
Tak ingin kedatangannya ke rumah sang mertua sia-sia, Kenzo terlebih dulu menghubungi ayah mertuanya itu untuk menanyakan keberadaan Alexa. Namun justru panggilan telepon darinya di angkat oleh Alexa sendiri.
"Ayo, lebih cepat lagi", kata Kenzo saat Alexa memberitahu bahwa ayah mertuanya terkena serangan jantung.
"Baik, Tuan", jawab Roni dengan menambah laju kecepatan mobil.
Apa yang sudah dikatakan Alexa, hingga ayah mertua kena serangan jantung? Kenzo terus bertanya-tanya di dalam batinnya. Perasaannya semakin gelisah kala membayangkan apa yang terjadi pada Alana, jika ide penculikan istrinya itu didalangi oleh Alexa. Anehnya semakin dia memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi pada Alana, semakin kepalanya terasa berat.
Tak berselang lama mobil yang dikendarai oleh Roni sudah berada diparkiran rumah sakit.
"Roni, kau langsung saja pergi ke kamar Pak Ramond. Aku mau ketemu dokter lebih dulu", kata Kenzo yang merasakan sakit di tengkuk kepalanya.
"Baik, Tuan", jawab Roni tanpa bertanya apapun.
Sesuai ucapan Kenzo, Roni gegas menuju ruang inap yang telah diberitahu oleh Alexa, sementara Kenzo pergi menemui dokter untuk melakukan pemeriksaan.
...---...
"Bagaimana kabar Pak Ramond?" tanya Roni yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang inap Ramond, sontak membuat Alexa terjingkat.
"Kenzo mana?" tanya Alexa saat tidak melihat keberadaan Kenzo.
Merasa kesal karena Alexa malah bertanya balik, Roni mendekati Ramond tanpa sepata kata.
Asisten sombong ini selalu saja menganggap dirinya lebih hebat dariku! Kesal Alexa di dalam batin. Saat bertemu Roni, Alexa tak pernah akur dengannya, ada saja pembicaraan yang selalu berujung perdebatan.
"Permisi", ucap pak Dokter, yang tiba-tiba masuk ke dalam. Sontak Roni dan Alexa menoleh.
"Iya, dok", sahut Roni dengan ramah.
Lalu pak Dokter melakukan pengecekan pada Ramond. "Keadaannya masih sama", kata sang dokter sembari melihat monitor ICU.
"Apa penyakitnya parah dok?" tanya Roni yang melihat ekspresi serius sang dokter, sama seperti ekspresi Kenzo saat sedang banyak masalah.
"Penyakit jantung itu jangan di anggap remeh, karena satu dari tiga angka kematian di dunia disebabkan oleh penyakit jantung", kata sang dokter dengan tatapan serius.
Roni membalas dengan manggut-manggut. Namun dia masih saja beranggapan, bahwa semua penyakit itu sama saja akan merenggut nyawa seseorang kalau penyakit itu sudah parah atau kritis.
"Apa bapak mertua anda sering mendengar berita yang membuatnya kaget dan cemas?" tanya sang dokter saat memberikan hasil pemeriksaan pada perawat.
__ADS_1
Alexa dan Roni saling berpandangan. Lalu mereka sama-sama menoleh ke arah sang dokter.
"Dia bukan istriku!"
"Dia bukan suamiku!" teriak Alexa dan Roni hampir bersamaan.
Sang dokter pun tertawa. "Ha, ha, maaf, maaf. Saya pikir tadi kalian pasangan suami istri", ujar sang dokter. "Saya lihat kalian saling berjauhan, seperti suami istri yang sedang bertengkar saja. Apalagi tadi kalian menjawab dengan kompak. Kalau benar kalian sedang bertengkar, hati-hati. Biasanya dari benci jadi cinta", guyon sang dokter.
Tak terima dengan ucapan sang dokter, Alexa menatap emosi dokter pria paruh baya itu. "Saya akan melaporkan bapak!" katanya dengan nada emosi.
Sang dokter dan Roni menatap bingung.
"Atas tuduhan apa." tanya sang dokter.
"Bapak tertawa di depan pasien yang sedang kritis, di mana etika bapak!" tukas Alexa.
"Owh, maafkan saya, Bu. Tadi itu saya terbawa suasana. Saya janji tidak akan mengulanginya."
