
Kenzo buru-buru mengakhiri pertemuannya dengan Alexa, setelah Roni membisikkan sesuatu yang membuat Kenzo terperangah.
Apalagi rencana asisten penyibuk ini? Tidak ada habis-habisnya dia mengganggu hubunganku dengan Kenzo. Awas saja kalau aku menikah dengan Kenzo, akan aku buat dia kelimpungan mencari pekerjaan. Ucap Alexa di dalam batinnya.
"Kami permisi", ucap Kenzo seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Tapi, sayang... Aku maunya tinggal sekamar denganmu", rengeknya dengan suara mendayu.
Roni bergidik ngeri mendengar suara mendayu Alexa. Sementara Kenzo tetap santai, dia tidak mau gegabah dalam menghadapi Alexa.
"Mengenai kamar, nanti Roni yang urus. Saat ini aku harus segera membereskan sesuatu yang mendesak", sahut Kenzo seraya menarik tangan Roni, agar segera menuntunnya pergi.
Alexa menghentakkan kakinya dengan berdecak kesal. Dia menatap kepergian Kenzo dan Roni dengan raut wajah emosi. "Kenapa Kenzo selalu mengelak! Apa dia tidak mencintaiku lagi?" tanya Alexa bergumam. Lalu dia bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju meja resepsionis.
"Pagi, mba", sapa wanita yang berdiri di balik meja resepsionis dengan ramah. Namun dia langsung di tegur oleh atasannya.
"Dia itu istri pemilik hotel ini", ucapnya berbisik.
Alexa yang masih dapat mendengar apa yang dikatakan supervisor wanita itu, seolah mendapat ide brilian.
"Ma- maaf, Nyonya. Tadi saya tidak mengenal anda", kata wanita itu dengan gugup.
"Lain kali perhatikan dengan baik. Untung saja atasan kamu mengenaliku. Kalau tidak kalian berdua sudah pulang ke rumah dan tidak akan pernah datang lagi bekerja", tukas Alexa dengan nada angkuh.
"Sekali lagi saya minta maaf, Nyonya", ucap wanita itu dengan menunduk.
"Oke, saya maafkan. Tapi dengan satu syarat", imbuh Alexa.
Wanita itu mengernyitkan keningnya. Dia bingung dengan perubahan sikap istri Kenzo itu. "Syarat?" ulangnya.
Alexa menganggukkan kepalanya. "Syaratnya mudah, kok", balasnya. "Kau hanya perlu bantu aku membuka kamarku, karena kartuku tertinggal di dalam."
"Lagi?" tanya wanita itu dan atasannya hampir bersamaan.
Alexa bingung dengan ucapan mereka. Dia pun menganggukkan kepalanya. "I- iya", jawabnya sedikit ragu.
Ternyata istri Tuan Kenzo orangnya pelupa, ucap sang supervisor di dalam batinnya. "Baik, Nyonya. Biar saya yang membantu Nyonya", sahutnya menawarkan diri. Lalu dia berjalan menuntun Alexa menuju lift.
Tidak butuh waktu yang lama mereka tiba di lantai 5. Sang supervisor masih tetap berjalan menuntun Alexa menuju kamar Kenzo.
__ADS_1
Setelah berada di depan pintu kamar Kenzo, Supervisor hotel itu membuka pintu kamar tanpa izin dari Kenzo, karena sejak kejadian Alana tidak membawa kunci keluar kamar, Kenzo memberi mandat untuk membukakan pintu khusus buat istrinya saja.
"Oke, sudah terbuka. Saya pamit undur diri dulu, Nyonya."
"Oke, terimakasih Pak", sahut Alexa dengan tersenyum. Lebih tepatnya Alexa sàngat bahagia saat ini, karena dia tidak perlu menguras otak untuk bisa masuk ke dalam kamar Kenzo.
"Apaah hari ini adalah hari keberuntunganku?" ucap Alexa bermonolog. Lalu dia melangkahkan kakinya menyusuri setiap sudut kamar yang menurutnya cukup mewah. "Sudah cukup Alana menikmati kemewahan ini! Sekarang giliranku", seringainya dengan bergumam.
"Ahhh... tempat tidur yang nyaman", katanya saat menjatuhkan bobot tubuhnya di atas tempat tidur milik Alana. Lalu dia mengistirahatkan tubuhnya di sana hingga matanya terpejam.
...---...
Di tempat berbeda, Kenzo bersama anak buahnya berada di sebuah gudang yang sudah lama tidak ditempati. Tiba-tiba Roni datang menghampiri Kenzo dan membisikkan sesuatu ditelinganya.
