
Alana mendelik sesaat setelah dia keceplosan.
"Honey, apa kau sudah mengingat tentang kita?" tanya Kenzo dengan tatapan curiga.
Alana mengalihkan pandangannya. Kalau begini bisa gagal kejutan yang sudah aku siapkan. Ucap Alana di dalam batin. Dalam benaknya dia terus memikirkan jawaban agar Kenzo tidak semakin curiga.
"Honey, apa kau menyembunyikan sesuatu?"
"Tolong jangan panggil saya dengan sebutan itu Tuan. Saya belum terbiasa", ucap Alana tanpa menatap Kenzo.
Saat berada di dalam kamar, Kenzo meletakkan tubuh Alana di atas tempat tidur. Lalu dia duduk di tepi ranjang. "Aku akan terus memanggilmu dengan sebutan itu, sampai my honey mengingat semua tentangku." Kenzo menatap intens Alana seraya memegang tangannya. "Aku juga ingin bertanya tentang apa yang aku dengar tadi, my honey mengatakan anak kita. Jadi katakan terus terang, apa my honey sudah mulai mengingat pernikahan kita?"
Pertanyan Kenzo hampir saja membuat Alana mengatakan kebenarannya. "Maaf, Tuan. Untuk saat ini saya belum bisa mengatakannya, tapi nanti saat saya sudah benar-benar siap, saya akan langsung memberitahu Tuan."
Jawaban Alana semakin mengundang rasa penasaran Kenzo, namun dia tetap menghargai keinginan Alana itu. Tanpa mengucapkan sepata kata, Kenzo bangkit dari tepi ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Maafkan aku honey, aku harap kau sabar menunggu sedikit waktu lagi. Ucap Alana di dalam batin.
...----...
Di tempat berbeda, Ramond dan Alexa baru saja keluar dari ruang persidangan. Wajah lesu Alexa menunjukkan bahwa dirinya tidak puas dengan hasil putusan yang diberikan.
"Aku benci papa", ucap Alexa saat menatap wajah Ramond.
Mendengar penuturan Alexa yang sangat tiba-tiba membuat Ramond tersentak kaget. "Kenapa kau berkata seperti itu?"
"Papa janji akan membujuk kak Alana dan Kenzo untuk mencabut gugatannya, tapi apa jadinya? Mama di tahan kal!" sergah Alexa dengan penuh emosi.
Ramond menggeleng-gelengkan kepalanya. "Apa kau tidak punya hati?" tuding Ramond. "Apa kau sadar dengan apa yang di perbuat ibumu, ha?" Emosi Ramond mulai naik. Dia menatap Alexa dengan wajah garangnya. "Alana kehilangan ibunya, bahkan dia tak dapat menemuinya lagi. Sementara kau, ibumu masih ada dan dia masih bisa ditemui!"
Tak terima dengan pernyataan Ramond, Alexa gegas meninggalkannya. "Kau bukan papaku!" teriak Alexa seraya berlari meninggalkan Ramond.
"Alexa... Alexa! Tunggu papa, nak", panggil Ramond dengan suara keras, namun Alexa tidak peduli, dia terus berlari hingga Ramond tak dapat mengejarnya lagi
"Dia sungguh keras kepala, persis ibunya!" kesal Ramond seraya mengatur nafasnya yang mulai naik turun.
__ADS_1
...---...
Alexa tiba di rumah kediaman Richard. Netranya mendelik kala melihat suasana rumahnya yang ramai dengan orang-orang yang asing baginya.
"Apa yang terjadi? Apa Richard akan menikah?" gumam Alexa. Dia terus berjalan masuk ke dalam rumah. Netranya membulat sempurna kala melihat Richard tengah memeluk foto sang ayah dengan isak tangis.
"Sayang..." panggil Alexa sembari mendekati Richard. Namun tidak hanyaRichard yang menatapnya, para kerabat Richard juga menoleh ke arah Alexa.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Richard dengan nada tidak ramah.
"Kenapa kau marah, sayang? Aku sungguh tidak tahu kalau papamu tiada. Tadi itu a- "
"Pergi dari sini!" usir Richard dengan tatapan tajam, sebelum Alexa menyelesaikan ucapannya.
