Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Rencana Alexa gagal


__ADS_3

Sore hari.


Alana bersama dengan adik tirinya telah bersiap pergi ke kantor polisi.


"Ayo, kak", desak Alexa agar Alana tidak sempat bertemu dengan Ramond. Lelet banget sih dia! keburu pulang nih papa. Rutuk Alexa di dalam batin. Dia tidak ingin papanya menghalangi Alana melakukan apa yang dia minta.


"Jangan mendesakku!" tegas Alana sembari menatap tajam ke arah Alexa.


Mendengar ucapan Alana, Alexa sedikit gugup. Tatapannya pun liar untuk menghilangkan rasa gugupnya. "Hm, maafkan aku kak. Aku cuma sudah tidak sabar bertemu mama", jawabnya dengan nada lirih.


Alana tidak terpengaruh dengan ucapan Alexa. Dia malah semakin khawatir kalau keputusannya itu salah. "Aku akan menunggu papa pulang", kata Alana yang membuat Alexa tersentak kaget.


"Tidak bisa kak!" tegas Alexa tiba-tiba.


Sontak Alana kaget. "Kenapa?" tanyanya.


Sadar akan ucapannya yang terlalu frontal, Alexa berpura-pura menangis. "Hiks, hiks, Mungkin Kak Alana gak tahu bagaimana keadaan mama di sana. Tidur hanya beralaskan tikar bahkan tanpa memakai selimut. Badannya semakin kurus dan lusuh." Alexa menghentikan ucapannya. Lalu dia mengusap kasar air matanya. "Aku saja tak tega melihatnya, kak. Huwa..." Tangis Alexa semakin kencang memenuhi ruang tamu.


"Aku juga ingin papa ikut, karena bagaimanapun papa masih berstatus suaminya bibi."


Alexa mengepalkan tangannya sebagai luapan emosi. Banyak amat maunya, pakai acara ngajak papa segala lagi. Rutuk Alexa di dalam batin. "Hm, apa entar gak kelamaan kak, kalau harus nunggu papa balik?"


"Paling juga papa lagi di jalan", jawab Alana yang tetap ingin menunggu sang ayah pulang.


Tak ingin rencananya gagal, Alexa melakukan sesuatu diponselnya, hingga tak berselang lama ponselnya berdering. "Papa", ucapnya, lalu Alexa menempelkan ponselnya di telinga.


"Halo, Pa", sahut Alexa yang membuat Alana menoleh dan menggeser bokongnya agar lebih merapat ke Alexa.


"Hm, baiklah pa. Jangan pulang terlalu larut ya pa", jawab Alexa kemudian.


Merasa kesal karena tidak mendengar apapun. Alana mencoba menelpon sang ayah.


"Kakak mau nelpon Papa, ya? Ini masih terhubung kak!" seru Alexa. "Pa, kak Alana mau ngomong." Alexa buru-buru memberi ponselnya pada Alana.


Merasa curiga, Alana sempat berfikir sejenak. Namun sesaat kemudian dia menerima ponsel Alexa dan menempelkannya pada telinga. Tak biasanya papa mau menunggu selama ini. Ucapnya di dalam batin.


"Halo, Pa..." ucap Alana seraya menatap ke arah Alexa.

__ADS_1


"Halo sayang", sahut suara pria dari seberang telepon. Suaranya mirip papa, apa dia benaran papa? Tanya Alana di dalam batin. Meski suara yang Alana dengar persis suara papanya, dia tetap saja curiga.


"Papa lagi di mana?"


"Papa masih lembur, nak. Emang ada hal yang penting?"


"Apa Papa kangen sama mama Alexa?" tanya Alana, hanya ingin menguji sang ayah.


Terdengar helaan nafas dari seberang telepon. "Kalau papa boleh jujur, sebenarnya papa tidak begitu merindukannya", jawab Ramond yang membuat Alana yakin bahwa pria itu papanya.


"Bagaimana kalau bibi dibebaskan dari penjara?"


Pria diseberang telpon terdiam beberapa saat. Lalu terdengar kembali hembusan nafasnya. "Apa Alexa sedang mengancammu?"


"Bukan pa, Alana hanya ingin tahu pendapat papa saja. Kalau begitu sudah dulu ya, pa. Alana tidak mau mengganggu pekerjaan papa", sahut Alana. Lalu dia buru-buru memutus sambungan telepon meskipun pria itu masih menyerukan namanya dan meminta penjelasan. "Ini ponselmu", ucapnya sembari memberikan ponsel milik Alexa.


