
Roni bingung harus melakukan apa, karena Kenzo hanya memerintahkannya untuk mengantarkan Alana ke kamar yang lain. Sementara Alana ingin pergi ke bandara.
"Em, bagaimana kalau Nyonya nginap satu malam lagi, besok baru saya antar Nyonya ke bandara."
"Tidak bisa, Pak!" tolak Alana. "Saya tidak mau tinggal lebih lama lagi di sini. Ayo, kita ke bandara sekarang!" Alana melangkahkan kakinya, berjalan menuju lift.
Roni terpaksa mengikuti langkah Alana sambil menunggu balasan pesan dari Kenzo. Nyonya bisa lihat dulu kamarnya, barangkali Nyonya suka", tawar Roni mengulur waktu.
"Saya tidak mau!" tegas Alana seraya melangkah masuk ke dalam pintu lift yang baru saja terbuka.
Roni kembali mengikuti langkah Alana. Dia pun ikut berjalan masuk ke dalam lift. "Apakah Nyonya akan membiarkan wanita lain merebut suami Nyonya?" tanyanya dengan wajah serius.
Alana membuang nafasnya ke udara. "Tidak ada wanita manapun yang rela suaminya di ambil wanita lain", jawab Alana dengan nada lirih. "Tapi masalahku berbeda. Dia hanya suamiku di atas surat kontrak", lanjutnya.
Roni manggut-manggut, membenarkan ucapan Alana. "Kalau begitu saya pun tidak bisa berkata apa-apa, Nyonya", sahut Roni seraya membaca pesan masuk dari Kenzo. "Em, tapi setidaknya Nyonya pergi menjenguk sahabat Nyonya yang masih di tahan itu", usulnya sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Pak Roni benar!" seru Alana. Hampir saja Alana melupakan sahabatnya itu. "Apakah Pak Roni bisa membantu membebaskannya dari tahanan?"
"Bisa", jawab Roni singkat. "Tapi Nyonya harus mencabut laporan pengaduan Nyonya", katanya dengan wajah serius. Lalu dia mempersilahkan Alana berjalan keluar pintu lift lebih dulu.
"Jika di cabut, itu artinya Albert juga bebas?" tanya Alana saat mendorong kopernya keluar dari dalam lift.
Roni menganggukkan kepalanya. "Iya, Nyonya", katanya dengan sopan.
"Apa tidak ada cara lain?" tanya Alana. Dia tidak ingin Albert bebas begitu saja.
"Bisa, dengan bantuan Tuan Kenzo."
Alana mendelik kala mendengar jawaban Roni. Dia pun terdiam beberapa saat. "Bagaimana kalau Tuan Kenzo menolak? Apakah itu artinya tidak ada solusi lain?"
"Saya sarankan, Nyonya mencobanya lebih dulu. Jika Tuan Kenzo menolak, baru kita pikirkan cara lainnya."
"Oke, kalau begitu kita pergi menjenguk Diva lebih dulu", putus Alana.
__ADS_1
"Baik, Nyonya. Koper Nyonya saya minta di antar sama karyawan hotel ke kamar yang sudah saya siapkan buat Nyonya."
Alana tampak berfikir sejenak. "Em, saya rasa masih ada penerbangan malam ini. Jadi tidak perlu menginap."
"Kapan Nyonya membicarakan tentang sahabat Nyonya itu pada Tuan Kenzo?"
"Baiklah, saya menginap hanya untuk 1 malam."
Roni tersenyum mendengar penuturan Alana. Dia telah berhasil menjalankan perintah bosnya itu. "Oke, kalau begitu saya titipkan koper Nyonya sebentar." Roni melangkahkan kakinya berjalan menuju resepsionis.
Setelah berbicara beberapa menit pada atasan sang resepsionis, Roni pun kembali menghampiri Alana. Mereka berjalan bersama keluar dari lobi hotel.
...---...
Di dalam kamar Kenzo, tampak Alexa berulang kali mengetuk pintu kamar Kenzo.
"Ayolah, sayang. Jangan marah terlalu lama. Aku melakukan ini semua karena aku sayang padamu. Tapi apa balasan darimu", bujuknya dengan nada lirih.
Hening... Hening...
Ceklek.
"Akhirnya..." kata Alexa bernafas lega. "Aku tahu sayangku tidak akan mengabaikanku", ucapnya percaya diri seraya memeluk Kenzo.
