
Setelah amarah Ramond reda, kini yang ada di dalam ruangan itu hanya keheningan. Ramond dan Alexa malah fokus pada ponsel mereka masing-masing.
"Apa?" teriak Alexa kala membaca sebuah artikel diponselnya.
"Ada apa? Kenapa kau berteriak?" tanya Ramond dengan kesal. Setelah pulih dari penyakit jantung, Ramond tidak suka mendengar suara teriakan.
"Ini Pa", kata Alexa seraya menyodorkan ponsel miliknya.
Netra Ramond mendelik kala membaca artikel di internet. "Ini pasti hoaks. Mana mungkin Kenzo mau bekerjasama dengan Billy dan Baron!"
"Tolong papa tanyakan Kenzo", pohon Alexa. "Aku harus bisa membalas dendamku pada pak Billy, sebelum Kenzo benar-benar menjalin kerjasama dengannya."
Ramond menghela nafas panjang "Alexa, papa minta kamu jangan pernah berfikir untuk balas dendam lagi, nak", nasehat Ramond. "Lupakan semuanya! Biarkan hukum yang mengadilinya."
Alexa tersenyum getir sembari menoleh ke arah Ramond. "Papa sudah lupa atau pura-pura lupa, sih?" tanyanya.
Mendengar pertanyaan Alexa, Ramond mulai mengusap kasar wajahnya yang sedikit keriput. "Papa tidak lupa sama sekali", jawabnya. "Tapi percayalah nak, tidak akan lama lagi mereka akan menerima ganjaran atas apa yang sudah mereka lakukan."
"Semoga saja", balas Alexa dengan santai.
Ramond tahu perasaan Alexa masih sangat sakit saat mengingat malam kejadian di kamar hotel bersama pak Billy, jjadi dia tidak ingin membahas masalah itu terlalu lama.
...----...
Di sebuah pemukiman penduduk, Kenzo dan Roni tengah berjalan dengan memperhatikan alamat yang ada di tangan Roni.
"Sepertinya rumahnya yang ini, Tuan", kata Roni dengan menunjuk sebuah rumah berkuran kecil dan terlihat sedikit kusam.
Netra Kenzo membulat sempurna. "Apa kau yakin?" tanya Kenzo seraya menatap rumah yang ada dihadapannya.
"Alamatnya sih sudah sesuai, Tuan. Tapi biar lebih pasti lagi, saya mau bertanya sama warga di sini dulu", jawab Roni sembari celingak celinguk. "Itu ada ibu-ibu. Sebentar saya ke sana, Tuan." Roni gegas berlari menghampiri dua orang ibu yang sedang berjalan sambil asyik berbincang.
Kenzo hanya memandang dari posisinya berdiri. Dia memperhatikan interaksi Roni dengan dua orang ibu yang belum dikenalnya, namun Roni tampak sangat akrab.
Tak berselang lama, Roni kembali menghampiri Kenzo.
"Tuan, saya minta maaf", ucap Roni yang membuat Kenzo bingung
__ADS_1
"Untuk apa?"
Roni menghela nafas panjang sebelum membalas ucapan Kenzo. "Tuan, saya terpaksa mengatakan, bahwa Alana tidak pernah tinggal di sini. Rumah ini sudah kosong selama dua tahun."
"Apa? Sudah kosong selama dua tahun?" ulang Kenzo.
Roni menganggukkan kepalanya. "Iya, Tuan", jawabmya.
Mendengar ucapan Roni raut wajah Kenzo mulai berubah sendu,.karena sekali lagi dia kehilangan petunjuk tentang keberadaan Alana. "Apa.kau yakin?"
"Untuk memastikannya, bagaimana kalau kita masuk saja, Tian."
"Tidak perlu!" tukas Kenzo. Lalu dia beranjak dari tempat itu. "Kenapa mereka punya KTP dengan alamat rumah kosong?" tanyanya pada Roni, saat sedang berjalan meenjauhi rumah itu.
Roni tidak langsung menyahut pertanyaan Kenzo. Dia tidak ingin salah penyampaian. "Nanti saya coba selidiki lagi Tuan", jawabnya cari aman.
"Oke, segera temukan!" tukas Kenzo. Setelah itu tidak ada lagi perbincangan di antara mereka.
"Kita pergi ke mana, Tuan?" tanya Roni saat sudah di dalam mobil.
