
Alana tidak menaruh curiga sedikit pun atas sikap aneh Roni. Dia melakukan aktifitasnya di dalam kamar seperti biasa hingga malam menjelang. Tidak tahu kenapa tiba-tiba rasa takut datang menghampirinya, bukan karena sosok tak kasat mata, namun karena dia merasakan ada sosok yang sedang mengintainya.
Malam itu, Alana tidur dengan gelisah. Dia terus menoleh ke arah pintu dan jendela bergantian. Ditariknya selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Rasa pengap pun dia abaikan hingga dia memanjatkan doa memasrahkan dirinya pada Allah.
Tanpa Alana sadari, akhirnya dia terlelap. Namun kemudian dia terbangun saat mendengar suara bel kamarnya. Alana menjulurkan tangan meraih ponsel diatas nakas.
"Masih jam 4", ucap suara paraunya kala melihat jam digital diponselnya. "Siapa yang datang pagi buta gini", kesalnya seraya bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu.
Matanya membulat sempurna kala melihat Roni berdiri di depan pintu kamarnya. Dia mencoba menghubungi Roni untuk memastikan dia tidak salah melihat, dan benar saja itu Roni. Dia sedang menunggu Alana membuka pintu.
"Pagi, Nyonya. Maaf saya telah mengganggu jam tidur Nyonya", ucap Roni dengan rasa bersalah saat Alana membuka pintu.
"Ada apa sepagi ini Pak Roni datang kemari?"
"Jadwal Pertemuan Bisnis Tuan Kenzo di ubah. Jadi hari ini seharusnya masih ada pembahasan tentang bisnis, tapi di tunda ke minggu depan. Hari ini hanya ada acara makan siang bersama. Tuan Kenzo sudah pamit pulang lebih dulu pada kolega bisnisnya. Saya datang untuk membawa Nyonya ikut pulang bersama pagi ini. Bersiaplah Nyonya, setengah jam ke depan saya akan datang kembali."
Alana menatap Roni dengan perasaan curiga. Dia menelisik ke dalam netra Roni untuk memastikan kebenarannya.
"Kenapa Nyonya bengong?"
"Em, bukan apa-apa", sahutnya gugup. Dia takut Roni salah paham. "Kalau begitu saya siap-siap dulu."
"Oke, Nyonya."
Alana buru-buru menutup pintu kamarnya. Dia gegas menyusun isi kopernya. "Gaun ini indah, tapi aku tidak membutuhkannya lagi, nanti aku kembalikan saja pada Kenzo", ucap Alana bermonolog. Setelah selesai mengemasi isi kopernya. Dia berjalan menuju kamar mandi dan menyelesaikan ritual mandinya.
...---...
Sementara di tempat berbeda, Roni sedang duduk bersama para pengawal suruhan Kenzo. Mereka mendiskusikan tentang perjalanan Tuan dan Nyonya mereka menuju bandara agar di kawal dengan ketat, namun tidak boleh diketahui oleh Alana.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Roni berdering. Dia buru-buru mengangkat telepon dari Tuannya itu.
"Halo, Tuan", sahut Roni.
"Baik, Tuan", jawabnya kemudian setelah selesai mendengar ucapan Kenzo.
Lalu sambungan telepon itu pun di putus.
"Bersiaplah, kita akan berangkat!" titah Roni pada para pengawal itu. "Saya akan ke kamar Tuan Kenzo dulu."
"Baik, Pak", sahut para pengawal dengan tegas.
...----...
Tidak butuh waktu yang lama Alana sudah selesai dan duduk di sofa sembari menunggu Roni.
Alana langsung mendorong kopernya menuju pintu, lalu berjinjit untuk memastikan bahwa itu adalah Roni. Alana beringsut mundur kala melihat pria asing lain ada di depan pintu kamarnya. Dia mulai merasa takut dan memilih untuk diam. Tidak lama kemudian terdengar sayup seseorang telah mengajaknya ngobrol. Dia pun kembali mengintip dari lubang kecil pintu.
"Itu Pak Roni, apa dia mengenal pria itu?" Alana bergumam seraya meraih ponselnya. Sesaat kemudian terdengar suara ribut di luar. Alana kembali mengintip. Dia tidak dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di luar. Tiba-tiba Roni sudah berada di depan pintu kamarnya seraya memencet bel.
