Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Kesedihan Roni


__ADS_3

Di rumah kediaman Ramond.


Entah sudah berapa banyak kata yang dilontarkan Ramond pada putri sulungnya itu, hanya untuk menasehatinya agar segera pulang ke rumah suaminya.


"Untuk terakhir kalinya papa katakan. Walaupun Alexa juga putri Papa, tapi sifatnya jauh berbeda denganmu, nak. Dia melakukan segala cara hanya untuk kepentingannya sendiri, sementara kau malah mengorbankan dirimu. Jadi kali ini papa mohon jangan korbankan dirimu lagi!"


"Keputusan Alana sudah bulat, Pa. Jadi Alana mohon jangan katakan apapun pada suami Alana."


"Oke, papa hormati keputusan kamu. Tapi papa tidak akan tinggal diam, jika putri papa ini disakiti. Papa akan menghancurkannya meskipun itu putri papa sendiri!" tegas Ramond seraya melirik.ke arah Alexa.


Ramond curiga Alexa memanfaatkan sifat baik Alana. Dia berencana akan mengawasi kedua putrinya itu.


"Pa, Alana mau istirahat sebentar."


"Oke, sayang. Kau tidurlah di ruang tamu", ucap Ramond lembut. Dia merasa bersalah selama ini telah membiarkan Alana tidur di kamar bekas pembantu.


"Oke, Pa", jawab Alana sembari mendorong koper miliknya menuju lantai atas.


Melihat saudara tirinya pergi, Alexa pun tak mau berlama-lama di sana. Dia gegas bangkit dari tempat duduknya dan menatap Ramond. "Alexa juga pa!"


"Kau tinggal sebentar!" titah Ramond dengan raut wajah serius.


"Tapi Alexa-- " Tatapan tajam Ramond menciutkan nyali Alexa, hingga dia tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Katakan apa niatmu sebenarnya?"


Alexa langsung menangis seraya memukul dada Ramond. "Papa sangat kejam! Papa sudah gak peduli lagi dengan Mama, padahal selama ini mama yang menemani papa, menjaga dan merawat papa. Tapi apa balasan papa ke mama. Hiks. Hiks. Hiks." Suara tangis Alexa memenuhi ruangan itu.


Namun Ramond hanya membisu, meskipun dia sadar kalau selama ini Sally selalu menjaga dan melayaninya dengan baik. Tapi dia tidak mau melupakan apa yang sudah dilakukan Sally pada Mama Alana.

__ADS_1


"Kenapa papa diam saja? Apa sekarang papa baru menyadarinya?" tanya Alexa dengan isak tangis. "Papa juga harus disalahkan, karena jika saat itu papa langsung menolak mama, maka mama tidak akan hamil dan tidak berbuat nekad seperti itu!" Alexa semakin mengencangkan suaranya hingga membuat Tuty terbangun.


"Kamu salah, nak!" Ramond membuka suaranya. Lalu dia memegang kedua lengan Alexa dan menuntunnya berdiri. "Ayo, kita duduk dulu", lanjutnya.


Alexa mengikuti sang Ayah. Dia duduk di sofa tepat di samping Ramond, tangannya mengusap lembut sisa air matanya.


"Papa sudah berkali-kali menolak mama kamu, hingga suatu saat mama kamu memakai pakaian sexy dan sengaja bolak balik dihadapan papa. Sebagai pria dewasa yang normal, papa tergoda dibuatnya." Ramond menghela nafas menjeda ucapannya. "Saat itu mama Alana sedang pergi ke rumah kerabatnya, jadi kami pun melakukan yang seharusnya tidak dilakukan!" Ramond mengusap kasar wajahnya saat mengingat kejadian itu.


"Mama bukan wanita penggoda!" tegas Alexa yang tidak percaya dengan cerita Ramond. "Aku yakin papa yang menggodanya, karena mama Alana sedang hamil saat itu, jadi papa yang menggoda mama."


"Papa lelah bicara denganmu. Sifatmu ini persis mamamu, keras kepala dan memaksakan sesuai keinginanya sendiri!" tukasnya dengan nada keras. "Papa tidak akan membiarkanmu membuat Alana mengalami sama seperti yang dilakukan mamamu dulu!" lanjutnya dengan tatapan tajam. Lalu dia beranjak meninggalkan Alexa yang masih duduk dengan tatapan memberontak.


...---...