Flashback on
Kenzo masuk ke dalam kamarnya. Dia mendapat telepon dari Roni tentang rekaman CCTV saat Alexa berada seorang diri di ruang TV. Di sana menunjukkan Alexa sedang menerima telepon dari seorang.
"Halo, sayang", sahut Alexa pada seseorang di seberang telepon.
"Iya, sayang. Aku hanya mencintaimu seorang. Kau tenanglah! Setelah aku mendapatkan semua harta kekayaan Kenzo, aku akan meninggalkan pria tua itu", jawab Alexa.
"Saudara tiriku itu akan pulang hari ini. Suruh anak buahmu bekerja dengan sagat rapih", kata Alexa dengan menyeringai.
__ADS_1
"Bye, sayang", sahut Alexa setelah beberapa saat dia mendengarkan orang di seberang telepon berbicara.
Kenzo menghentikan video rekaman CCTV itu. Lalu Kenzo buru-buru menghubungi Roni untuk mengantarkan Alana ke kamar lain. Kebetulan Roni hendak melaporkan sesuatu pada Kenzo, jadi saat Alana keluar dari pintu, Roni sudah menunggu di luar.
Saat Roni mengabarkan pada Kenzo bahwa Alana akan ke bandara dan kembali ke rumah, Kenzo mulai gelisah. Dia terus memikirkan alasan yang dapat menghambat Alana pulang pada saat itu juga. Hingga terbesit dalam benak Kenzo, untuk menjadikan Diva sebagai alasan menghalangi kepulangan Alana.
Setelah Kenzo mendapat kabar dari Roni, bahwa Alana tidak jadi pulang. Dia pun bernafas lega, lalu dia menampilkan monitor CCTV di mana Alexa berada, saat wanita itu mengatakan akan mencelakai dirinya.
"Cih, ternyata kau cuma pura-pura!" ucap Kenzo seraya menutup monitor CCTV.
Lalu dia masuk ke dalam kamar mandi, mencuci wajahnya dan mengeringkannya dengan santai. Dia mengabaikan Alexa yang berada di luar pintu kamarnya, berdiri dengan tiada henti mengetuk pintu kamarnya.
Sesaat setelah berganti pakaian, Kenzo membuka pintu kamarnya.
Flashback off
"Sayang, kenapa kau mengabaikanku? Padahal aku jauh-jauh menyusulmu kemari, karena aku sangat merindukanmu. Tapi sayangku malah acuh padaku. Apa jangan-jangan kau tidak cinta lagi padaku?" Alexa masih memeluk Kenzo dengan manja.
"Lepaskan dulu", kata Kenzo dengan lembut.
Perlahan Alana melepas pelukannya. Lalu Kenzo berbalik, hingga mereka saling berhadapan. "Aku sangat sibuk di sini, mungkin tidak sempat untuk menemanimu", ucap Kenzo dengan menatap Alexa.
"Aku ngerti kok, sayang. Kalau kau benar-benar sibuk. Tapi kita bisa bertemu di sini setelah kau menyelesaikan pekerjaanmu."
Apa kau benar-benar hanya menginginkan hartaku? Atau kau punya niat terselubung yang lain? Tanya Kenzo di dalam batinnya.
"Kenapa diam sayang? Apa masalah pekerjaan menganggu pikiranmu?" tanya Alexa dengan lembut.
"Owh, bukan apa-apa. Mungkin aku sedikit lapar saja", jawab Kenzo asal. Aku akan minta Roni menyelidiki Alexa dan temannya berbicara di telepon, sepertinya mereka akan mencelakai Alana. Ucap Kenzo di dalam batinnya.
"Kalau begitu kau mau dipesankan apa?" tanya Alexa.
Kenzo menatap Alexa dengan muka cengo. "Aku pikir kau akan memasak untukku."
__ADS_1
"Em, aku tidak bisa memasak, sayang. Selama ini mama melarangku melakukan pekerjaan rumah. Jadinya aku tidak bisa memasak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya", sahut Alexa dengan nada lirih. "Padahal aku kan bisa belajar pada Alana, anak pembantu kami itu", lanjutnya dengan penuh drama.
"Owh, begitu", sahut Kenzo dengan malas. Lalu dia menghubungi seseorang untuk memesan makanan dari restoran hotel.