"Apa kita masih menunggu papa?" tanya Alexa saat menerima ponselnya dari tangan Alana.


Alana mengglengkan kepalanya "Ayo, kita pergi sekarang", jawab Alana walau masih ada sedikit keraguan. Perkataan pria yang mengaku sebagai papanya itu telah membuat Alana berubah pikiran.


"Ayo, kak", sahut Alexa dengan perasaan lega. Syukurlah dia tidak curiga. Ucap Alexa di dalam batin. Dia merasa sangat beruntung, karena telah bertemu dengan seorang pria paruh baya yang suaranya mirip papanya.


...---...


Di basement kantor Kenzo.


"Jadi kita pergi ke mana dulu Tuan?" tanya Roni yang merasa bingung dengan sikap sang bos.


"Ke florist terdekat", jawab Kenzo tanpa menatap Roni. Dia langsung masuk ke dalam mobil.


Akhirnya dia memutuskan membeli bunga untuk sang istri. Ucap Roni di dalam batin. Lalu dia juga masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan Kenzo tampak berbeda dari biasanya. Wajahnya murung sembari menatap jauh ke luar kaca jendela.


"Tuan..." panggil Roni memecah keheningan di antara mereka.


"Hm", jawab Kenzo singkat, seolah malas untuk berbicara.

__ADS_1


Roni pun ragu untuk melanjutkan ucapannya. Dia melihat ada kegelisahan di raut wajah Kenzo. "Hm, maaf Tuan. Tadi saya hanya ingin bertanya tentang Tuan Baron. Sepertinya dia sudah keluar dari rumah sakit, tapi belum pulih total. Dia juga tampak memakai kursi roda, apakah Tuan tetap akan melaporkannya?" Pertanyaan itu berhasil lolos dari mulut Roni.


Namun tidak ada jawaban dari Kenzo. Biasanya Kenzo begitu antusias untuk menghukum para pelaku yang telah membuat ayahnya tiada agar mendapatkan balasan yang setimpal.


Tak kunjung ada jawaban dari Kenzo. Sesekali Roni melirik ke arah spion dan melihat apa yang sedang dilakukan bosnya itu. "Tuan.... " panggil Roni kembali hingga membuyarkan lamunan Kenzo.


"Ya, ada apa?"


"Hm, tidak jadi Tuan."


"Oke", jawab Kenzo malas.


Roni pun mulai penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan bosnya itu. Namun dia sama sekali tak dapat menanyakannya. Dia tetap fokus menyetir hingga mereka tiba di sebuah toko bunga. "Sudah sampai Tuan", ucapnya saat mobil sudah terparkir.


"Oke", sahut Kenzo seraya turun dari dalam mobil.


...---...


Sementara di tempat berbeda, Alana dan Alexa baru saja melangkah masuk ke dalam kantor polisi. Alexa tersenyum saat sedang memikirkan sesuatu, dia tidak menyadari kalau senyuman itu terlihat jelas oleh Alana.


"Permisi, Pak", kata Alexa dengan ramah, seolah melupakan kejadian 2 hari yang lalu saat dirinya dan petugas jaga bertengkar hanya karena Alexa tak terima makanan yang dia bawa telah di ambil paksa oleh tahanan lainnya.


"Ya, ada yang bisa di bantu?"


"Saya ingin mencabut laporan", jawab Alexa penuh semangat.


Petugas jaga itu menatap Alexa dengan tatapan curiga. "Mba ini yang ribut-ribut kemaren kan?"


"Ribut-ribut apa? Bapak asal nuduh aja!" elak Alexa.


Tak ingin memperpanjang masalah dan akhirnya dia juga yang kena marah atasan, petugas itu pun menangatakan hal yang lain. "Untuk pencabutan berkas ada ketentuannya", ucap pak polisi dengan ramah. "Siapa yang telah melapor sebelumnya?"


Alana dan Alexa saling menatap. "Suaminya", tunjuk Alexa pada Alana.


"Silakan suami ibu ini yang datang kemari", kata pak petugas.


"Tidak bisa diwakili istrinya pak?"

__ADS_1


"Tidak bisa bu", jawab petugas dengan tegas.


Raut wajah bahagia Alexa seketika berubah. Dia kesal karena semua rencana yang telah dia susun dengan rapi gagal total.


__ADS_2