
Kenzo dan Alana sudah memasuki rumah mewah milik Kenzo. Wajah semu keduanya menunjukkan perjalanan mereka yang kurang menyenangkan. Mereka berjalan menuju kamar masing-masing tanpa ada sapaan suamiku dan istriku lagi. Entah kenapa hati Alana sedih dibuatnya.
Alana sudah berada di depan pintu kamarnya. Tangannya mendorong pelan pintu seraya menarik kedua kopernya, lalu dia berjalan masuk dengan langkah berat. "Ah, akhirnya aku kembali lagi ke kamar sempit ini", kata Alana dengan menghembuskan nafas ke udara. Tangannya bergerak menutup rapat pintu kamarnya. "Aku merindukanmu tempat tidurku.. " Alana gegas berlari menghampiri ranjangnya dan menjatuhkan bobot tubuhnya di kasur berukuran kecil itu.
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Alana pada pintu. Dia bangkit dari atas tempat tidur dan berjalan menghampiri pintu. "Siapa?" tanya Alana.
"Ini Bi Kokom, Nyonya", sahut suara dari luar kamar Alana.
Alana langsung membuka pintu. "Ada apa, Bi?" tanya Alana dengan wajah malas.
"Tuan meminta saya membawa barang Nyonya ke kamar Tuan", ucap Kokom yang membuat Alana menaikkan alisnya.
"Kenapa mendadak, Bi?"
"Saya kurang tahu Nyonya", jawab Kokom.
Alana mengkerutkan keningnya seraya berfikir. Apa ini ada kaitannya dengan kejadian di hotel? Perasaan takutnya kembali muncul kala kejadian di hotel kembali di putar dalam benaknya. "Oke, Bi. Saya kemasi barang-barang saya dulu."
"Baik, Nyonya. Saya tunggu."
"Tidak perlu di tunggu, Bi. Saya khawatir nanti Bibi kelamaan menunggu."
"Kalau begitu satu jam lagi saya datang kemari Nyonya."
"Oke, Bi", sahut Alana singkat.
Kemudian Kokom membalikkan badannya dan berjalan menjauhi Alana yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.
...----...
Tanpa terasa waktu berjalan sangat cepat. Alana sudah memindahkan semua barangnya ke dalam kamar Kenzo. Netranya masih menelusuri kamar mewah milik Kenzo.
"Tuan Kenzo", sapa Alana dengan berjingkat kala Kenzo tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
"Ya, ada apa?"
__ADS_1
"Em... Saya ingin menanyakan... "
"Mengapa saya memintamu pindah ke kamar ini?" Kenzo memotong ucapan Alana. Lalu dia berjalan menghampiri Alana. "Karena kita suami istri yang sah. Jadi wajar kalau kita tidur dalam satu kamar", ucap Kenzo seraya berjalan melewati Alana. Dia terus melangkahkan kaki jenjangnya menuju kamar mandi.
"Hanya karena itu doang?" tanya Alana di dalam benaknya. "Kami sudah menikah hampir 3 bulan, tapi tidak pernah dia memintaku tinggal di kamar ini. Sepertinya ada alasan yang lain." Alana masih bergumam memikirkan tujuan Kenzo sebenarnya.
Tiba-tiba ponsel Kenzo berdering. Alana hendak berjalan menghampiri, namun ponselnya ikut berdering. Dia pun membatalkan niatnya untuk melihat siapa yang sedang menghubungi Kenzo. Alana mengangkat telponnya seraya berjalan menuju balkon.
Di saat bersamaan Kenzo pun keluar dari dalam kamar mandi. Dia buru-buru berlari menuju nakas dan meraih ponselnya. "Alexa", ucapnya dengan raut wajah kecewa. Diletakkannya kembali ponsel yang masih berdering itu. Kemudian dia berjalan menuju kamar mandi.
"Kenapa Roni belum mengabariku", gumamnya saat berdiri di depan cermin.
Flashback On
Roni melihat seorang pria berdiri di depan pintu kamar Alana. Dia pun menghampirinya seraya menegur pria itu.
"Anda mencari siapa?"
Pria itu tampak gugup. Roni pun curiga dengan gelagat aneh pria bertubuh besar itu. Pria itu lari menuju tangga darurat.
