
Netra Roni fokus melihat ke depan saat menyetir, namun perasaannya tetap gelisah. Baru saja tadi dia memuji perubahan sikap Kenzo, tapi harus dia tarik kembali kata-katanya. Dia tetaplah bos yang mendominasi. Gerutu Roni di dalam batin.
"Apa kau sedang mengataiku di dalam hatimu?" tanya Kenzo sembari menatap tajam ke arah Roni melalui spion.
"Mana mungkin, Tuan", jawab Roni tersenyum canggung. Apa dia benar-benar cenayang?" rutuk Roni di dalam batinnya.
"Aku bukan cenayang!" jawab Kenzo. Lagi-lagi Roni kena serangan balik.
Sementara Alana hanya bisa tersenyum melihat perang antara bos dan asistennya itu. "Sayang, aku lupa memberitahumu. Saat di bandara aku juga membeli baju couple untuk kita", ujar Alana yang membuat Kenzo mengalihkan perhatiannya pada sang istri.
"Mana? Aku ingin melihatnya."
"Apa my honey yakin ingin melihatnya di sini?"
"Yakin, honey", jawab Kenzo dengan tidak sabar.
"Itu berarti Pak Roni juga akan melihatnya", lanjut Alana.
"Tidak masalah", jawab Kenzo cepat. Sebenarnya dia malah ingin menunjukkannya pada Roni.
"Hm, oke honey", sahut Alana dengan tersenyum. Tangannya meraih sesuatu dari dalam paperbag. "Tada... Ini baju couple kita honey."
Kenzo meraih baju couple jersey dari tangan Alana. "Kenapa sama dengan Roni, honey?" tanya Kenzo dengan raut wajah kecewa.
"Tidak sama honey. Ini dari club yang terkenal di sana. Sementara punya pak Roni dari klub yang berbeda", jelas Alana.
"Hm, aku hanya kaget saja honey membelikan jersey untuk kita. Tapi aku tetap suka, kok", ucap Kenzo sembari mengecup bibir Alana.
"Hm, syukurlah honey menyukainya", sahut Alana dengan menjauhkan wajahnya dari Kenzo. Dia tahu Roni melihat mereka melalui spion.
Tuan pasti sengaja melakukannya. Ucap Roni di dalam batin.
"Iya, aku memang sengaja melakukannya", kata Kenzo seraya melirik ke spion, hingga membuat Roni tersentak kaget.
"Kita sudah sampai Tuan", kata Roni saat mobil sudah terparkir di halaman rumah Kenzo.
"Ayo, sayang", ajak Kenzo tanpa menyahut Roni. Dia kembali menunjukkan kemesraan di depan Roni, hingga membuat asistennya itu menangis di dalam batinnya.
"Jangan mengganggunya lagi, honey", ujar Alana. Sorot matanya membuat Kenzo patuh.
"Roni, ikut saya ke ruang kerja!" titah Kenzo.
"Baik, Tuan", sahut Roni sembari melangkah di belakang Kenzo. Dia tidak lagi mengatakan apapun di dalam batinnya, agar Kenzo tidak mengungkap isi hatinya.
__ADS_1
...---...
Di dalam ruang kerja Kenzo, Roni sudah berulang kali menganggukkan kepalanya dengan wajah serius.
Sebuah bukti baru yang mampu membuat Baron di tahan kembali telah ditemukan oleh Kenzo dan Roni. Kini mereka akan melaporkannya pada pihak yang berwajib.
Hasil kerja Roni selama 5 hari Kenzo tinggalkan, telah membuat Kenzo puas. Bahkan Roni berhasil membuat saham perusahaan Baron hancur.
Pagi ini sebuah berita hangat dipertontonkan. Perusahaan Baron mengalami kebangkrutan, karena saham mereka anjlok. Sementara Billy, rekan bisnis Baron tidak bisa membantu, karena dia telah lebih dulu di serang oleh Kenzo.
Dalam berita pagi ini, kembali menyajikan berita hangat tentang Baron yang tiba-tiba jatuh sakit. Saat ini dia di rawat intensif di rumah sakit.
"Roni, tunda laporannya ke pihak berwajib. Kita tunggu sampai keadaannya pulih!" ujar Kenzo.
"Baik, Tuan", sahut Roni bersamaan dengan suara ketukan pintu.
"Siapa?" tanya Kenzo sembari memberi isyarat pada Roni untuk membereskan berkas yang ada di atas meja.
"Ini aku honey", sahut Alana dari balik pintu.
"Masuklah, honey!" seru Kenzo.
Tak berselang lama Alana masuk. Tangannya membawa nampan berisi 2 gelas kopi.
