Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Trik Alana


__ADS_3

Kenzo memeluk tubuh gemetar Alana. "Istriku tenanglah." ucap Kenzo seraya menepuk pelan punggung Alana.


"A- aku takut! O- orang tu siapa?" tunjuknya tanpa melihat.


"Tidak ada siapapun di sana, honey."


"Ta- tadi.ada", ucapnya masih dengan rasa takut. "Jangan-jangan sesuatu terjadi pada Pak Heri."


"Biar aku pergi melihatnya. Kau tetaplah di dalam. Jangan keluar apapun yang terjadi."


Mendengar ucapan Kenzo, Alana semakin ragu untuk membiarkan Kenzo keluar. "Kalau begitu, kita sama-aama di dalam saja. Hubungi Pak Roni agar membawa bantuan ke mari."


"Kau jangan khawatir, honey. Aku bisa menangani tiga orang sekaligus, jadi tenanglah. Biarkan aku pergi melihat keluar."


Alana terdiam beberapa saat. Kerutan didahinya menunjukkan kalau dia belum menemukan solusi apapun. "Oke. Tapi my honey harus tetap waspada."


"Oke, honey. Jangan lupa apa yang aku katakan. Jangan keluar apapun yang akan terjadi nanti."


Alana mengangguk ragu. Dia sangat khawatir di luar ada bahaya yang sedang menanti. Dalam benaknya dia memikirkan seseorang yang bisa dia hubungi.


Aaaaa... Pekik suara pria terdengar dari arah belakang mobil.


"Apa itu suara suamiku?" Alana menoleh ke belakang. Netranya menyipit untuk memastikan kebenarannya, namun minimnya penerangan menyulitkan pandangan Alana. Dia tak menyadari ponselnya sedari tadi sudah terhubung ke Roni. "Tidak kelihatan dari sini, apa lebih baik aku keluar saja", ucapnya bergumam. Namun pesan Kenzo membuat Alana mengurungkan niatnya.


Alana seolah sedang menduduki paku saja, yang membuatnya bergerak dengan gusar. Raut wajah cemasnya terlihat kala lampu penerangan tengah menyoroti wajahnya. "Siapa yang datang?" tanya Alana seraya melindungi matanya dari cahaya yang menyilaukan itu.


Sosok bertubuh tinggi keluar dari dalam mobil dan berjalan mengarah ke mobil di mana Alana berada.


Tok. Tok.


Separuh badan pria yang mengenakan kemeja hitam itu tampak berdiri di dekat pintu Alana sedang duduk. Saat beringsut mundur, Alana baru menyadari ponselnya sedari tadi terhubung ke Roni. "To- tolong Pak Roni", ucapnya dengan terbata-bata. "Aaaa..." pekik Alana kala kaca mobil dipecahkan oleh pria itu. Dengan sigap otak kecil Alana bekerja. Dia mematikan layar ponselnya dan menyembunyikan ponselnya di dalam tempat yang sangat aman.


"Keluar sendiri atau di paksa?"

__ADS_1


Pertanyaan yang tidak ada pilihannya bagi Alana. Namun dia terpaksa memilih keluar, tapi dari pintu yang berbeda. "Suamiku... Suamiku...Kenzo..." Alana berteriak kencang kala berada di luar mobil.


Ha.. Ha.. Ha.. Suara tawa pria bertubuh jangkung itu menggelegar di kesunyian malam.


Alana baru menyadari tempat itu sedikit asing. Kenapa Pak Heri membawa kami lewat jalan sunyi ini, ya? Alana bertanya di dalam batinnya.


"Apa kau pikir bisa lolos!" sergah pria itu seraya berjalan mendekati Alana.


"Jangan mendekat!" teriak Alana.


Pria bertubuh tinggi itu kembali menertawakan Alana. "Cih, Kau tidak punya hak memerintahku!" tunjuknya dengan wajah garang.


"Bawa dia!" titahnya pada dua orang pria yang datang bersamanya.


Kedua pria itu membawa paksa Alana.


"Lepaskan!" berontak Alana. Namun semakin dia berontak pergelangan tangannya semakin sakit. Akhirnya dia pun pasrah mengikuti keinginan para pria bertopeng itu. "Siapa kalian?" tanya Alana.


Kedua pria yang membawa Alana tertawa keras. "Apa kau pikir kami ini orang b*doh yang akan memberitahu identitas kami!"


