
Baru saja Alexa menutup pintu rumah, mobil yang dikendarai Roni sudah melesat meninggalkan halaman rumah Ramond.
"Tunggu aku!" teriak Alexa. Namun mobil semakin melaju kencang. "Lagi-lagi asisten yang satu ini selalu cari gara-gara denganku!" kesalnya seraya meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
...---...
Dalam waktu 20 menit Roni telah menemukan titik lokasi yang telah dia lacak melalui kalung milik Alana. Rasa khawatir Kenzo, membuatnya terpaksa memasang alat pelacak pada kalung Alana, tanpa sepengetahuan istrinya itu.
"Ayo, kita masuk!" ajak Kenzo yang sudah tidak sabar mencari keberadaan Alana.
"Maaf, Tuan. Bukan maksud untuk memberi perintah. Tapi ada baiknya kita menunggu para pengawal, karena kita tidak tahu orang seperti apa yang sedang kita hadapi saat ini", tutur Roni memberi saran.
Kenzo mengangguk sebagai jawaban. "Iya, kau ada benarnya juga."
Baru saja Kenzo menyelesaikan ucapannya, para pengawal datang menghampiri mereka.
"Tiga orang masuk lebih dulu, sisanya menunggu di sini", titah Kenzo pada kelima orang pengawal.
"Siap Tuan!" sahut para pengawal. Lalu mereka gegas bergerak melakukan tugas sesuai perintah Kenzo tanpa ada yang saling tunjuk. Tiga orang maju dan sisanya benar-benar menunggu.
Kenzo, Ramond dan Roni berjalan di belakang ketiga pengawal dengan sangat hati-hati, agar tidak memimbulkan suara.
"Tuan, kami akan berpencar. Apakah Tuan akan menunggu di sini?" tanya pengawal dengan suara pelan.
"Kami tunggu di sini saja", jawab Kenzo berbisik juga.
Gedung suram dan tampak gelap membuat para pengawal Kenzo harus memakai alat penglihatan di tempat gelap. Mereka menyusuri gedung sepi itu, namun tak ada siapapun di sana. Akhirnya mereka memutuskan kembali menemui Kenzo.
"Tuan, kami tidak menemukan siapapun di sini", kata salah seorang pengawal.
Sontak Kenzo menoleh ke arah Roni. "Apa kau salah membaca titiknya?"
"Tidak Tuan. Saya yakin titiknya sudah benar", Roni menunjukkan Ponselnya pada Kenzo.
Kenzo langsung meraih ponsel Roni. Netranya menatap fokus arah titik kalung Alana berada. Kemudian dia mengikuti arah yang ditunjukkan titik itu. "Di depan!" katanya seraya berjalan ke depan beberapa langkah, dan tiba-tiba kakinya menginjak sesuatu. Dengan membungkuk Kenzo memungutnya. "Aku menemukannya!" ucapnya kemudian saat mengenal kalung milik Alana.
"Bagaimana mereka bisa tahu di kalung Nyonya Alana ada pelacak?" tanya Roni bingung.
"Alexa!" jawab Kenzo dan Ramond bersamaan.
Menantu dan mertua cukup kompak. Ucap Roni di dalam batin. Meskipun sebenarnya dia ingin mengucapkannya langsung, namun dia tidak mau Tuannya itu mencabut kembali kenaikan gajinya.
__ADS_1
"Aku akan menelpon Alexa", kata Ramond seraya meraih ponselnya dari dalam saku.
"Maaf, ayah mertua", ucap Kenzo yang membuat Ramond menghentikan tangannya mencari nama kontak Alexa diponselnya.
"Ya, ada apa?"
"Bagaimana kalau ayah mertua menelpon di dalam mobil saja, demi menghemat waktu. Karena kita akan pergi ke kantor polisi", lanjut Kenzo.
"Owh, tidak masalah. Ayo, kita berangkat", sahut Ramond sembari berjalan dengan menggenggam ponsel ditangannya.
...----...
Sesuai dengan dugaan Kenzo, tidak ada gunanya menghubungi Alexa, karena dia sangat kenal sifat dan watak wanita yang pernah menjadi pacarnya itu.
"Kenapa selama ini aku tidak menyadari kalau kedua putriku memiliki sifat yang jauh berbeda?" tanya Ramond dengan nada lirih.
