
"Alana...!" teriak Ramond kala dirinya kehilangan jejak Alana.
"Ke mana dia pergi?" tanya Kenzo dengan tidak sabar, karena rasa rindunya pada sang istri sudah tak terbendung lagi.
"Tadi aku melihatnya pergi ke arah sana", tunjuk Ramond ke arah parkiran.
Tanpa mengucapkan sepata kata, Kebzo gegas berlari mengejar ke arah yang di tunjuk Ramond, hingga dalam sekejap dia sudah berada di tempat parkir. Netranya menangkap sosok yang dia yakini itu adalah Alana. Kenzo kembali berlari mengejar wanita itu. "Honey..." panggilnya seraya menarik lengan wanita itu.
"Kamu siapa?" tanya wanita itu dengan muka cengo.
Kenzo gegas melepaskan pegangannya. "Maaf, maaf, saya salah mengenali orang", ucap Kenzo dengan menunduk. Tatapan tajam pria bertubuh kekar yang berdiri tepat di samping wanita itu memaksanya buru-buru pergi dari sana. "Saya pamit, permisi!" katanya kemudian, karena dia tidak ingin terjadi keributan yang bisa menunda waktunya untuk mencari keberadaan Alana.
"Tuan..." sapa Roni yang sempat kehilangan jejak Kenzo. "Di mana Nyonya?" tanyanya kemudian sambil melihat ke sekeliling.
"Tidak ada", jawab Kenzo lesu. Lalu dia berjalan melewati Roni untuk mencari Alana di tempat yang berbeda, namun masih di sekitar rumah sakit.
Roni pun mengikutinya tanpa membuka suara. Mereka terus berjalan hingga sampai di meja resepsonis.
"Sus, coba cek pasien atas nama Alana?" tanya Kenzo pada sang resepsionis.
"Sebentar ya, Pak", jawab sang perawat dengan ramah. Tangannya gegas mengetik nama Alana di keyboard. "Maaf, Pak. Di sini tidak ada pasien yang bernama Alana", ucapnya kemudian.
Tiba-tiba Kenzo menjulurkan kepalanya. "Coba cek lagi, Sus. Mana tahu tadi ada huruf yang salah", pohon Kenzo. "Saya bantu mengeja ya, A-la-na", katanya.
Sang perawat menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sudah benar kok, Pak. Ini saya coba sekali lagi ya, A-la-na", ujar perawat wanita itu dengan sedikit kesal. "Tetap gak ada lo, Pak", lanjutnya dengan menunjuk layar didepannya.
Tidak puas dengan jawaban sang perawat. Kenzo memaksa sang perawat untuk mencobanya sekali lagi.
"Maaf, Pak. Saya masih banyak pekerjaan. Tolong kasih kesempatan pada antrian berikutnya", ucap perawat itu dengan sopan.
"Roni cari tahu pimpinan rumah sakit ini segera!" titah Kenzo.
Sontak sang perawat mendelik saat mendengar ucapan Kenzo.
__ADS_1
"Baik, Tuan", sahut Roni sembari menghubungi seseorang.
Tiba-tiba sang perawat tersenyum meledek. Dia mengira Kenzo dan Roni sedang menipu dirinya. "Cih, emangnya bapak pikir saya akan takut?" tanyanya dengan nada angkuh. "Saya tidak akan pernah takut, karena saya sudah bekerja sesuai prosedur!" tukasnya kemudian.
Kenzo juga berdecih. "Tadinya saya tidak berniat untuk melaporkan anda. Tapi melihat cara bicara anda yang angkuh, saya jadi berubah pikiran", sahut Kenzo dengan tatapan serius.
"Tuan, kita sudah bisa bertemu dengan pimpinan rumah sakit ini", kata Roni sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Masih ada waktu untuk meminta maaf", ucap Kenzo sebelum berbalik. Namun sang perawat memberi tatapan menantang, hingga membuat Kenzo semakin kesal. Dia beranjak dari posisinya berdiri dan berjalan meninggalkan sang perawat tanpa sepata kata.
...---...
Setelah berbincang lama dengan pimpinan rumah sakit. Kenzo dan Roni pergi menuju ruang kontrol CCTV. Di dalam ruangan itu mereka ditunjukkan rekaman kejadian yang ingin mereka lihat.