Kedua pria itu kembali tertawa atas penuturan Alana. "Emang apa pentingnya itu? Ha..ha.."


"Oke, berarti aku akan memanggilmu si i*iot dan kamu si kuman", imbuh Alana yang membuat kedua pria itu marah besar.


"Hei, sembarangan!" teriak keduanya merasa tersinggung. "Aku Tono dan ini adikku Dino", ucap pria yang dikatakan i*iot oleh Alana.


Ternyata benar dia i*iot dan satunya lagi si bau mulut. Ucap Alana di dalam batinnya. "Kenzo..." Alana mendelik kala melihat suaminya di ikat di kursi dan di jaga pria bertubuh kekar di belakang Kenzo.


Tidak lama kemudian pria bertubuh tinggi datang menghampiri Tono dan Dino. "Dasar b*doh!" kata pria itu seraya menoyor keduanya. "Kenapa kalian mau diprovokasi dia!"


"Bukan aku Bang. Tapi dia", tunjuk Dino pada Tono.


"Sudah jangan bicara lagi! Semakin kalian banyak bicara semakin runyam", tukasnya dengan nada kasar.

__ADS_1


"Ba- baik, Bang", jawab kedua pria itu hampir bersamaan.


"Apa yang kalian inginkan?" tanya Alana dengan berani.


Pria betubuh tinggi itu kembali tertawa. "Apa kau pikir kami membawa kalian kemari karena tidak ada kerjaan?" tegasnya. "Aku tahu apa yang kau pikirkan! Jadi berhentilah berharap apapun, kami tidak butuh tawaranmu!"


"Cih, kau terlalu percaya diri", ledek Alana yang membuat Kenzo mengguncang tubuhnya, seolah mencoba menghalangi Alana untuk melanjutkan ucapannya.


"Coba lihat suamimu. Dia pasti ingin memintamu untuk diam", tunjuknya pada Kenzo. "Jadi jangan bicara apapun lagi!"


Alana terdiam sesaat seraya memikirkan sesuatu. "Apa kalian tahu Tompson Corporation?" tanya Alana.


"Untuk apa aku harus menjawab pertanyaanmu?" tukasnya pada Alana. Lalu dia melotot ke arah dua pria yang memegang Alana. "Cepat ikat dia!"


Alana berdecak kesal karena trik yang dia pakai mudah di baca oleh pria itu. "Hm, padahal aku ingin mengatakan bahwa perusahaan itu milik Papaku", imbuhnya saat dirinya sedang diikat bersisihan dengan Kenzo.


"Trus apa urusannya denganku? Kau pikir aku mudah di tipu olehmu!"


"Anda memang bukan penipu, tidak seperti Bibi Kokom!"


Pria itu mendelik. Sorot matanya terlihat jelas oleh Alana. "Apa maksudmu? Siapa Kak Kokom?"


Sudah semua trik aku keluarkan, akhirnya ketemu juga dalangnya. Kata Alana di dalam batinnya. Buku yang dia baca acak, ternyata bermanfaat di saat genting ini.


"Dari tadi kau banyak bicara!" kesal pria itu. Lalu dia menutup mulut Alana. "Sekarang kau tidak akan bicara lagi!" katanya seraya berjalan menuju Tono dan Dino. "Jaga mereka berdua, jangan sampai lolos, mengerti!"


"Mengerti bang!" jawab keduanya bersamaan.


Sepeninggal pria itu, tiba-tiba terdengar suara peringatan baterai ponsel lowbat. "Ponselmu lowbat tuh!" kata Dino saat dirinya sedang memegang ponsel miliknya.


Tono meraba saku celananya. "Ponselku tidak ada. Sepertinya ketinggalan di mobil, aku pergi mengambilnya sebentar."


"Tunggu dulu, kalau itu bukan ponselmu. Jadi itu ponsel siapa?" Dino menatap ke arah Tono yang sedang bingung. Emang Tono b*doh, itu saja tidak paham. Rutuk Dino di dalam batnnya.

__ADS_1


"Ayo, kita periksa mereka berdua", kata Dino pada Tono. Lalu mereka berjalan menghampiri Alana, namun pria kekar di belakang Kenzo sudah bergerak lebih dulu.


"Jangan bergerak! Kalian sudah di kepung!" seru pria bertubuh tegap yang masuk bergerombol.


__ADS_2