Kenzo tersenyum tipis saat mendengar ucapan Ramond. "Ayah mertua sudah tinggal bersama Alana dan Alexa selama belasan tahun, tapi baru menyadarinya sekarang? Sungguh sulit untuk dipercaya", kata Kenzo yang membuat Ramond semakin merasa bersalah.
"Kita sudah sampai Tuan", kata Roni saat mobil terparkir di area parkir kantor polisi.
"Oke, tolong kamu cek CCTV yang ada di sekitar sini, karena kemungkinan besar Alana menaiki taksi online", ucap Kenzo sebagai perintah
Mereka menyusuri sepanjang jalan hanya untuk melihat kamera CCTV.
"Di sini ada Pak", kata pengawal berkulit sawo matang.
Roni dan dua orang pengawal lainnya gegas datang mendekat. "Di mana?" tanya Roni.
Pengawal itu mengangkat jari telunjuknya. "Itu Pak", jawabnya.
Roni mendongak. "Oke, kita coba bertanya pada pemilik CCTV", katanya sembari memencet bel.
Sudah lima menit berlalu, namun pemilik rumah tak kunjung membukakan gerbang. Tiba-tiba ponsel Roni berdering. "Tuan Kenzo", katanya saat membaca nama kontak di layar ponselnya.
"Halo, Tuan", sahut Roni.
"Kalian di mana?"
"100 meter dari kantor polisi Tuan", jawabnya.
"Apa kalian menemukan sesuatu di sana?" tanya Kenzo kembali.
__ADS_1
"Iya Tuan. Kami menemukan kamera CCTV yang bergerak di sini. Tapi sedari tadi pemiliknya tidak mau membukakan pintu gerbangnya."
"Apa kau melihat nama pemilik rumah di sana?"
"Tidak ada Tuan. Hanya nomor rumah 402", jawab Roni.
"Oke, aku coba minta bantuan pak polisi. Tunggu saja di sana."
"Baik,.Tuan", sahut Roni. Lalu terdengar suara sambungan teleppn terputus.
Tak berselang lama Kenzo menelpon. Kenzo meminta Roni dan ketiga pengawal kembali ke kantor polisi.
Setelah tiba di kantor polisi Kenzo memberitahu Roni bahwa dia sudah mengantongi nomor plat taksi online yang ditumpangi Alana. Besok pagi mereka akan mendatangi kantor taksi online itu untuk mencari keberadaan sang supir.
"Ayo, kita pulang", kata Kenzo dengan wajah lesu.
"Tolong antar papa mertuamu ini dulu", ucap Ramond.
"Papa mertua tenang saja. Aku bukan menantu yang kejam", sahut Kenzo dengan tersenyum. Lalu mereka masuk ke dalam mobil.
Diperjalanan pulang ke rumah kediaman ayah mertua Kenzo, ponsel Ramond tiada henti berbunyi. "Kenapa Alexa terus menghubungiku?" kesalnya.
"Angkat saja pa. Barangkali itu telpon penting", ucap Kenzo, namun dalam pikirannya dia bisa menebak kalau Alexa hanya ingin memastikan apakah mereka menemukan Alana.
"Halo", sahut Ramond saat sudah menggeser tombol hijau diponselnya.
"Halo, Pa. Apa kak Alana sudah ditemukan?" tanyanya persis dugaan Kenzo.
"Sudah! Emangnya kenapa?"bohong Ramond, hanya untuk tahu reaksi putrinya itu.
"Em, baguslah kalau sudah ketemu. Alexa kuatir terjadi apa-apa dengan kak Alana", jawabnya dengan suara bergetar.
"Hm, oke", ucap Ramond sembari menutup sambungan telepon.
Kenzo menoleh ke arah ayah mertuanya. "Ada apa papa mertua?" tanyanya.
"Dia sangat gugup. Nada suara Alexa seperti kaget, saat aku mengatakan Alana sudah kita temukan."
"Papa mertua", panggil Kenzo dengan sopan. Lalu dia menatap Ramond yang juga menatap dirinya. "Bukan aku tidak bisa memaksa Alexa untuk mengatakan yang sebenarnya, tapi dia adalah putri kandung papa. Aku tidak ingin melampui wewenang papa mertua", lanjut Kenzo dengan sopan.
"Kau benar menantuku. Biar urusan Alexa, aku yang selesaikan", sahut Ramond.
__ADS_1