Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Sebuah Pesan


__ADS_3

Perselisihan Billy dan Baron santer terdengar di kalangan pebisnis. Bahkan para pebisnis ulung itu terpaksa membatalkan kerjasama mereka dengan perusahaan Billy dan Baron. Tak ingin kalah dalam persaingan bisnis, Billy dan Baron memutar otak memikirkan solusi atas masalah perusahaan mereka masing-masing.


Langkah yang di ambil Baron adalah dengan memberi mandat pada Richard, putra sulungnya itu. Richard di beri kuasa untuk mengambil alih perusahaan.


"Kenapa di saat semuanya dalam keadaan berantakan, papa malah menyerahkannya padaku!" kesalnya pada sang ayah. Awalnya dia merasa senang, karena sang ayah memberinya kesempatan, namun saat tahu kondisi perusahaan, dia merasa telah ditipu oleh ayahnya sendiri.


"Hasil pekerjaanmu akan bernilai, jika kau berhasil melewati masa sulit", jawab Baron dengan tatapan serius.


Richard mengusap kasar rambut ikalnya "Ya, kalau aku berhasil, kalau enggak gimana?" gerutunya.


Baron menghela nafas berat. Dia merasa telah gagal mendidik putra kandungnya agar memiliki semangat bisnis seperti Dave. "Kalau cara berfikirmu seperti ini terus, maka kau tidak akan pernah lebih unggul dari Dave!" katanya seraya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan meninggalkan Richard yang masih duduk dengan wajah murung.


...---...


Buntut dari kekacauan perusahaan Billy dan Baron sangat menguntungkan perusahaan Kenzo, karena para rekan bisnis mereka beralih ke perusahaan Kenzo.


"Ini adalah balas dendamku yang sebenarnya", seringai Kenzo. Meskipun Billy dan Baron telah menerima ganjarannya, namun hatinya masih saja menyimpan rasa sakit atas kejadian yang menimpa orang tuanya dan Alana.


Tok. Tok.


"Tuan, kita sudah di tunggu di ruang rapat", kata Roni saat berdiri di dekat pintu kamar Kenzo yang terbuka sebagian.


"Oke, aku akan segera ke sana", jawab Kenzo seraya menutup laptopnya. Lalu dia berjalan ke luar kamar. "Bagaimana dengan pak Billy dan pak Baron? Apa mereka masih berani menunjukkan muka?"


"Pak Billy tidak datang Tuan. Sementara pak Baron diwakili kedua anaknya."


Mendengar jawaban Roni, Kenzo merasa ada yang aneh. "Kenapa pak Baron mengirim ke dua anaknya?"


"Hm, mungkin karena Pak Dave sahabat kecil Tuan. Jadi pak Baron ingin menjadikan Pak Dave sebagai tameng."


Kenzo menggelengkan kepalanya. "Aku yakin tidak sesederhana itu", sahutnya seraya berfikir. Dia yakin Baron punya niat tertentu. "Kita ke ruang rapat dulu, nanti juga pasti kita tahu niat sebenarnya", lanjutnya. Lalu dia mengayunkan langkahnya berjalan menuju pintu keluar.


Roni gegas mengikuti langkah Kenzo.


"Siapkan bahan presentasiku!" titah Kenzo sambil memberikan laptopnya pada Roni.


Tangan Roni terjulur menerima laptop dari Kenzo. "Baik, Tuan", jawabnya.

__ADS_1


...---...


Di dalam ruang rapat. Richard tak memalingkan pandangannya dari Kenzo.


Dia hanya sedikit lebih hebat dariku. Aku jauh lebih bagus kalau di suruh menyampaikan data seperti itu. Lagian itu juga bukan hasil kerjanya. Dia pasti meminta anak buahnya yang mengerjakannya. Ucap Richard di dalam batin.


Saat Kenzo mengakhiri ucapannya, dia berkata. "Ada pertanyaan?"


Richard buru-buru mengangkat tangannya.


"Ya, Pak Richard", kata Kenzo dengan tatapan serius.


Richard membalas tatapan Kenzo dengan tersenyum sinis. "Tuan Kenzo, presentasimu cukup bagus. Siapa yang membuatnya?"


Tiba terdengar suara gelak tawa dalam ruang rapat itu.


Dave yang sedari tadi menahan emosinya bangkit dari tempat duduknya. "Maafkan atas kelakar yang di buat oleh kakak saya. Sebenarnya dia hanya ingin mencairkan suasana rapat yang tampak tegang ini", bela Dave.


