Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Kenzo Cemburu


__ADS_3

Pria tampan itu tersenyum menatap wajah Alana yang menurutnya sangat menggemaskan. Sayang sekali dia sudah jadi istri orang, mana orang itu sahabatku sendiri pula. Ucapnya miris di dalam batin.


Tidak berselang lama satpam kampus datang menghampiri mereka.


"Mana pencurinya, Pak Dave?"


Dave menunjuk menggunakan ekor matanya. "Itu", tunjuknya pada pria yang tertelungkup di tanah. Hampir saja mereka melupakan pria yang telah membekap Alana. "Serahkan dia pada pihak yang berwajib!" titahnya.


"Baik, Pak", sahut kedua pak satpam bersamaan setelah mereka mengikat tangan pria yang baru saja sadar dari pingsannya. "Kami pamit, Pak."


"Oke. Jangan biarkan dia lepas!"


"Siap, Pak", sahut pak satpam. "Ayo, jalan!" bentak pak satpam kemudian pada pria bertubuh tegap dengan gambar bunga rose dilengannya.


"Penjahatnya sudah di bawa, setidaknya kau bisa sedikit tenang."


Alana manggut-manggut. "Tapi aku khawatir dia datang tidak sendirian, bisa jadi temannya masih bersembunyi di sekitar sini", tebaknya. Netranya melirik pada punca kain celana seseorang yang sedang bersembunyi di balik pohon.


Shhtt... Alana meletakkan jari telunjuk di depan bibinya. Lalu dia melangkah perlahan yang diikuti oleh Dave.


Pria yang sedang bersembunyi itu menyadari kalau keberadaannya diketahui oleh Alana, dia kabur sebelum Alana menangkap basah dirinya.


"Eh, jangan kabur!" teriak Alana berdecak kesal. Sementara Dave tetep santai, dia yakin kalau pria itu pengawal suruhan Kenzo.


"Kenapa Pak Dave diam saja?" kesalnya.


"Ada hal yang lebih penting dari itu!"


"Apa?" tanya Alana dengan nada tidak ramah.


"Kau harus janji dulu tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun!" tegas pria itu.


Alana menatap curiga Dave, namun pikirannya teralihkan pada sesuatu. Eh, tunggu dulu. Sejak kapan dia punya lesung pipi? Kenapa aku tidak melihatnya saat di pesta? Tanya Alana di dalam batinnya. Sejak dulu Alana sangat ingin memiliki lesung pipi, karena menurutnya sangat manis saat tersenyum.


"Kenapa kau diam?" Pria itu melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Alana.


"Oke aku janji tak akan memberitahukannya pada siapapun", sahut Alana.


"Baik..." kata pria itu seraya mengisi udara dalam pernafasannya. "Sebenarnya aku kemari untuk mengambil buah persik. Buahnya enak, makanya aku ketagihan mau ambil lagi."

__ADS_1


Alana terperangah mendengar ucapan pria yang dia kenal sebagai sahabat masa kecil suaminya itu. "Hanya itu doang?" tanya Alana, karena tidak seperti dalam bayangan Alana.


Dave menganggukkan kepalanya. "Hem..."


"Pufft.." Alana berusaha untuk menahan tawanya. "Apa Pak Dave tidak bisa membelinya sendiri di supermarket?"


"Buah yang di petik sendiri lebih segar dan enak rasanya."


"Tapi -- " Tiba-tiba ponsel Alana berdering, dia pun menggantung ucapannya. "Habislah aku kali ini", katanya saat melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya.


"Kenapa?" tanya Dave bingung.


"Tolong bantu saya, kali ini saja Pak", pohon Alana dengan serius. "Nanti saya ceritakan masalahnya sambil jalan." Alana mengatupkan tangannya memohon pada dosen tampan itu.


"Oke", sahut Dave setelah hembusan nafas panjang. Langkah kakinya berat, karena dia belum mendapatkan buah incarannya. Raut wajah kesal Dave dapat dimaklumi oleh Alana.


"Nanti saya bawakan Pak Dave buah persik yang banyak"', kata Alana saat baru saja menutup sambungan telepon.


"Tidak perlu!"


"Apa Pak Dave yakin menolaknya? Buahnya akan saya petik dari pohonnya sendiri, lo."


"Emangnya kayak Pak Dave!" seru Alana yang menbuat pria berusia 30 tahun itu tersinggung.


"Apa kamu lupa saya ini seorang dosen?"


