
Alana masih saja memikirkan perkataan Alexa, hingga tanpa dia sadari seseorang masuk dan berjalan menghampirinya.
"Honey... "
"Eh, copot-copot", latahnya. Ponsel dalam genggamannya pun jadi terjatuh.
Kenzo menatap heran reaksi sang istri. "Apa seseorang baru saja menelponmu?" tanyanya sembari.memungut ponsel Alana.
"Hm, iya", jawabnya singkat.
"Siapa?"
"Alexa", jawabnya tanpa menjelaskan tujuan adik tirinya itu menelpon dirinya.
"Owh, dia", ujar Kenzo. "Pasti dia menanyakan tentang Mamanya", tebaknya kemudian.
Alana mendelik mendengar penuturan Kenzo. "Kok tahu? Apa jangan-jangan my honey yang telah melaporkan ibu tiriku ke kantor polisi?"
"Memang iya", jawab Kenzo santai, karena dia menganggap hal itu sepadan bagi ibu tiri Alana.
"Tapi kenapa honey?"
"Kau akan tahu nanti honey. Aku mau ayah mertuaku yang menyampaikannya padamu."
Bukannya penjelasan yang Alana dapatkan dari Kenzo. Dia justru diminta menunggu papanya memberitahukan alasannya. "Hm, oke", jawabnya tak bersemangat.
Melihat reaksi Alana, Kenzo pun mencubit gemas hidung mancung istrinya itu. "Kenapa? Sepertinya istriku tidak senang."
Alana membalas dengan mengerucutkan bibirnya seraya membalikkan badan. "Hm..." kesalnya.
"Maaf honey. Tapi untuk case yang satu ini aku mau ayah mertua yang mengatakannya langsung padamu", imbuh Kenzo.
"Baiklah, honey!" pasrahnya. "Aku pasti sabar menunggunya", sahutnya kemudian seraya merubah ekspresi wajah kesalnya.
Kenzo pun tersenyum mendengar jawaban Alana. "Kau sangat pengertian, honey. Sambil menunggu ayah mertua mengatakannya, bagaimana kalau kita istirahat di dalam dulu", ajak Kenzo dengan tatapan penuh arti.
"Emm, emangnya di dalam ada apa saja?"
"Bagaimana kalau lihat sendiri ke dalam", tawar Kenzo dengan tersenyum penuh arti.
Alana menelisik ke dalam mata Kenzo, barangkali ada niat tersembunyi sang suami. "Kita ke kantin saja, honey. Aku lapar", jawabnya seraya menarik tangan Kenzo.
__ADS_1
"Tapi suamimu ini belum lapar. Jadi bagaimana dong?" tanya Kenzo dengan wajah memelas.
"Hm, kalau begitu aku pesan online saja. Jadi kita makan di sini", sahut Alana yang membuat Kenzo kecewa.
"Terserah my honey saja", ucapnya sembari pergi menuju ruangan yang Kenzo sebutkan tadi.
Merasa tidak tenang, Alana akhirnya mengalah. Dia pun mengekori Kenzo.
...----...
Sementara di tempat berbeda Alexa menangis histeris kala mengetahui sebuah fakta tentang kesalahan yang dituduhkan pada sang ibu.
"Papa lihatlah apa yang diperbuat Kak Alana pada Mama!" teriak Alexa dengan isak tangis. "Mama gak mungkin melakukan itu!"
Ramond yang sedari tadi diam sambil mendengar celotehan Alexa, akhirnya angkat bicara. "Alexa, mungkin kau tidak tahu bagaimana sebenarnya sifat Mamamu itu", ucapnya sembari menghela nafas.
"Maksud Papa apa?"
Tangan Ramond yang masih tampak kekar itu mengusap kasar wajahnya. "Waktu itu Mama Alana sedang mengandung Alana dan Papa di larang dokter untuk berhubungan selama kehamilannya. Lalu Mamamu datang mendekati Papa. Padahal saat itu Mamamu pembantu di rumah ini."
"Papa bohong!" teriak Alexa tak terima sang ibu dikatakan pembantu.
"Papa pasti sedang di ancam Kak Alana, karena aku yakin Mamaku bukan perebut suami orang!" bantah Alexa.
Seolah tak peduli dengan ucapan Alexa, Ramond tetap menceritakan kebenarannya. "Aku menyesal berselingkuh pada saat itu, karena Mama Alana jauh lebih baik dari Mamamu!"
"Bohong!" teriak Alexa sembari menutup telinga. "Aku tidak mau mendengarnya."
"Itu adalah kenyataannya. Jika kau tidak percaya, tanyakan langsung pada Mamamu itu. Sekalian katakan padanya, aku menyesal menjadikannya sebagai istriku." Ramond beranjak dari posisinya, lalu dia berjalan menjauhi Alexa.