15 menit pun berlalu, namun mereka belum melihat sosok Alana di layar monitor.
"Stop!" ucap Kenzo saat melihat seorang wanita berjalan menuju resepsionis. "Itu dia!" tunjuknya pada layar monitor. Lalu dia menatap ke arah Roni. "Coba kamu yang pergi cek di resepsionis!" titah Kenzo. Selain malas bertemu dengan sang resepsionis, dia juga ingin mengetahui bersama siapa Alana datang ke rumah sakit.
"Apa Tuan ingin melihat rekaman yang lain?" tanya petugas CCTV dengan ramah.
"Diparkiran!" jawab Kenzo dengan cepat.
Lalu petugas membuka rekaman CCTV di tempat parkir.
Saat tengah fokus menatap layar monitor, ponsel Kenzo berbunyi. "Siapa sih?" gerutunya seraya menatap layar ponselnya. "Roni!" katanya sambil menggeser tombol di layar ponselnya.
"Halo, bagaimana hasilnya?" tanya Kenzo to the point.
"Memang di sini tidak ada nama Nyonya, Tuan. Tapi ada nama yang sangat mirip", jawab Roni dari seberang telepon.
"Mirip?" ulang Kenzo.
"Ya, Tuan. Namanya Ayana, dan wajahnya juga mirip dengan Nyonya. Perawat sangat hafal dengan wajah Nyonya, karena katanya dia ibu hamil yang sangat cantik", ucap Roni mengulangi perkataan sang resepsionis.
__ADS_1
Kenzo tersentak mendengar perkataan Roni. Hampir saja ponsel ditangannya jatuh, jika dia tidak buru-buru sadar. "Dia sedang hamil?" tanya Kenzo dengan nada lirih.
"Info dari perawat ini seperti itu, Tuan. Dan saya juga sudah mengantongi alamatnya. Kita bisa pergi ke sana sekarang", kata Roni dengan bersemangat.
"Tunggu aku di sana" titah Kenzo.
"Baik, Tuan", sahut Roni bersamaan dengan berakhirnya sambungan telepon.
Tak butuh waktu yang lama, Kenzo sudah berada di depan sang resepsionis.
"Tuan, maafkan saya. Tadi saya sempat bersikap kasar dengan Tuan", ucapnya dengan menunduk.
"Itu bukanlah apa-apa, dibandingkan dengan apa yang sudah kau berikan pada kami", jawab Kenzo dengan rasa bahagia. "Terimakasih", lanjut Kenzo dengan tersenyum tulus. Lalu dia dan Roni pergi setelah berpamitan.
...---...
Sementara di ruang rawat Alexa, tampak Ramond tertidur karena lelah menunggu Alexa yang belum sadarkan diri.
"Kenzo..." panggil Alexa dengan pelan saat baru saja sadarkan diri setelah pasca operasi. "Kenzo.." ulangnya memanggil nama Kenzo, karena tidak ada yang menyahut panggilannya.
Tiba-tiba Ramond terbangun, karena tidurnya terganggu oleh pergerakan Alexa di tempat tidur. "Alexa!" teriak Ramond spontan. Dia mengira sesuatu yang buruk terjadi pada Alexa.
"Papa, Alexa di sini", sahut Alexa dengan nada lirih. "Maafkan Alexa ya, Pa", ucapnya kemudian dengan isak tangis.
"Sudah, jangan nangis", pinta Ramond seraya mengusap lembut rambut panjang Alexa. "Papa tahu kamu sangat mencintai Kenzo. Tapi bukan seperti ini caranya, nak. Kamu kan sudah janji sama Papa, untuk tidak mengganggu rumah tangga Alana."
"Papa juga janji untuk membujuk Kenzo, supaya membebaskan Mama, tapi sampai sekarang papa belum melakukannya!"
Ramond terdiam sesaat. Lalu dia menghela nafas panjang. "Tidak bisakah kau menunggu sampai Alana kembali?" tanya Ramond dengan tatapan serius.
"Ya, kalau kak Alana kembali, kalau tidak?"
Perkataan Alexa membuat Ramond marah. "Alexa cukup!"
__ADS_1