"Rumah sakit", jawab Kenzo singkat. Saat ini pikirannya sedang berkecamuk memikirkan Ayana dan Alana adalah orang yang sama. Kalau Ayana adalah Alana, kenapa dia harus mengganti namanya, bahkan dia pergi bersama dengan pria lain untuk melakukan pemeriksaan kehamilan? Tanya Kenzo di dalam batin.
Kini Kenzo dan Roni tengah sibuk dengan jalan pikiran masing-masing, hingga tanpa terasa Roni telah menepikan kendaraan memasuki gerbang rumah sakit.
"Tuan, kita sudah sampai", kata Roni yang telah membuyarkan lamunan Kenzo.
"Oke", jawab Kenzo singkat seraya turun dari mobil.
Baru saja Kenzo akan melangkah masuk ke dalam rumah sakit, ponselnya tiba-tiba berdering. Tangannya gegas meraih ponsel di dalam saku celana. "Papa mertua", katanya saat membaca nama kontak di layar ponselnya.
"Halo, Pa", sahut Kenzo.
"Halo menantu. Kalian di mana? Kenapa perginya lama sekali?" Ramond terus mencecar Kenzo dengan pertanyaan.
Kenzo menghela nafas sebelum menjawab. Dia tidak ingin Papa mertuanya itu khawatir, hingga membuat jantung sang ayah mertua tidak aman saat mendengar apa yang akan disampaikannya. "Pa, kita bicarakan ini saat bertemu nanti ya", ujar Kenzo.
"Oke", jawab Ramond. "Kami di kamar melati 204", lanjutnya memberitahu keberadaannya. Setelah itu dia memutus sambungan telepon.
__ADS_1
Kenzo gegas pergi menemui Ramond, diikuti Roni dibelakangnya.
...----...
Setelah Kenzo dan Roni berada di kamar yang diberitahukan oleh Ramond. Mereka langsung masuk ke dalam.
"Kenzo..." panggil Alexa seraya bangkit dari posisi tidur.
"Jangan banyak bergerak!" ucap Kenzo hanya sebagai rasa kemanusiaan.
Namun Alexa telah memahaminya dalam arti yang berbeda. "Aku tahu, kau masih sangat peduli padaku", ucapnya dengan raut wajah bahagia.
"Kau melakukan hal gila di kantorku, kalau sampai ada berita buruk tentang perusahaanku, maka itu akan berdampak pada saham perusahaanku! Tapi syukurlah kau selamat. Aku pun tidak jadi rugi", sahut Kenzo yang tanpa dia sadari ucapannya telah membuat Alexa kesal.
"Jadi kau hanya peduli pada perusahaanmu?"
"Jika dibandingkan dengan perusahaan, maka aku jauh lebih peduli pada istriku", jawab Kenzo yang semakin membuat Alexa kesal.
"Owh, iya papa hampir lupa menanyakan tentang Alana. Apa kalian menemukannya?"
Alexa mendelik mendengar ucapan Ramond. "Apa maksudnya, Pa? Apa kak Alana sudah ketemu?"
"Tadi kami melihat orang yang mirip dengan Alana di rumah sakit ini. Kenzo bahkan sempat mengejar sampai keparkiran", terang Ramond.
Kenapa kak Alana berkeliaran di rumah sakit? Tanya Alexa di dalam batinnya. "Trus, kak Alana mana?"
"Tidak ada!" jawab Kenzo singkat.
Bagus dong. Ucap Alexa di dalam batin.
"Tapi tadi kami sempat dapat alamatnya melalui resepsionis. Terus kami langsung pergi ke sana. Setelah sampai di sana, kami tidak mendapatkan info apapun, karena tempat itu bukanlah alamat sebenarnya. Dia pakai identitas palsu", sambung Kenzo.
"Kamu yang sabar ya, nak", ucap Ramond yang mencoba untuk menenangkan Kenzo. "Alana pasti ketemu, percayalah!" lanjut Ramond.
Kenzo manggut-manggut. "Iya, pa", jawabnya.
Sementara Alexa tidak senang mendengar bahwa Kenzo mulai menemukan jejak Alana. Dia tidak ingin Alana ditemukan untuk selamanya. Lama kelamaan Alana pasti bisa ditemukan Kenzo nih, kalau dia sering ke luar rumah. Sesal Alexa di dalam batin. Lalu dia mengirimkan pesan singkat pada seseorang.
__ADS_1
Gelagat mencurigakan Alexa menjadi perhatian Kenzo. Dia melihat jelas ada kegelisahan di wajah Alexa saat tahu Kenzo bercerita tentang Alana. "Kau sedang mengirim pesan pada siapa?" tanya Kenzo to the point hingga membuat Alexa tersentak kaget.