"Oke, lakukan sesuai rencana", katanya dengan wajah serius.
Roni membagi anak buah Kenzo dalam tiga kelompok untuk mengepung gudang itu. "Jalan!" titah Roni pada para pria yang sudah terlatih itu.
Tidak berselang lama ponsel Kenzo bergetar. Dia sudah menonaktifkan nada deringnya, begitu pula dengan anak buahnya, agar mereka tidak ketahuan.
"Halo", sahut Kenzo
"Halo, Tuan Kenzo yang terhormat. Bagaimana kabarmu saat ini?" tanya Albert dari seberang telepon.
"Like father like son. Apa Tuan Kenzo tidak pernah dengar ungkapan itu?"
Kenzo kembali berdecih. "Apa hebatnya papamu?"
"Jelas papaku hebat! Lihat saja papamu kena serangan jantung, karena perbuatan papaku!" ucap Albert bangga seraya tertawa meledek.
"Terimakasih atas pengakuannya!" sahut Kenzo dengan rahang yang mengeras. Akhirnya dia bisa menemukan pelaku sebenarnya yang telah memfitnah papanya, hingga saham keluarganya anjlok dan kedua orangtuanya tiada.
"Aku punya satu berita bagus lagi", lanjut Albert.
"Katakan!" sahut Kenzo dengan menahan emosi.
"Istrimu yang cantik ini sedang berada dalam pelukanku dan menatapku dengan penuh cinta. Aku juga mau berterimakasih karena kau belum menyentuhnya sama sekali. Oh, iya aku lupa. Kau kan buta!" ledek Albert
"Jangan sentuh dia!" tukas Kenzo dengan rahang yang mengeras.
__ADS_1
"Ups, aku sudah menyentuhnya... Ha.. Ha.. Ha.." Albert tertawa begitu keras hingga memekakkan telinga Kenzo.
Roni berjalan menghampiri Kenzo, lalu berbisik di telinganya. Kenzo pun mengangguk sebagai isyarat.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Kenzo yang masih berbicara di telepon.
"Aku mau sahammu di luar negeri dan di Bali", kata Albert dengan tamak.
"Baik! Karena permintaanmu ada 2, maka akupun meminta 2 hal padamu!"
"Hei, di sini yang punya kuasa untuk meminta hanya aku!" tegas Albert.
Tiba-tiba Kenzo mendengar suara anak buahnya berteriak pada Albert.
"Siapa kalian?" tanya Albert yang masih dapat di dengar oleh Kenzo.
"Ayo, kita ke sana", ajak Kenzo pada Roni. Lalu dia mengakhiri sambungan teleponnya.
Roni dan Kenzo berjalan menuju tempat Albert bersembunyi.
"Aku sudah merekam semua pembicaraan di telepon tadi. Setelah ini sasaran berikutnya adalah Ayahnya", ucap Kenzo.
"Ya, Tuan. Saya juga sudah menemukan beberapa bukti perbuatan jahat Ayah Albert. Setelah masalah ini selesai akan saya tunjukkan pada Tuan."
"Oke", sahut Kenzo singkat. Lalu mereka berjalan masuk ke dalam ruangan berdebu. Di mana anak buah Kenzo sudah menahan Albert.
"Bawa dia ke pihak yang berwajib!" seru Kenzo. Lalu dia berjalan menghampiri Alana, kemuduan memeluk tubuhnya yang bergetar.
"Kau aman sekarang", ucap Kenzo menenangkan Alana. "Ayo, kita keluar dari tempat ini", ajaknya kemudian.
"Bagaimana dengan wanita ini, Tuan", tunjuk anak buah Kenzo pada Diva
"Bawa dia bersama pria tadi!" titahnya.
Diva yang sedari tadi menangis mencoba untuk mendapatkan simpati Alana.
"Al, tolong maafkan aku. Kau tahu alasanku melakukan hal ini. Dia mengancam keluargaku, Al. Dia juga sudah menodaiku. Aku korban di sini. Please, Al", pohon Diva saat anak buah Kenzo membawa Diva dengan paksa.
Alana tidak menyahut ucapan Diva. Dia syok, karena Diva, sahabatnya itu tega melakukan hal itu padanya.
__ADS_1
Alana mendongak menatap wajah tampan Kenzo. "Bagaimana suamiku tahu, Albert membawaku ke tempat ini?" tanya Alana penasaran.
"Akan aku ceritakan setelah kita berada di dalam mobil", sahut Kenzo dengan berjalan merangkul pinggang ramping Alana.