"Tapi kenapa, sayang?"
Richard tersenyum sinis. "Kau b*doh atau hanya berpura-pura b*doh, ha?" tanyanya dengan nada sinis. "Jelas kakak iparmu yang sudah membuat papaku seperti ini, apa aku masih punya mood untuk berteman dengan adik iparnya?"
Alexa membalas dengan tersenyum. "Kau salah, honey!" seringainya. "Aku juga membencinya, karena dia telah membuat mama di tahan", lanjut Alexa dengan penuh amarah.
"Jadi apa maumu?"
"Paman hanya tahu megang traktor saja jangan coba menasehati kita", jawab Richard dengan memandang rendah sang paman.
Pria itu menggelengkan kepalanya. "Sekarang paman bertanya padamu. Andai saja kau berhasil mencelakai lawanmu itu, apakah ayahmu akan hidup kembali?"
"Memang tidak, tapi dendamku terbalaskan", sahut Rochard.
"Setelah itu anak dari orang yang sudah kau celekai akan balas dendam padamu, sementara kau tidak punya anak sama sekali. Berarti semuanya akan berakhir dengan sia-sia dong!"
"Paman terlalu banyak bicara! Segera kembalilah ke rumah paman!"
"Tidak akan! Aku harus membantu Dave keluar dari tahanan. Setelah itu aku akan mengajarimu cara berprilaku yang baik!" tegas sang paman.
"Apa hak paman?" tanya Richard dengan tersenyum meledek.
__ADS_1
"Mungkin papamu tidak pernah memberitahu kalian, kalau 40% saham perusahaan adalah milik paman", ucanya yang membuat Richard mendelik.
Sementara Alexa hanya bisa menyimak seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Lebih baik aku menyingkir dulu", gumamnya sembari mencari tempat duduk.
Tak lama kemudian seorang pria paruh baya masuk dan menghampiri paman Richard.
"Pak Rudi, tolong sampaikan isi wasiatnya!"
"Baik, Pak", sahutnya seraya mengeluarkan berkas dari dalam tasnya.
Pria yang berprofesi sebagai pengacara itu mulai membacakan isi wasiat. Setiap poin dia jabarkan secara detail, hingga membuat Richard terbeliak. "Jadi selama ini papa bukanlah pemilik saham terbesar", gumamnya dengan perasaan kecewa.
"Sudah jelaskan?" tanya sang paman.
"Aku tidak percaya! Paman pasti sudah berbuat curang!" tukas Richard.
"Iya, aku sepakat dengan Richard. Bapak pasti sudah menipunya", timpal Alexa seolah paham dengan apa yang sedang dibicarakan Richard dan pamannya.
"Richard, urus wanitamu ini!" seru sang paman yang tak ingin orang luar campur tangan.
"Alexa, kau pulanglah! Ini urusan keluargaku, kau tidak perlu ikut campur!"
"Oke, sayang. Tapi jika nanti kau membutuhkan bantuanku, ingatlah aku selalu siap kapanpun kau mencariku." Alexa tersenyum, lalu mengecup pipi Richard.
"Cih, tidak punya sopan santun!" ledek sang paman. Dia tidak suka melihat sikap Alexa yang tidak tahu malu itu.
Alexa pergi tanpa berpamitan pada pamannya Richard.
"Syukurlah wanita itu tidak di sini lagi", ucap sang paman saat bayangan Alexa tak terlihat lagi "Aku sarankan kau jangan pernah lagi berhubungan dengannya."
"Itu bukan urusan paman!" balas Richard dengan raut wajah serius. "Untuk masalah wasiat, aku tidak ingin menanggapinya saat ini. Tunggu aku datang menemui paman bersama seorang pengacara."
"Baik, kalau itu yang kau inginkan", sahut sang paman dengan menghela nafas panjang.
"Oke, lebih baik paman pergi dari tempat ini sekarang!" usirnya.
__ADS_1
Sang paman tetap mengikuti keinginan Richard, walaupun rumah yang ditempati Richard adalah miliknya, dia tidak ingin merampasnya dari keponakannya itu.
Kapan kau akan sadar Richard? Bahkan sampai papamu tiada, kau masih saja belum berubah. Sesal pamannya Richard di dalam batin.