Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Percaya Pada Alana


__ADS_3

Kenzo dan yang lainnya menatap ke arah Alana yang masih berdiri di anak tangga terakhir.


"Bibi jangan sembarangan menuduh! Apa Bibi punya bukti?" Suara bariton Kenzo mendominasi, membuat Kokom terjingkat.


"Saya tidak berani menuduh Tuan, jika Tuan tidak percaya, coba dengar rekaman ini", kata Kokom membela diri seraya menyodorkan ponselmya pada Kenzo. Kemudian Kenzo memutar rekaman suara itu.


Bi Kokom, saya mau memberitahu satu rahasia Tuan Kenzo. Suara Alana dengan setengah berbisik.


Kenapa Nyonya mau memberitahu rahasia Tuan? Kokom bertanya.


Tuan Kenzo tidak pernah menganggapku sebagai istrinya. Jadi aku mau memberitahu rahasianya kalau Tuan Kenzo itu tidak buta!


"Itu bukan suara saya!" bantah Alana seraya berjalan menghampiri Kenzo.


Kenzo menelisik tanggal dilakukannya rekaman itu. "Ini bukan suara Alana", katanya.


"Tuan tidak mempercayai saya?"


"Saya percaya pada Alana!" Tegas Kenzo. Sontak Alana menoleh ke arah Kenzo. "Bawa dia segera ke pihak yang berwajib!" titahnya pada Roni.


"Tuan... Maafkan saya. Ini semua bukan kemauan saya. Tolong maafkan saya, Tuan." Kokom tiada henti memohon pada Kenzo. Dia menahan bobot tubuhnya saat Roni akan membawanya. "Semua ini ulah Pak Steve, Tuan!" teriak Kokom dengan isak tangis. Dia sangat menyesal karena telah mengikuti semua keinginan Steve.


"Roni, sebentar."


Roni menghentikan langkahnya seraya menoleh ke arah Kenzo.


"Bawa dia kemari!"


Roni melangkahkan kakinya membawa Kokom kehadapan Kenzo.


"Saya yakin Tuan akan memaafkan saya", kata Kokom seraya menatap Kenzo dengan mengiba.


Kenzo menatap tajam ke arah Kokom. "Bibi terlalu percaya diri. Saya hanya ingin Bibi menyampaikan pesan pada Steve. Katakan padanya saya sudah menangkap beberapa orang suruhannya!" ucap Kenzo yang membuat Kokom melongo. "Bawa dia pergi dari sini segera!" lanjutnya dengan nada keras.


"Tapi, Tuan... Saya sudah memberitahu pelaku sebenarnya. Tuan..." Kokom terus berteriak saat Roni membawanya keluar.


Para pelayan lainnya masih berdiri dengan rasa takut. Mereka tidak berani untuk mengangkat kepalanya.


"Kalian semua kembali bekerja!" titah Kenzo.

__ADS_1


Flashback on


Kenzo baru saja menerima info dari Roni, bahwa pelayan dirumahnya adalah mata-mata yang di tunjuk oleh Steve, mantan kepala pelayan yang sudah Kenzo pecat belasan tahun yang lalu.


Kenzo gegas membuka CCTV yang telah dia pasang tanpa ada seorang pun yang tahu. Dia memutar rekaman CCTV dari setiap sudut ruangan, khususnya di hari dirinya dan Alana melakukan perjalanan ke Bali. Hampir 2 jam lamanya dia mencari aksi yang mencurigakan di antara pelayannya, akhirnya membuahkan hasil.


Pada rekaman CCTV Kokom berbicara di telepon dengan seseorang.


Halo, Pak Steve. Tuan Kenzo dan istrinya sudah kembali dari Bali. Kenzo mendengar jelas suara Bi Kokom menyahut ucapan di seberang telepon.


Tapi apa bukti yang akan saya berikan? Kokom bertanya kemudian menunggu orang diseberang telepon menjawab.


Baik, Pak. Kalau begitu saya akan merekam suara saya sendiri, tapi tolong kirim rekaman suara yang sudah di gabung segera ya, Pak. Wajah Kokom tampak khawatir.


Kenzo langsung menutup layar rekaman CCTV di laptopnya. Lalu dia berjalan menuju pintu ke luar, namun netranya terusik pada handuk milik Alana yang masih terletak di sofa. Dia buru-buru meraih handuk itu dan berjalan menuju kamar mandi. Belum sempat Kenzo mengetuk pintu kamar mandi, Alana sudah membuka pintu. Lalu Kenzo menyerahkannya pada Alana.


Setelah itu Kenzo kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Dia meminta Roni untuk mengumpulkan semua pelayan.