Rasa dongkol Alexa seakan tak bisa terobati hanya dengan kata maaf dari sang dokter. Dia ingin asisten itu mendapat malu, barulah dirinya merasa puas. "Hm, oke", jawab Alexa dengan terpaksa.
"Kalau begitu saya pamit mau ke ruang pasien lainnya", kata sang dokter dengan ramah.
"Kau pun keluarlah!" usir Alexa. Dia kesal saat melihat wajah Roni.
"Aku akan pergi, jika kau memberitahuku apa yang menyebabkan papamu terkena serangan jantung!" tegas Roni.
"Itu bukan urusanmu!" balas Alexa.
"Tapi ini urusanku!" sela Kenzo yang mendengar perbincangan Roni dan Alexa.
"Kenzo", panggil Alexa seraya menghamburkan diri dalam pelukan Kenzo.
Spontan Kenzo menyentak kasar tubuh Alexa. "Aku bukan suamimu atau kekasihmu! Aku ini kakak iparmu, jadi tolong jaga batasanmu!"
"Tapi aku sedang sedih saat ini. Setidaknya kau coba menghiburku", sahut Alexa dengan nada lirih.
"Mungkin dulu aku belum mengenalmu, tapi saat ini aku tahu betul bagaimana sifatmu. Jadi, cepat katakan, apa yang menyebabkan ayah mertuaku jadi seperti ini?"
"Aku benar-benar tidak tahu apa maksud dari ucapanmu! Sayang, kau ..."
__ADS_1
"Stop!" sela Kenzo yang menghentikan ucapan Alexa. "Sudah berulang kali aku katakan, jangan panggil aku dengan sebutan itu." tegas Kenzo "Aku ingin bertanys dengan serius, apa kau yang telah menculik Alana?" tanya Kenzo kemudian yang membuat Alexa mendelik.
"Jadi kau menuduhku?" tunjuk Alexa.pada dirinya sendiri dengan raut wajah sendu.
Kenzo mengusap kasar rambutnya sebagai luapan emosinya. "Hm, kenapa aku bisa lupa. Mana ada maling yang ngaku!" gumamnya. Lalu dia berjalan mendekati ayah mertuanya. "Papa mertua, aku berjanji akan menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi padamu", ucap Kenzo walau sang ayah mertua belum sadarkan diri.
Roni datang mendekati Kenzo serta membisikkan sesuatu di telinganya. Kenzo menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Lalu mereka pamit pada Ramond yang terbaring di tempat tidur, dan mengabaikan Alexa yang berharap di sapa oleh Kenzo.
"Kenzo, kalian mau ke mana?" tanya Alexa dengan berteriak kencang hingga membuat Ramond terganggu.
Kesal melihat sikap Alexa, Kenzo menghunuskan tatapan tajamnya. "Apa kau tidak bisa melihat situasi?"
"Maaf, tadi aku spontan berteriak karena kalian telah mengabaikanku", sahutnya lirih.
"Roni, segera panggilkan dokter!" titah Kenzo tanpa menoleh.
Tak berselang lama Roni datang bersama dokter.
"Apa yang telah terjadi?" tanya sang dokter seraya melihat monitor ICU. "Apa tadi kalian membuat kebisingan?"
Kenzo dan Roni menatap ke arah Alexa, hingga membuatnya merasa tersudut.
"Em, tadi saya sempat berteriak dok", ucap Alexa.
"Tadi pasien mengalami panic attack, karena suara teriakan itu. Jadi tolong, biarkan pasien beristirahat dulu, agar pasien cepat pulih", ujar sang dokter.
"Oke, dok", jawab Kenzo, Roni dan Alexa hampir bersamaan.
Sesuai arahan sang dokter, merekapun pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Ramond seorang diri.
"Kau tetap tinggal di sini, tapi berjaga dari luar!" kata Kenzo pada Alexa, namun Alexa menolak.
"Aku ikut dengan kalian", sahutnya.
"Kami mau pergi ke kantor polisi, apa kau yakin akan ikut dengan kami?" tanya Kenzo yang membuat Alexa sedikit gugup.
"Hm, gak jadi deh. Kalian saja yang pergi. Biar nanti aku menunggu di kantin saja, barangkali sebentar lagi papa akan sadar", dalihnya.
Kenzo dsn Roni gegas meninggalkan Alexa dengan tersenyum.
__ADS_1