Richard tersenyum kala melihat Dave membela dirinya "Kamu benar adikku."


"Tapi saya khawatir apa yang baru saja dipaparkan oleh Tuan Kenzo bukanlah hasil pemikirannya sendiri", lanjut Dave. Kemudian dia meminta mereka mengecek email masing-masing.


"Kenapa bahan presentasinya mirip?" Para rekan bisnis yang menghadiri rapat saling bertanya, hingga ruang rapat sedikit riuh.


Sementara Kenzo dan Roni penasaran dengan bahan presentasi Dave, karena hanya mereka yanh tidak menerima email dari Dave.


Flashback on


Richard menghubungi kenalannya di LN yang sangat handal dalam meretas. Dia memintanya untuk meretas laptop milik Kenzo.


"Saya tunggu kabar baiknya", kata Richard pada kenalannya yang ada di seberang telepon. Lalu dia memutus sambungan telepon.


Dave menatap Richard dengan tersenyum. "Aku akui kau ahli dalam melakukan pencurian data", katanya seraya berjalan mendekati Richard. "Sekarang aku mengerti kenapa papa meminta kak Richard yang mengambil alih perusahaan", lanjutnya.


Tak lama setelah Richard memberitahukan data Kenzo, kenalannya itu sudah berhasil meretas laptop Kenzo serta mengambil data presentase Kenzo. Laptop yang tidak dinonaktifkan sangat memudahkan kenalan Richard untuk mengcopy semua data Kenzo.


Lalu Dave membuat presentase yang hampir sama dan mengirimkannya ke semua email para pebisnis yang akan mengikuti rapat.

__ADS_1


Flashback off


"Jadi, apakah Tuan sekalian akan tetap menjalin kerjasama dengan Tuan Kenzo?" tanya Dave dengan tatapan percaya diri. Dia menatap para pebisnis ulung itu satu per satu. Namun tak ada satu pun di antara mereka yang buka suara.


Walaupun tak ada yang merespon, Richard tidak patah semangat. "Jika Tuan sekalian memilih Baron corperation sebagai rekan bisnis, maka keuntungan yang akan Tuan dapatkan berkali lipat dari yang ditawarkan perusahaan Thompson group", tukas Richard.


Namun respon yang hadir dalam ruang rapat itu masih tetap sama. Mulut mereka seakan terkunci rapat.


"Ada apa dengan Tuan sekalian? Kenapa kalian diam saja? Apa kalian sedang di ancam?" tanya Richard dengan perasaan gelisah. Dia takut rencana yang telah mereka susun rapi itu gagal.


Dave hanya diam sembari mendengar sang kakak membujuk para pebisnis seumuran papa mereka itu.


"Jangan takut! Kami akan memberi kalian dukungan", lanjut Richard yang tidak ingin gagal mendapatkan kerjasama.


Dia gigih sekali hanya demi warisan. Ucap Dave di dalam batin.


Sememtara Richard menggerutu di dalam batinnya. Apa gunanya Dave di sini, dari tadi dia gak mau membantuku! Kesalnya seraya melirik ke arah Dave.


"Sudah cukup pidatonya!" ucap suara bariton Kenzo.


Richard dan Dave mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Kenzo.


"Coba lihat bahan presentase yang kalian curi dariku!" lanjut Kenzo yang membuat Richard dan Dave mendelik. "Kalau mau nyuri harus pinteran dikit dong!"


Semua yang ada di dalam ruangan itu mentertawakan Dave dan Richard.


"Kalian lihat halaman terakhir. Di sana masih tercantum nama perusahaan Tuan Kenzo", ucap pria bertubuh gemuk.


Tak percaya dengan ucapan pria itu, Dave gegas memeriksanya. Netranya melotot kala dirinya lupa menghapus kalimat Thankyou yang diberi logo perusahaan Kenzo.


"Sial!" rutuk Dave. Lalu dia pergi meninggalkan ruang rapat tanpa berpamitan. Richard pun melakukan hal yang sama. Dia beranjak dari posisinya dan pergi menuju pintu ke luar.


"Terimakasih pak George", ucap Kenzo karena dia yang telah memberitahukan mengenai logo itu pada Kenzo.


"Sama-sama", balas George dengan tersenyum.


Kemudian mereka melanjutkan rapat. Di sela pembahasan mengenai presentase Kenzo, tiba-tiba saja Kenzo menerima sebuah pesan. Netranya melotot kala membaca isi pesan di layar ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2