"Aaarrggg..." pekik Alexa sembari mengacak kasar rambutnya. "Kenapa hidupku semakin bertambah kacau?" sesalnya. Dikhianati Steve bahkan tidak dapat kembali pada Kenzo dan kini bertambah satu lagi yakni ibunya telah di tahan polisi. Dirinya pun tidak tahu harus mengadu pada siapa, karena Papanya sudah tidak peduli lagi padanya.
...---...
Setelah beberapa saat, ruang sunyi yang ada di dalam kantor Kenzo mulai terdengar suara nafas yang saling bersahutan. Keinginan sang suami tak dapat dia elakkan lagi, kini mereka berbaring di ranjang yang sama dengan tubuh polos.
"Honey, aku lapar", kata Alana. Tenaganya telah habis terkuras saat terjadi pergulatan keduanya di atas ranjang.
"Owh, iya. Aku hampir lupa kalau my honey sudah lapar dari tadi. Kalau begitu aku akan meminta Shinta memesan makanan dari kantin bawah."
"Oke, honey", jawab Alana lesu.
__ADS_1
Kenzo gegas menghubungi Shinta dan meminta sekretarisnya itu membawakan pesanannya ke dalam ruang kerjanya. "Maafkan aku honey. Aku telah membuatmu lemas", ucap Kenzo sembari mengusap lembut rambut lurus Alana.
"Hm, tidak apa-apa", jawab Alana dengan tersenyum.
"Kalau begitu kau istirahatlah di sini. Aku akan keluar menunggu pesananmu datang", ucap Kenzo seraya bangkit dari atas tempat tidur.
"Oke, honey", balas Alana dengan lembut.
Kenzo memungut pakaiannya yang berserakan dan mengenakannya kembali. Lalu dia berjalan menuju pintu keluar. Baru saja dia melangkah menuju kursi kebesarannya, seseorang datang dan mengetuk pintu ruangannya. "Masuk!" titah Kenzo.
Ternyata Kenzo salah menduga. Dia pikir Shinta yang datang.
"Permisi Tuan", ucap Roni ramah. Lalu dia berjalan menghampiri Kenzo.
"Ada berita apa lagi?" tanya Kenzo yang selalu di buat kaget oleh asistennya itu, karena membawa berita yang mencengangkan.
"Saya mau menyampaikam tentang Alexa, Tuan. Dari informasi yang saya dapat, Alexa telah bekerjasama dengan Pak Baron. Dia yang telah memberitahu pak Baron keberadaan Tuan dan Nyonya. Dia juga sengaja datang ke sana hanya untuk mencuri simpati Tuan, namun dia gagal. Jadi apa yang harus kita lakukan padanya, Tuan?"
Kenzo menghela nafas berat sembari duduk di sofa. "Sebenarnya dia juga korban. Malam itu Steve menipunya dengan memberikannya pada pak Baron", jawab Kenzo dengan raut wajah sendu. "Tapi untuk masalah penculikan Alana di kebun kampus, aku sepenuhnya menyerahkan keputusan itu pada Alana", lanjutnya.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya akan melaporkan kasus Pak Billy saja", ucap Roni dengan wajah serius. Rasanya dia lebih bersemangat melakukan balas dendam dibandingkan Kenzo.
"Ya, silakan", jawab Kenzo. Namun Roni masih bergeming, hingga membuat Kenzo bingung. "Ada apa lagi?" tanya Kenzo.
"Hm, Tuan. Maaf kalau saya lancang. Sepertinya Tuan lupa menutup jendela", tunjuknya pada resleting celana Kenzo.
Sontak Kenzo menyentuhnya. "Oke, terimakasih. Sekarang pergilah!" titah Kenzo dengan rasa malu. Dia tidak mau asistennya itu memikirkan hal yang tidak-tidak.
Roni buru-buru keluar, sebelum sesuatu yang buruk terjadi padanya. Saat Roni melangkah ke luar, Shinta pun masuk.
"Pak, ini pesanannya", kata Shinta dengan sopan. Lalu dia memletakkan kotak makanan di atas meja Kenzo.
"Oke, terimakasih", ucap Kenzo.
"Sama-sama, Pak", balas Shinta sembari pamit.
Lalu Kenzo kembali masuk ke dalam ruang istirahat. Baru saja dia akan menyapa Alana, namun dia urungkan saat melihatnya tertidur pulas. "Cepat sekali dia tidur", ucap Kenzo seraya berjalan mendekati Alana. Kemudian dia menarik selimut yang tersibak sebagian.
Cup.
"Istirahatlah sayang", katanya dengan mengecup lembut kening Alana. Lalu dia keluar dari ruangan itu.
__ADS_1