Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Tidak menemukan Alana


__ADS_3

Desau angin kencang menyibak rambut lurus Alana. Entah sudah berapa kali dia mendorong helaian rambutnya ke belakang telinga.


"Honey, biarkan aku mengikatnya", pinta Kenzo yang ikut merasa terganggu.


"Oke, honey", jawabnya seraya memberikan ikat rambut pada Kenzo. "Apa my honey bisa melakukannya?"


Tangan terampil Kenzo mengikat rambut dengan cukup rapi.


"Terimakasih honey", ujar Alana dengan tersenyum bahagia.


"Apa honey menyukai tempat ini?" tanya Kemzo yang sudah membiarkan Alana berdiri di atas balkon hampir satu jam lamanya menikmati pemandangan indah kota Paris.


"Iya, honey", balas Alana dengan tersenyum bahagia.


"Kalau begitu bersiaplah. Sebentar lagi kita akan keluar jalan-jalan", ucap Kenzo dengan bahagia.


Alana tak kalah bahagia mendengar penuturan Kenzo. Dia pun berlonjak kegirangan karena impiannya sewaktu kecil, akhirnya terwujud setelah dia dewasa. "Honey, kita akan pergi melihat menara Eiffel, kan?"


"Iya, honey", jawab Kenzo.


"Bagus kalau begitu. Aku bisa berswafoto di sana nantinya", ujar Alana yang pernah merasa iri pada teman masa kecilnya, karena bisa pergi ke Paris.


Kenzo menatap Alana yang sedang tersenyum bahagia, lalu Alana beranjak dari posisinya dan berjalan menuju walk-in closet . Aku tahu hidupmu tidak pernah bahagia selama tinggal bersama keluarga tirimu. Untuk itu aku janji akan menyayangi dan melindungimu dengan baik sampai akhir hidupku. Ucap Kenzo berjanji di dalam batinnya.


...----...


Beberapa jam kemudian.


Alana sudah mengganti pakaiannya, kemudian dia berjalan mendekati Kenzo. "Ayo, kita pergi sekarang, honey", ajak Alana sembari menggayut di lengan kekar Kenzo.


"Ayo", sahut Kenzo yang merasa bahagia saat Alana menggandeng tangannya. "Kenapa my honey memakai pakaian seperti ini?" tanya Kenzo yang menyadari Alana tidak mengenakan baju casual.


"Ini lebih asyik honey. Jadi orang-orang pada tahu kalau kita dari Indo."


Kenzo tersenyum mendengar jawaban sang istri. "My honey pasti punya motto bangga memakai produk bangsa sendiri, iya kan?"


"Kok suamiku tahu? Atau jangan-jangan suamiku ini cenayang?" tanya Alana dengan menaikkan alisnya.


Mendengar ucapan Alana, ujung hidung istrinya itu pun menjadi sasaran cubitan gemas Kenzo. "Sudah mulai suka bercanda, ya."


"Honey, jika kita ngobrol terus. Aku yakin saat kita sampai di tujuan, kita langsung balik karena hari sudah malam."


"Iya, iya. Kita berangkat sekarang." Kenzo berjalan masih dengan menggandeng tangan Alana, lalu mereka keluar dari dalam kamar.


...---...


Alana tersenyum bahagia, kala dirinya menatap bangunan-bangunan yang tampak unik dalam pandangan Alana.

__ADS_1


"Honey, apa menara Eiffel masih jauh?"


Kenzo gegas bertanya pada pak supir dengan menggunakan bahasa setempat. "Katanya sekitar setengah jam lagi", sshut Kenzo.


"My honey keren, bisa bahasa Perancis", kata Alana seraya mengangkat kedua jari jempolnya. "Selain itu my honey bisa bahasa apa lagi?" tanya Alana dengan antusias.


"Hm, aku hanya bisa sedikit saja, seperti bahasa Jepang dan Korea", sahut Kenzo.


"Wah, kalau begitu kapan-kapan ajarin aku ya honey", pinta Alana dengan puppy eyes.


Tiba-tiba ponsel Kenzo berdering. "Roni", ucapnya kala membaca nama di layar ponselnya. Lalu dia menerima panggilan itu.


"Halo!" ucap Kenzo tak ramah.


"Maaf, aku telah mengganggu Tuan. Ada hal mendesak yang ingin aku sampaikan", ucap Roni.


"Hal mendesak apa itu, hingga kau harus menghubungiku saat ini."


"Pak Baron sudah bebas.Tuan."


Kenzo mengernyitkan keningnya. "Kok bisa?"


"Seseorang telah memberikan bukti yang menyatakan Pak Baron tidak bersalah sama sekali."