Alana buru-buru membuka pintu kamarnya. "Apa yang sudah terjadi Pak?" tanya Alana penasaran.
"Bukan masalah besar Nyonya. Sekarang Nyonya ikut dengan saya."
Alana masih penasaran dengan pria itu. Dia ingin bertanya lebih, namun sepertinya Roni tidak akan memberitahunya. Siapa pria misterius itu? Jika dia punya niat jahat, kenapa terang-terangan masuk lewat pintu? Alana tidak henti bertanya di dalam batinnya. Dia mendorong kopernya keluar kamar dengan perasaan gelisah.
...----...
Tidak butuh waktu yang lama Alana dan Roni sudah berada di dekat mobil yang terparkir di basement hotel. Mereka pun langsung masuk ke dalam mobil. Alana tersentak kaget saat melihat jelas Kenzo sudah duduk persis disebelahnya.
__ADS_1
"Pagi, Tuan", sapa Alana dengan ramah.
"Pagi", balas Kenzo tanpa menoleh. Dia sibuk dengan ponsel ditangannya.
Alana melihat ke belakang, barangkali mereka masih menunggu Alexa. Namun mobil mulai dinyalakan dan akan segera meninggalkan parkiran.
"Alexa di mana Tuan?" Alana masih melihat ke sekeliling tanpa melihat ekspresi wajah Kenzo. "Eh, kenapa sudah jalan?" tanyanya, spontan dia menoleh ke arah Kenzo. Alana beringsut mundur kala melihat ekspresi datar Kenzo, yang lebih menyeramkan dari pada saat Kenzo marah. Dia tidak ingin mengatakan apapun lagi, hingga mereka tiba di bandara.
...---...
Sementara di dalam kamar, Alexa baru saja membuka matanya. Dia tersenyum kala melihat dirinya masih berada di dalam kamar yang telah dia rebut dari Alana itu. "Kenzo pasti sudah memikirkannya semalaman", ucap suara paraunya seraya meregangkan tangannya. Dia bangkit dari atas tempat tidur dan berjalan menuju pintu ke luar.
"Sepi sekali, apa Kenzo belum bangun?" Alexa berjalan menyusuri setiap sudut ruangan. Langkahnya pun berhenti tepat di depan pintu kamar Kenzo. Perlahan tangannya mulai bergerak membuka pintu. "Apa dia di dalam kamar mandi?" tebaknya saat tidak melihat Kenzo di atas tempat tidur. Alexa melangkah masuk lebih dalam, lalu dia mendekat ke pintu kamar mandi, dengan berani dia membukanya. "Tidak ada", katanya dengan raut wajah kecewa.
Netranya tertarik untuk melihat sebuah sticky note yang di tempel di cermin.
Saat kau membaca pesan ini, kemungkinan aku sudah meninggalkan Bali. Karena kau datang ke Bali seorang diri, maka pulanglah sendiri. Sorry aku tidak bisa membawamu pulang. Isi pesan yang ditinggalkan Kenzo.
"Kenzoo...!" teriak Alexa dengan kencang. Lalu dia menyobek sticky note menjadi potongan bagian kecil dengan amarah yang tidak dapat terbendung lagi. Dia berjalan keluar dari kamar Kenzo dan mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam kamar. Kemudian dia menghubungi seseorang.
...---...
Setelah perjalanan hampir 2 jam, mereka pun tiba di bandara. Seperti di bandara sebelumnya, Roni mendapat tugas untuk mengurus koper milik Kenzo dan Alana. Sambil menunggu Roni datang membawakan koper milik mereka, Kenzo duduk sembari menonton rekaman CCTV di kamarnya. Di sana terlihat jelas Alexa sedang menghubungi seseorang yang dia sebut dengan nama Steve. Tidak lama kemudian Roni datang dengan membawa koper mereka.
"Selidiki siapa Steve yang berhubungan dengan Alexa", titah Kenzo saat mereka berjalan sejajar.
"Baik, Tuan", sahut Roni.
Sementara Alana menebak di dalam pikirannya, bahwa Kenzo sedang cemburu pada Steve yang Alana kenal sebagai teman masa kecil Alexa.
__ADS_1