"Jangan lari!" teriak Roni yang di dengar oleh para pengawal Kenzo. "Kejar dia!" titah Roni dengan nada keras saat melihat 3 orang pengawal baru saja keluar dari kamar mereka.
Saat Roni menekan bel kamar Alana ponselnya berbunyi. Dia mendengar melalui earphone tanpa kabel itu, para pengawal melaporkan mereka telah berhasil menangkap pria itu. Roni menghela nafas lega bersamaan dengan Alana membuka pintu dan mencecarnya dengan pertanyaan.
Flashback Off
Kenzo membasuh wajahnya sembari menatap tajam ke arah cermin. "Aku akan membuat kalian semua membayar atas perbuatan kalian sendiri!" ucap Kenzo dengan mengeraskan rahangnya. Lalu dia gegas menyelesaikan ritual mandinya.
Setelah selesai mandi Kenzo keluar dari dalam kamar mandi hanya dengan mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya.
Aaaa... Pekik Alana kala baru saja masuk ke dalam dan melihat Kenzo bertelanjang dada.
"Ada apa?" tanya Kenzo santai.
"Kenapa Tuan tidak memakai baju?"
"Aku baru selesai mandi. Apa ada yang salah?" Kenzo melangkahkan kaki jenjangnya menuju walkin-closet, tanpa menunggu Alana menyahut ucapannya.
__ADS_1
Sementara Alana buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Dia tidak ingin melihat aksi Kenzo berganti pakaian.
Setelah Alana menyelesaikan ritual mandinya. Dia baru sadar telah melupakan handuknya. Alana berdiri gusar di depan cermin. "Bagaimana ini?" gumamnya. Perlahan tangannya membuka pintu kamar mandi. Kemudian menjulurkan kepalanya mencari keberadaan Kenzo.
"Sepertinya aman", ucapnya dengan suara pelan.
Alana memberanikan diri keluar dari dalam kamar mandi tanpa ada sehelai benang pun ditubuhnya. "WTH, dia ada di balkon", rutuknya seraya berjalan kembali ke dalam kamar mandi.
Alana terpaksa menunggu di dalam kamar mandi. Dia hanya bisa menebak-nebak waktu, bahwa dia menunggu di sana sudah hampir sejam lamanya. "Mungkin Kenzo sudah ke luar dari kamar", ucap Alana. Dia kembali mengulangi aksinya tadi.
Aaa... Pekik Alana kala melihat Kenzo berdiri tepat dihadapannya. Lalu dia membanting pintu dengan perasaan malu.
Tok. Tok.
"Apa kau melupakan handukmu?" tanya Kenzo dari balik pintu.
"Iya", jawab suara bergema dari dalam kamar mandi.
"Ini, aku membawakannya", kata Kenzo.
Alana membuka sedikit pintu kamar mandi. Lalu tangan kirinya terjulur keluar. "Berikan!"
Kenzo memberikan handuk ditangannya. "Lain kali jangan lupa lagi", katanya saat Alana sudah menarik handuk.
"Iya", sahut Alana singkat saat menutup pintu.
Alana keluar dari dalam kamar mandi dengan memakai handuk. Netranya menyusuri ruangan luas itu untuk menemukan keberadaan Kenzo, namum dia tidak melihat sosoknya. Alana gegas berjalan menuju walk in closet dan mengenakan pakaiannya.
Setelah mengenakan pakaian rapi, dia meraih tas selempangnya dan berjalan keluar kamar.
"Apa yang terjadi?" gumamnya kala menuruni anak tangga, dia melihat Bi Kokom dan para pelayan lainnya berdiri dengan wajah tegang seraya menunduk dihadapan Kenzo dan Roni.
Alana ragu untuk meneruskan langkahnya yang hanya tinggal beberapa anak tangga lagi. Namun rasa penasaran membuatnya memberanikan diri untuk menghampiri mereka.
"Cepat katakan!" teriak Kenzo yang membuat Alana beringsut mundur. Suara bariton Kenzo bergema mengisi kesunyian di ruang tamu.
Kokom mengangkat tangannya, kemudian dia menunjuk ke arah Alana. "Nyonya yang telah mengatakannya padaku Tuan. Dan saya tidak sengaja menceritakannya pada penjaga itu", kilah Kokom.
__ADS_1
Alana yang tidak mengerti duduk perkaranya menatap Kokom dengan raut wajah bingung. "Maksud Bibi apa?"