Di tempat lain, di dalam sebuah kamar mewah tampak Kenzo sedang berjalan mondar mandir dengan perasaan gelisah. Entah sudah berapa kali dia menghubungi Alana, namun istrinya itu tak kunjung mengangkat telpon darinya.


"Jangan panggil aku dengan sebutan itu!" ketus Kenzo saat Alexa menyahut panggilannya.


"Aku langsung saja keintinya. Berikan ponselmu pada istriku!" titahnya. Lalu raut wajah Kenzo berubah kala mendengar jawaban Alexa dari seberang telepon.


"Terserah kau! Tapi aku tidak akan tinggal diam!" jawab Kenzo dengan rahang yang mengeras. Perkataan Alexa membuatnya sangat marah. Lalu dia memutus sambungan telepon dan melempar asal ponselnya. "Dia pasti sudah mempengaruhi Alana!" ucapnya gusar seraya mengacak kasar rambutnya.


Setelah berdiam lama, akhirnya Kenzo beranjak dari posisinya dan berjalan keluar kamar untuk mencari keberadaan Roni.


...---...


Keesokan paginya.


Wajah lusuh kurang tidur Roni terlihat jelas di spion mobil. Curhatan sang bos tadi malam telah membuatnya menahan rasa kantuk hingga dini hari.

__ADS_1


Kenapa Tuan Kenzo memakai kaca mata hitam bahkan tak bersuara? Tanya Roni di dalam batin. Dia tak habis pikir bosnya itu punya banyak energi, walaupun tak tidur semalaman.


Citt.


Roni terpaksa menekan pedal rem kala seekor kucing melintas. Roni memegang dadanya dan merasakan debaran jantungnya yang berdebar tidak normal. "Maaf, Tuan. Tadi ada seekor ku-- " Tiba-tiba Roni menghentikan ucapannya. "Tuan, kau di mana?" tanyanya kemudian. Lalu dia gegas turun dari mobil dan mencari keberadaan Kenzo. Netranya terbeliak kala membuka pintu belakang mobil dan melihat Kenzo tertelungkup di bawah.


"Aaa..." Kenzo mengerang seraya memegang kepalanya. "Aku di mana?" tanyanya kemudian saat Roni membantunya bangkit.


"Emmm...itu" Roni sedikit kelabakan menjawab pertanyaan dari Kenzo. Namun dia sadar akan sesuatu. Jangan-jangan tadi Tuan Kenzo tidur. Pikirnya, lalu dia meraih kaca mata Kenzo. "Untuk apa Tuan memakai kaca mata?"


"Owh, tadi itu aku tidur", jawabnya tanpa sadar. Sesaat kemudian Kenzo mendelik. Netranya bertemu dengan Roni, seolah ada pancaran perang diantara keduanya. "Bukan seperti itu!" Kenzo buru-buru meralat ucapannya. "Maksudnya tadi itu mataku silau, makanya aku memakai kaca mata", ralat Kenzo.


Roni mengembalikan kaca mata Kenzo tanpa mengatakan apa-apa. Lalu dia kembali masuk ke dalam mobil. Sementara Kenzo hanya termangu melihat reaksi Roni. "Apa dia marah?" gumamnya. Lalu Kenzo ikut masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan menuju kantor, Roni hanya diam. Hal itu membuat Kenzo kepikiran. Dia mulai berdehem. "Ehem.." bahkan sampai berulangkali, namun Roni tetap fokus menyetir.


Dia bos yang kejam, bisa-bisanya dia tidur tanpa memikirkan perasaanku. Padahal aku sudah mendengarkan curhatannya yang berulang kali dia katakan hingga dini hari. Sesal Roni di dalam batin. Hatinya pedih kala sang bos memikirkan dirinya sendiri.


Saat tiba di basement kantor, Roni masih saja diam.


"Roni, kenaikan gajimu telah diproses HRD, tapi sepertinya dari tadi kau mengabaikanku, jadi aku terpaksa..."


"Jangan Tuan!" sela Roni dengan berteriak, hingga membuat Kenzo terjingkat. "Maafkan kelakuanku tadi Tuan!" lanjutnya. Raut wajah kesalnya seketika berubah.


"Owh, berarti..."


"Iya, jadi Tuan. Tolong kenaikan gajinya jangan dibatalkan", pohon Roni.


Kenzo hanya bisa tertawa di dalam batinnya. "Hm, baiklah", jawabnya sembari turun dari mobil.

__ADS_1


__ADS_2