"Justru itu, Pak. Harusnya Bapak memberi contoh yang baik", sahut Alana membalikkan keadaan.


Dave tidak ingin citranya tercoreng hanya karena perkara buah. Akhirnya dia menuruti keinginan Alana. Aku khawatir akan ada mahasiswa lain yang melihatku menganbil buah di sini, setelah ini aku tidak akan melakukannya lagi. Ucap Dave di dalam batinnya. Sesaat kemudian dia tersenyum kala menatap wajah cantik Alana yang sedang menjelaskan tujuan dirinya ikut bersama dengan Alana.


Tanpa terasa mereka sudah tiba di ruang Dekan. Alana dan Dave melangkah masuk bersama. Dua orang di dalam ruangan itu menatap heran Alana dan Dave yang datang bersamaan.


"Kenapa kalian bisa bersama?" tanya Kenzo dengan nada tidak senang. Wajahnya memerah seraya menatap tajam ke arah Dave.


"Aku bisa jelasin", sahut Dave dengan sedikit gugup.


"Apa semua dosen prilakunya seperti dia, Pak?" Pertanyaan mendominasi Kenzo membuat Pak Dekan merasa kesulitan, apakah harus memihak pada anak pemilik kampus atau pengusaha terkenal itu.


"Maaf, Pak Kenzo. Saya tidak bermaksud untuk membela dosen kampus ini. Tapi ada baiknya dengarkan penjelasan Pak Dave terlebih dahulu."

__ADS_1


Dave menjentikkan jarinya. "Pak Dekan benar", timpalnya.


Alana berdehem seraya menghampiri Kenzo. "Apa saya boleh angkat bicara?" tanya Alana meminta izin. Dia tidak ingin Dave dipersulit atas tindakan yang tidak dia lakukan sama sekali.


Kenzo terpaksa mengangguk. Dia merasa tidak senang Alana membela Dave. "Boleh", sahutnya.


Alana mulai menceritakan apa yang telah terjadi pada dirinya. Pak Dekan dan Kenzo terperangah mendengar cerita Alana. Namun saat Alana sampai pada akhir cerita, Alana tersenyum menatap Dave. "Untung saja ada Pak Dave di sana. Kalau tidak, saya tidak tahu apa yang akan terjadi."


Pak Dekan merasa bangga pada tindakan Dave, namun tidak dengan Kenzo. Kecemburuan Kenzo membuatnya curiga dengan keberadaan Dave yang kebetulan ada di sana.


"Kenapa Pak Dave bisa kebetulan ada di sana?"


Dave dan Alana saling menatap. Kenzo semakin cemburu, karena Alana tidak pernah menatap dirinya seperti menatap Dave.


"Aku ingin memotong jalan, sama seperti Alana", jawab Dave.


Pak Dekan merasakan hawa diruangan itu seakan bertambah panas, padahal seingatnya AC dalam ruangan itu baru saja di tambah freon.


"Pak Dekan, jika kampus ini kekurangan satpam untuk menjaga keamanan di sekitar kampus, saya bisa membayar seorang satpam!" tawar Kenzo, namun bernada paksaan.


"Terimakasih atas kebaikan Pak Kenzo. Untuk masalah keamanan di sini sudah cukup satpam, Pak. Namun cara kerja mereka akan dibaharui oleh pihak kampus."


"Oke, terimakasih atas pengertian Bapak. Apakah saya boleh membawa pulang istri saya?"


Pak Dekan terdiam sesaat. Awalnya dia ingin memarahi Alana karena keterlambatannya, tapi kejadian yang menimpa Alana membuatnya melunak. "Em, tunggu sebentar Pak." Lalu dia mengalihkan pandangannya pada Alana. "Berikan berkasnya!"


Tangan Alana terjulur menyerahkan map hijau yang sedari tadi dia bawa. "Ini Pak."


"Oke, kamu sudah boleh pulang!" katanya saat map sudah berada ditangannya.


"Terimakasih, Pak", sahut Alana.


"Kami permisi!" suara bariton Kenzo menimpali ucapan Alana.


"Oke, silakan Pak."


Spontan Kenzo menggenggam tangan Alana. Dia pun tersenyum tipis kala Alana tidak melepaskan genggaman tangannya.


Dave tetap membisu menatap kepergian Kenzo dan Alana. Dia sadar Alana sudah memiliki suami, jadi dia tidak akan melakukan perbuatan yang melanggar prinsip hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2