Kenzo seketika membisu. Dia khawatir Baron masih mempunyai pendukung lainnya. "Oke, kau tetap lakukan seperti arahanku sebelumnya. Dan jangan sampai lengah sedikitpun."


"Tidak perlu. Tidak ada yang tahu keberadaanku di sini."


Roni terdiam beberapa saat, karena dia telah memberitahu Shinta dengan jelas kemana Kenzo pergi berbulan madu.


"Halo Roni. Apa kau masih di sana?" tanya Kenzo saat dia tidak mendengar lagi suara Roni.


"Ya, Tuan. Saya masih di sini", sahut Roni. "Saya cuma berfikir, apakah ada kemungkinan Shinta memberitahu orang lain tentang keberadaan Tuan? Tadi aku sempat mengatakan kemana Tuan pergi berbulan madu."


"Tidak apa-apa. Shinta tidak akan membocorkan pada sembarangan orang."


"Baiklah, kalau Tuan yakin. Kalau begitu saya mau lanjut kerja lagi Tuan."


"Oke, tolong kabari aku jika ada hal mencurigakan terjadi di kantor."


"Baik, Tuan", sahut Roni. Lalu Kenzo memutus sambungan telepon.


Kenzo memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, setelah di menonaktifkan suara ponselnya. Dia tidak ingin di ganggu saat ini, agar bulan madunya berjalan sesuai rencananya.


"Apa sudah selesai honey?" tanya Alana yang masih sibuk mengagumi kota itu.


"Kita sudah sampai honey", sahut.Kenzo kala melihat destiny mereka hanya berjarak beberapa meter saja lagi.

__ADS_1


"Owh, iya. Tadi aku kurang memperhatikannya", balas Alana dengan tersenyum malu.


Mereka pun turun dari mobil sesaat setelah mobil itu berhenti.


"Ayo, kita harus jalan kaki ke sana", ajak Kenzo seraya memberikan gandengannya.


Alana menerimanya dengan menggayutkan tangannya. "Ayo, honey", sahut Alana. Lalu mereka berjalan beriringan. Alana tiada henti tersenyum kala impian di masa kecilnya akhirnya terwujud. "Honey, aku mau berfoto", katanya dengan penuh semangat.


Kenzo melihat kesekeliling, barangkali ada wisatawan lain yang bisa membantu mereka. Setelah mencari-cari, akhirnya dia menemukan seseorang yang juga berasal dari Indo.


"Asalnya dari mana Kak Sari?" tanya Alana setelah mereka saling berkenalan.


"Saya dari Depok", jawab Sari dengan tersenyum.


"Owh, kalau saya dari Jakarta, Kak."


Alana dan Sari masih asyik berbincang kala Kenzo sudah menunjukkan wajah bosannya.


"Oke, kalau begitu saya ke sana ya", ucap Sari menunjuk ke arah yang berbeda dengan tujuan Alana dan Kenzo.


Alana mengangguk sebagai jawaban. "Oke, Kak Sari hati-hati, ya", sahutnya.


"Honey, sepertinya kau sangat senang bertemu dengannya. Sampai-sampai kau melupakanku", ucap Kenzo lirih.


"Maaf, honey. Aku tidak bermaksud seperti itu."


Kenzo langsung mencubit gemas hidung Alana, hingga membuat sang pemilik kesal. "Aku cuma bercanda kok, honey."


"Iya, aku tahu honey. Tapi jangan hidungku yang jadi sasarannya", kesal Alana.


"Iya deh. Aku minta maaf", bujuk Kenzo kala melihat wajah cemberut Alana. "Hm, honey mau apa supaya mau memaafkanku?" tanya Kenzo kala melihat Alana masih mengacuhkannya.


Wajah Alana tiba-tiba tersenyum sambil menatap wajah tampan suaminya itu. "Aku mau ice cream dong, honey."


"Oke, honey. Ayo, kita pergi membeli ice cream."


Tangan Kenzo terjulur, namun Alana menolaknya. "Aku di sini saja", sahut Alana.


"Apa my honey yakin sendirian di sini."


Alana mengangguk sebagai jawaban. "Aku akan pergi ke sana", tunjuknya ke arah depan. "Setelah itu aku akan kembali lagi ke sini", lanjutnya menjelaskan pada Kenzo.


"Oke", sahut Kenzo.


...---...


Setelah 15 menit kemudian Kenzo kembali dengan ice cream ditangannya,.namun dia tidak menemukan keberadaan Alana. Kenzo gegas menghubungi Alana, namun netranya terbelalak kala melihat ada banyak panggilan tak terjawab diponselnya.

__ADS_1


__ADS_2