Flashback Off


Alana berdiri diposisinya dengan gugup. Dia tidak berani membuka suaranya.


"Ikutlah ke kamar!" titah Kenzo pada Alana.


"Jangan takut. Aku tidak pernah melakukan sesuatu dengan paksaan", kata Kenzo saat dia melihat ekspresi wajah Alana. "Aku hanya ingin mengatakan bahwa perjanjian kontrak nikah kita dibatalkan."


Alana tidak langsung menyahut ucapan Kenzo. Dia berdiri menatap Kenzo dengan wajah bingung.


"Aku hanya ingin mengatakan itu. Apa ada yang ingin kau katakan?" Kenzo kembali bersuara.


"Em, setelah itu dibatalkan, status hubungan kita bagaimana?"


"Kembali normal."


Alana tidak paham dengan maksud perkataan Kenzo, namun dia mengartikannya bahwa status mereka kembali seperti semula yakni hubungan bukan suami istri lagi.


"Ba-- baiklah, Tuan", jawab Alana kecewa. Begitu pun Kenzo, dia kecewa dengan sapaan yang baru saja diucapkan Alana. "Em, saya mau ke kampus hari ini. Apa saya diizinkan pergi?"


"Silakan", jawab Kenzo singkat. Lalu dia beranjak dari posisinya berdiri dan pergi meninggalkan Alana dengan raut wajah kesal.

__ADS_1


"Kenapa dia yang marah? Seharusnya aku yang marah, karena sesuka hati dia membuat status hubungan yang rumit antara kami", ucap Alana bernada kesal. Namun karena urusan kampus sangat penting, dia gegas melangkahkan kakinya keluar kamar.


...---...


Di dalam ruang kerjanya, Kenzo duduk di kursi kerjanya dengan wajah di tekuk.


Tok. Tok.


"Masuk!" seru Kenzo tanpa ingin mengetahui siapa yang datang keruangannya.


"Permisi Tuan", ucap Roni saat masuk.


"Apa semua sudah beres?"


Roni sedikit terjingkat kala mendengar ucapan Kenzo yang mendominasi. "Sudah Tuan. Saat ini Bi Kokom sudah berada dalam tahanan."


"Bagus!" seru Kenzo. "Sekarang, lakukan rencana berikutnya."


"Baik, Tuan", sahut Roni. Lalu dia pamit undur diri. Namun baru saja dia membalikkan badannya Kenzo memintanya tinggal. "Ya, ada perintah lagi Tuan?"


Kenzo tampak ragu menceritakan kegelisahan hatinya. Dia menatap Roni cukup lama. "Apa kau pernah menyatakan cinta?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Kenzo.


Roni berusaha menahan tawanya. Dia tahu Kenzo seorang introvert, bahkan saat bersama dengan Alexa dia tidak pernah mengatakan cinta lebih dulu, justru Alexa yang lebih agresif. "Saya tentu pernah menyatakan cinta pada cinta pertama saya Tuan."


"Owh", jawab Kenzo singkat. Dia tidak ingin kehilangan wibawanya.


Roni seolah paham apa yang sedang dipikirkan Tuannya itu. "Tuan menyukai Alana?"


Pertanyaan itu mampu membuat Kenzo gelisah. Dia mematap Roni dengan tatapan penuh arti. "Apa kau cenayang?"


"Pufft... Maaf Tuan saya tidak bisa lagi menahan tawa", ucap Roni yang membuat Kenzo merasa malu. "Saya sudah mengikuti Tuan selama 12 tahun ini, tidak ada hal yang Tuan sembunyikan dari saya, jadi saya tahu persis apa yang sedang Tuan pikirkan saat ini."


Kenzo berdehem seraya membusungkan dada bidangnya. "Roni, apa kau sudah bosan dengan pekerjaanmu sekarang?" Kenzo menaikkan alisnya yang memaksa Roni merubah mimik wajahnya.


"Maaf, Tuan. Siap salah", lanjut Roni.


"Kalau begitu pikirkan bagaimana caranya aku dapat menyatakan cinta pada Alana."


Akhirnya, bos introvert ini ngaku juga. Ucap Roni di dalam batinnya. "Bagaimana kalau Tuan pergi menjemput Nyonya dikampusnya", usul Roni. "Wanita biasanya suka dengan perhatian kecil."

__ADS_1


Kenzo manggut-manggut. "Setelah itu?"


Tiba-tiba ponsel Kenzo berdering. Roni menghela nafas lega, akhirnya dia bisa selamat dari banyak pertanyaan Kenzo, bos yang tidak tahu cara untuk mengungkapkan perasaannya itu, namun pernah punya seorang kekasih.


__ADS_2