
Alana tersenyum menatap wajah tampan sang suami yang terus berkeringat akibat luapan panas masakan dari dalam wajan.
"Apa kau baik-baik saja, honey?" tanya Alana kala melihat wajah memerah Kenzo
Kenzo menoleh seraya tersenyum pada Alana. "Jangan ragukan kemampuanku, honey", sahut Kenzo percaya diri.
Aroma masakan Kenzo menyeruak masuk ke dalam penciuman Alana, hingga membuatnya merasakan mual. "Uek, uek, uek." Alana menutup mulutnya seraya berlari ke luar dapur.
"Honey!" teriak Kenzo memanggil Alana, lalu dia buru-buru menyerahkan masakannya pada chef.
Kenzo menatap iba sang istri yang tiada henti mrengeluarkan cairan dari dalam mulutnya.
"Maafkan suamimu ini honey", ucap Kenzo lirih. Dia sungguh tak tega melihat sang istri lemas tak berdaya.
"Aku yang salah honey", jawab Alana sambil mengusap bibirnya. "Seharusnya dari awal aku memberitahumu, kalau aku tidak bisa mencium aroma saos", lanjutnya. Lalu dia duduk di salah satu kursi.
"Kalau begitu kita pergi ke rumah sakit saja. Aku khawatir anak di dalam perutmu juga ikut mual", ucap Kenzo dengan ekspresi panik.
Namun Alana menatapnya dengan muka cengo. "Tidak perlu honey. Kami berdua baik-baik saja kok."
Tanpa aba-aba Kenzo mengangkat tubuh Alana.
"Honey, apa yang kau lakukan? Aku masih bisa jalan sendiri!" ucap Alana dengan sedikit gugup, karena semua mata sedang menatap mereka.
"Roni ayo kita ke rumah sakit!" titahnya saat Roni tengah asyik mengobrol dengan resepsionis.
"Oke, Tuan." Roni gegas berlari menuju mobil yang terparkir di tempat khusus dan menjemput Kenzo dan Alana di depan pintu masuk lobi hotel. Lalu dia keluar untuk membukakan pintu mobil.
"Kita ke rumah sakit langganan keluarga kami saja", ucap Kenzo saat sudah berada di dalam mobil.
"Baik, Tuan", sahut Roni seraya melajukan kendaraan menuju rumah sakit.
...----...
Kurang dari 20 menit mereka sudah tiba di rumah sakit. Mereka pun langsung menemui dokter yang telah dihubungi oleh Kenzo saat mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit.
"Apa keluhannya, Bu?" tanya sang dokter dengan ramah.
__ADS_1
"Dia muntah saat mencium aroma saos dok", ujar Kenzo dengan raut wajah sendu.
"Owh, begitu. Apa ada keluhan lainnya?'
"Ada dok", jawab Kenzo sembari memegang perut besar Alana. "Tolong anak kami juga, dok", lanjut Kenzo.
Mendengar ucapan Kenzo Sang dokter tampak khawatir. Dia pun menatap serius wajah tampan Kenzo.
"Dia muntah di dalam kandungan, dok. Coba dokter bayangin!"
Sang dokter hampir saja tertawa mendengar ucapan Kenzo. Sementara Alana mengusap wajahnya menahan rasa malu.
"Maafkan suami saya dok. Mungkin dia belum memahami kondisi ibu hamil, karena ini adalah anak pertama kami."
Sang dokter manggut-manggut seraya tersenyum pada Alana. "Saya paham kok, Bu. Kalau begitu saya akan cek dulu, ya", sahut sang dokter. Lalu dia mulai melakukan pemeriksaan pada Alana.
Sementara Kenzo tampak sangat antusias ingin mengetahui kondisi anaknya.
"Usia kandungannya 27 minggu. Ukuran kepala dan berat badan semuanya normal. Anaknya laki-laki. Detak jantungnya bagus. Artinya anak Tuan Kenzo sehat", ucap sang dokter dengan tersenyum.
"Syukurlah", ucap Kenzo bernafas lega. Lalu dia mencium kening Alana seraya berkata, "I love you."
"Oke, terimakasih dok", sahut Kenzo saat menerima resep. Lalu dia dan Alana pamit.
...---...