"Aku khawatir kalian membicarakan sesuatu yang sangat serius, jadi aku menawarkan diri pada Bi Utin untuk membawakannya."
"Kau sangat mengerti suamimu ini. Terimakasih buat kopinya, honey", ucap Kenzo sembari meraih gelas di atas nampan.
"Terimakasih Nyonya", ucap Roni saat mengambil kopi yang di tinggal Kenzo.
"Oke, kalian nikmati pelan-pelan. Aku tidak akan mengganggu lagi", ucap Alana sembari beranjak dari posisinya.
"Oke, honey. Tunggu suamimu di bawah, kita sarapan bersama", sahut Kenzo mengingatkan.
"Oke, honey", jawab Alana saat menutup rapat pintu.
...---...
Setelah beberapa jam lamanya. Kenzo dan Alana yang disupiri Roni, bersiap untuk pergi ke kantor. Mobil pun melaju meninggalkan kediaman Kenzo. Roni tetap fokus menyetir membelah keramaian kota.
Waktu 20 menit terasa begitu singkat, karena Roni mengencangkan sabuk pengaman, hingga mereka tiba di depan pintu dengan sedikit kacau.
"Maaf, Tuan. Aku tidak sengaja melakukannya", ucap Roni kala mereka lolos dari pengejaran para penjahat.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Sekarang hubungi para pengawal. Aku khawatir mereka masih berada di sekitar sini dan menunggu kita lengah."
"Baik, Tuan."
Kenzo gegas membawa Alana masuk ke dalam lobi kantor. Dia ingin melindungi Alana dari bahaya. "Honey, jangan pergi ke luar kantor atau kemanapun tanpa sepengetahuanku. Tetaplah tinggal diruangan!" titah Kenzo yang khawatir para penjahat mengincar Alana.
"Oke, honey", jawab Alana saat mereka sudah berada di dalam lift.
Sementara Roni sudah menyiapkan banyak pengawal untuk menjaga keamanan di kantor.
...---...
Di dalam ruang kerja Kenzo. Alana duduk dengan gelisah karena belum mendapat kabar dari sang suami. Dia khawatir terjadi sesuatu pada Kenzo.
Cklekk
"Akhirnya kau datang juga, honey", ujar Alana kala melihat wajah Kenzo muncul dari balik pintu. Dia bangkit dari tempat duduknya serta berjalan menghampiri Kenzo. "Honey, apa ada masalah yang serius?" tanyanya kemudian.
"Sedikit, honey. Tapi kau tidak perlu kiatir. Pihak berwajib sedang menanganinya."
Alana mendelik mendengar ucapan Kenzo. Jika melibatkan pihak berwajib berarti masalahnya pasti sangat serius. Ucap Alana di dalam batin. Baru saja dia akan melanjutkan ucapannya, ponselnya tiba-tiba berbunyi.
"Honey, aku keluar sebentar", kata Kenzo sembari berjalan menuju pintu ke luar. Sementara Alana tidak dapat menahannya, karena suara ponselnya yang sangat mengganggu.
"Alexa!" ucap Alana kala melihat nama di layar ponselnya. "Apa dia akan marah-marah, karena Kenzo mengusirnya saat di Paris?" tebak Alana. Lalu tangannya menggeser tombol hijau itu.
"Halo..." sahut Alana.
"Kenapa lama sekali angkat telpon? Apa kakak sengaja?" tanya Alexa dengan nada tidak ramah.
"Ada apa?" tanya Alana balik tanpa peduli dengan ocehan Alexa.
"Jangan pura-pura lagi! Aku tahu kakak sangat membenci Mama, karena telah menjadikanmu pembantu di rumah ini, tapi itu kan sepadan dengan apa yang diperbuat mamamu!"
"Katakan dengan jelas, omonganmu sungguh berbelat belit!" tukas Alana yang tidak sabar dengan penjelasan Alexa.
"Kenapa kau melaporkan Mama ke polisi? Apa kau tidak lagi mengingat kebaikan Mama yang merawatmu hingga dewasa?"
Alana bingung dengan pertanyaan Alexa. "Bibi dilaporkan ke polisi?" ulang Alana. "Tapi siapa yang melakukannya?"
"Kau masih saja berpura-pura! Tunggu dan lihat aku membongkar sifat aslimu pada Kenzo." pungkas Alexa sembari menutup sambungan telepon.
Tanpa Alana sadari ponselnya masih menempel ditelinga. Dia mencoba mencerna ucapan Alexa barusan. "Siapa yang melaporkan bibi ke polisi?" tanya Alana bergumam.
__ADS_1