tidak bisa memilikinya?" tanyanya penasaran.
"Kita sedang membicarakan kucing, kenapa malah membahas gadis?" elak Dave. Dia tidak ingin membicarakan wanita itu dengan Kenzo.
"Aku tidak tertarik pada kucing. Jadi ceritakan saja tentang wanita itu!" desak Kenzo, seolah melupakan perselisihan yang telah terjadi antara mereka saat di ruang rapat.
Tak ingin di cecar banyak pertanyaan oleh Kenzo, Dave pun mulai menceritakan tentang wanita yang dia maksud. "Pertama kali aku bertemu dengannya di kantin kampus." Dave terbayang kejadian saat pertemuan pertamanya. "Saat itu kami tidak sengaja bersinggungan, dia langsung meminta maaf padaku."
"Hanya karena itu kau langsung jatuh cinta?" potong Kenzo.
Tiba-tiba Dave bangkit dari tempat duduknya dengan raut wajah marah.
"Eh, tunggu dulu. Kau belum selesai bercerita!" cegah Kenzo, yang di balas dengan tatapan dingin oleh Dave. "Em, maaf kalau kau tidak suka ucapanmu di sela. Ayo, lanjutkan lagi ceritamu", pintanya.
Dave kembali duduk sembari menghela nafas. "Setelah itu, aku selalu memperhatikannya, tapi dia gak tahu sama sekali. Bahkan aku mencari tahu data pribadinya melalui website kampus. Ternyata dia mahasiswa terbaik di kampus", lanjutnya yang membuat Kenzo mendelik.
"Apakah selain istriku ada mahasiswa terbaik lainnya?" tanya Kenzo yang mulai curiga pada Dave.
"Kalau seangkatan istrimu, ya cuma dia yang terbaik. Tapi di angkatan sebelum dan sesudah istrimu ya pasti beda orang dong", jawab Dave dengan sedikit rasa gugup, karena Kenzo tidak mengalihkan pandangannya dari dirinya.
"Siapa nama wanita yang kau sukai itu?"
Pertanyaan menjurus Kenzo membuat Dave terdiam beberapa saat.
"Bukan istriku kan?" tebaknya.
"Ya, bukan dong. Kenapa kau mikirnya gitu?"
__ADS_1
"Jelas aku mikirnya gitu, karena semua kriteria yang baru saja kau sebutkan ada pada istriku!" pungkas Kenzo.
"Itu hanya pikiranmu saja. Jelas yang aku bicarakan adik kelas istrimu. Tapi aku gak bisa beritahu namanya", lanjutnya.
"Kenapa tidak bisa, ayolah ceritakan dengan lengkap. Jangan buat aku penasaran." Kenzo terus mendesak Dave, walaupun sahabat masa kecilnya itu mengabaikannya.
"Tuan..." panggil suara yang tak asing bagi Kenzo dan Dave. "Dari tadi pak George mencari Tuan", lanjutnya yang membuat raut wajah Dave berubah sendu, karena nama itu mengingatkan kegagalannya mendapatkan kontrak kerjasama.
"Oke. Ayo, kita temui pak George", sahut Kenzo buru-buru, agar Dave tidak semakin sedih. "Dave, lain waktu kita sambung ceritanya", lanjutnya seraya berjalan meninggalkan Dave.
"Syukurlah dia sudah pergi", ucap Dave bernafas lega. Lalu dia meneguk segelas air untuk menghilangkan rasa dahaga setelah diinterogasi oleh Kenzo.
...---...
Ting.
Pintu lift terbuka lebar. Kenzo dan Roni berjalan ke luar dari dalam lift.
"Tuan, apakah tidak sebaiknya kita juga kembali malam ini?" tanya Roni.
Roni pun membalas dengan anggukan. Dia tidak tahu tujuan Kenzo tetap tinggal hingga esok pagi. Padahal Pak George sudah kembali kenegaranya. Ucap Roni di dalam batin.