Di dalam mobil Kenzo tiada henti berbicara pada anak dalam kandungan Alana.
"Honey, jangan ganggu anak kita. Dia pasti lagi tidur!" ucap Alana yang terganggu dengan suara Kenzo.
"Tapi anak kita belum mengenal suara papanya, honey."
"Iya, aku tahu, honey. Tapi kan masih ada hari esok, sampai menunggu dua bulan hari kelahiran anak kita. My honey bisa gunakan waktu itu untuk berbincang dengan anak kita. Bukan seperti yang my honey lakukan sekarang!"
"Oke, honey", jawab Kenzo sembari mengusap perut besar Alana. "Besok kita lanjut lagi ya, nak." ucapnya dengan tersenyum.
Mobil pun kembali parkir di depan lobi hotel. "Sudah sampai Tuan", kata Roni.
__ADS_1
Kenzo dan Alana gegas turun dari mobil. Walau Alana tak mengingini mie samyang lagi, namun Kenzo memaksanya agar calon anak mereka tidak ngences katanya. Alana terpaksa mengikuti keinginan sang suami, karena ini adalah kali pertama Kenzo berinteraksi dengan anak dalam kandungan Alana.
Sesampainya di restoran hotel, Alana disuguhi mie samyang. Tampilan yang menggugah selera membuat Alana ingin melahapnya dalam sekali kunyahan.
"Honey, bukankah kau tidak mengingininya lagi?" tanya Kenzo dengan mata terbelalak.
Alana mendongak seraya menatap Kenzo dengan tersenyum. "Um, mie yang ini bikin nagih, honey", ucapnya dengan mulut belepotan.
Kenzo pun tersenyum melihat sang istri makan layaknya anak kecil. "Makannya pelan-pelan dong honey." Kenzo mengusap lembut mulut sang istri.
"Sudah habis", kata Alana dengan bersendawa. Lalu dia tersenyum menampilkan gigi rapinya.
Kenzo pun ikut tersenyum melihat tingkah sang istri. "Apa my honey masih menginginkannya?" tanyanya kemudian.
Alana menggelengkan kepalanya. "Tidak honey. Aku sudah kenyang." Alana menunjuk perut buncitnya.
"Oke, kalau begitu kita ke kamar", ajaknya seraya membantu sang istri berdiri. Lalu mereka berjalan menuju pintu lift.
Tak berselang lama, mereka sudah berada di depan pintu kamar. "Apa kita akan berada dalam satu kamar?" tanya Alana yang membuat Kenzo mengernyit bingung.
"Kenapa my honey bertanya seperti itu?" tanya Kenzo saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Em, kita sudah lama tidak tidur di atas ranjang yang sama. Aku sedikit canggung honey", ucap Alana jujur.
Kenzo pun tersenyum mendengar penuturan sang istri. "Aku tidak akan melakukan apapun tanpa seizin darimu honey. Tapi tolong izinkan suamimu ini memelukmu saat tidur", pinta Kenzo dengan nada lembut.
Untuk sesaat Alana membisu. Dia benar-benar bingung harus bagaimana. "Em, baiklah honey", jawabnya gugup.
Kenzo gegas mengangkat tubuh Alana menuju kamar mandi. Dia membantu sang istri untuk melakukan ritual malamnya. Setelah itu Kenzo membawa sang istri ke atas tempat tidur.
"Good night, honey", ucap Kenzo sembari mengecup kening Alana dan memeluknya dari belakang.
...----...
Tanpa terasa malam sudah berganti pagi. Alana pun mengerjap saat merasakan silaunya cahaya mentari pagi yang menyeruak masuk melalui celah jendela kamarnya.
"Dimana suamiku?" tanyanya bergumam kala dirinya tidak melihat Kenzo disampingnya. Lalu bangkit dari atas tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. "Tidak ada", gumamnya bersamaan dengan pintu di buka oleh seseorang.
__ADS_1
"Sudah bangun ya", ucap Kenzo seraya berjalan dengan membawa nampan berisi makanan. "Ini, aku membawakan sarapan untukmu", lanjutnya yang membuat Alana terpana.
"Ini adalah moment bersejarah, karena ini kali pertama suamiku membawa sarapan khusus untukku", katanya dengan mata berbinar.