"Apa ada info terbaru tentang Richard?" tanya Kenzo saat mereka sudah berada di dalam kamar.
Roni gegas membuka ponselnya, lalu dia menunjukkan sebuah video pada Kenzo. "Ini hasil rekaman yang di ambil orang suruhan kita, Tuan", katanya seraya menyodorkan ponselnya.
Netra Kenzo fokus menonton video yang didalamnya tampak Richard tengah menerima telpon dari seseorang.
"Sudah habis?" suara Richard yang terdengar pada rekaman video itu.
"Hm, oke. Akan aku kirim lagi, tapi nanti setelah aku sampai di Jakarta", katanya dengan raut wajah kesal. Setelah itu dia memutus sambungan telepon.
"Apa sampai di situ saja?" tanya Kenzo saat video berdurasi 2 menit itu sudah berakhir.
__ADS_1
"Iya, Tuan", jawab Roni sembari menyimpan kembali ponselnya. "Sayang sekali kita tidak tahu dengan siapa dia bicara."
Belum sempat Kenzo membalas ucapan Roni, ponselnya tiba-tiba berdering. Netranya membulat sempurna kala membaca nama kontak di layar ponselnya. "Ini Richard", katanya, karena dia telah menyimpan nomor kontak semua yang akan hadir dalam rapat, termasuk nomor kontak Richard.
"Halo", jawab Kenzo santai.
"Sepertinya kau tidak peduli dengan istrimu lagi", ucap Richard dari seberang telepon.
"Mana mungkin aku tidak peduli! Hanya saja aku akan memenuhi permintaanmu itu, setelah aku bicara dengan istriku melalui video call", sahut Kenzo dengan nada serius.
Richard.tidak langsung menyahut ucapan Kenzo. Hanya helaan nafasnya yang memenuhi telinga Kenzo.
"Biarkan aku bicara dengannya sekarang! Sebelum pak George kembali ke negaranya", tawar Kenzo. "Bagaimana?" desaknya saat Richard tak kunjung membalas ucapannya.
"Aku benar-benar tidak tahu dia sedang bersama siapa saat ini. Tapi aku tahu di mana dia berada", imbuh Richard.
Mendengar ucapan Richard, raut wajah Kenzo berubah marah. "Kau ingin mempermainkanku? Cepat katakan di mana dia sekarang atau kau bahkan tidak bisa kembali lagi ke Jakarta!" ancam Kenzo dengan emosi.
"Aku sudah di bandara, bagaimana mungkin aku tidak akan sampai di Jakarta", sahut Richard bernada ledekan.
Tiba-tiba Kenzo tertawa keras. "Ha,ha,ha. Kalau begitu kita lihat saja apa pesawat yang kau naiki akan tiba dengan selamat di Jakarta", ucap Kenzo yang berusaha menakuti Richard.
Seketika hening. Tidak terdengar jawaban dari Richard.
"Sudah di putus", sesal Kenzo seraya menatap layar ponselnya.
"Apa Tuan percaya dengan semua omongan Richard?" tanya Roni yang sedari tadi duduk sambil menunggu Kenzo menyelesaikan panggilan telpon.
"Ya", jawab Kenzo singkat. "Richard tahu di mana Alana sekarang. Cuma aku merasa sedikit ganjil dengan foto yang dia kirimkan", lanjutnya yang membuat Roni mendelik. "Coba kamu perhatikan, di foto itu wajah Alana tampak bahagia, dia tidak tampak seperti sedang di culik", lanjutnya dengan raut wajah serius.
"Iya, saya sepakat dengan apa yang Tuan katakan", sahutnya dengan wajah tak kalah serius. "Apa jangan-jangan Nyonya hilang ingatan?" tebaknya kemudian.
"Kita kembali ke Jakarta sekarang!" ucap Kenzo.
__ADS_1
"Baik Tuan", sahut Roni.
Lalu mereka gegas mengemasi kopernya masing-masing. Tak lupa Roni memesan tiket keberangkatan mereka untuk malam ini.