Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Ada yang ingin mencelakai Alana


__ADS_3

Pria beruban, namun masih terlihat tegap itu menatap sinis ke arah Steve. "Apa kau tidak mengerti dengan ucapanku terakhir kali?"


Steve menaikkan alisnya seolah menantang pria dihadapannya. "Tuan terlalu sombong! Apa Tuan tidak takut jika Tuan Kenzo akan mengetahui semua perbuatan Tuan?" tanya Steve dengan penuh penekanan.


"Apa maksudmu?" Pria itu membalas dengan menatap tajam Steve, hingga kerah baju penuh daki milik Steve terisi penuh dalam genggaman tangannya. Sementara tangan kirinya mengepal dan mendarat sempurna di wajah keriput Steve.


Steve tersenyum meledek, seraya mengusap noda merah di sudut bibirnya. "Cih, kau pikir dengan melakukan ini, aku akan takut?"


"Apa yang kau inginkan?"


Steve menyeringai. Ternyata ucapan Sally benar. Pria ini takut pada Kenzo. Aku beruntung punya kekasih bijak seperti dia. Ucap Steve di dalam batinnya. "Em, bagaimana kalau kita duduk bersama untuk membicarakan hal ini?" kata Steve dengan percaya diri. Pria beruban itu terpaksa menyetujuinya. Dia ingin melihat celah saat Steve lengah.


Setelah satu jam lamanya mereka berbincang, akhirnya mereka mencapai kesepakatan. Lihat saja apa kau bisa tertawa setelah malam ini? Ucap pria itu di dalam batinnya. Lalu mereka berpisah satu sama lain.


...----...


Malam panjang pun berlalu, berganti pagi yang begitu cerah. Sinarnya memberi kehangatan dan membakar semangat para pengejar mimpi.


Alana, wanita dengan segudang impian dalam hidupnya kini telah mempersiapkan diri sebagai awal dalam mengejar mimpinya. "Akhirnya selesai juga", katanya seraya meregangkan pergelengan tangannya.


Kenzo yang baru saja mengenakan pakaian kerjanya, menatap sang istri yang terlihat sangat cantik pagi ini. "Pagi, honey", suara bariton Kenzo menyapa membuat Alana terjingkat.


"Pagi",.jawab Alana dengan penuh semangat, namun tidak membuat Kenzo senang.


Kenzo berjalan menghampiri Alana yang sedang duduk di sofa seraya membereskan berkas yang berserakan di atas meja.


"Apa my honey punya waktu sebentar?" tanya Kenzo dengan sopan.


Alana merasa gaguk mendengar ucapan Kenzo. "Em, silakan Tuan."


Kenzo menghembuskan nafas ke udara. Hatinya tidak senang kala mendengar Alana menyebutnya dengan panggilan Tuan. "Maafkan aku, honey. Saat kita berada di Bali tindakanku seolah aku lebih peduli pada Alexa." Kenzo berjalan ke depan lalu duduk tepat di samping Alana. "Seharusnya aku memberitahumu di awal, kalau semuanya itu aku lakukan hanya berpura-pura."

__ADS_1


Alana mendelik, dia tak menyangka hidup Kenzo penuh dengan kepura-puraan. "Untuk apa Tuan melakukan itu?"


"Awalnya aku ingin menguji cinta Alexa padaku. Apakah dia tulus atau punya niat lain, walaupun seharusnya aku tidak perlu melakukan itu." Kenzo kembali menghembuskan nafas ke udata. "Heh, b*dohnya aku masih mengharapkannya", rutuk Kenzo.


"Owh", balas Alana singkat tanpa ekspresi. Dia tidak pernah tertarik jika harus membahas adik tirinya itu.


"Aku tahu pernikahan kita dipaksakan. Kau di paksa menuruti keinginan Papa dan Ibu tirimu. Jadi pernyataan cintaku kemaren malam pasti sangat mengagetkanmu. Tapi aku benar-benar mencintaimu. Entah sejak kapan, aku pun tidak tahu", lanjut Kenzo seraya menatap wajah teduh Alana. Dia menunggu reaksi wanita yang sudah menjadi istrinya selama tiga bulan itu.


Hening.


Hening.


"Apa ada lagi yang mau Tuan bicarakan? Karena saya mau berangkat ke kampus", kata Alana dengan sopan seraya bangkit dari tempat duduknya, netranya bolak balik melihat jam dipergelangan tangannya.


"Satu lagi", kata Kenzo yang membuat Alana kembali duduk di sofa. "Aku ingin memperjelas hubungan kita saat ini", lanjutnya. "Sebelumnya aku mengatakan, bahwa hubungan kita kembali seperti semula. Itu artinya hubungan suami istri tanpa perjanjian kontrak nikah."


Alana termangu mendengar ucapan Kenzo. "Em, saya sudah terlambat ke kampus Tuan", katanya dengan gugup.


"Ti- tidak perlu. Saya bisa sendiri." Alana gegas meninggalkan Kenzo. "Maaf Tuan saya harus buru-buru", katanya dengan sedikit berteriak saat berdiri di ambang pintu.


"Apakah dia masih marah soal Alexa?" ucap Kenzo setelah bayangan Alana pun tak terlihat lagi olehnya. Namun tiba-tiba dia teringat akan bahaya yang sedang mengintip Alana. Kenzo gegas menghubungi para pengawalnya untuk mengikuti Alana serta menjaganya tanpa terlihat.


...----...


Di kampus Bina University.


Alana baru saja mendaratkan kakinya di trotoar kampus setelah pak supir mengantarkannya. "Terimakasih, Pak Heri", kata Alana. Lalu dia mengayunkan langkahnya setelah mendapat balasan dari sang supir.


Saat berjalan beberapa langkah, batin Alana merasakan seseorang sedang mengikutinya. Dia pun menoleh ke belakang untuk memastikan. Kenapa IQku jadi menurun ya? Di sini kan kampus, pastilah banyak mahasiswa yang berjalan di belakangku. Rutuknya di dalam batin. Lalu Alana melanjutkan langkahnya tanpa curiga.


"Aku sudah terlambat", gumamnya saat melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Kemudian dia memutuskan untuk memotong jalan dengan melewati kebun milik mahasiswa jurusan pertanian.

__ADS_1


Dalam sekejap sebuah tangan kekar entah siapa pemiliknya membekap mulut Alana. Dia berontak, tangannya mencoba menggapai orang yang ada dibelakangnya itu. "Umm..." suara Alana tertahan, hingga tak sanggup berteriak lantang untuk meminta tolong. Kekuatan tangan orang itu berlipat kali ganda melebihi kekuatan Alana.


Pikiran Alana kacau saat orang itu terus menarik dirinya dengan paksa. Air matanya pun jatuh dengan bebas, kala membayangkan hal buruk yang bisa saja menimpa dirinya setelah ini. Siapapun itu, tolong aku. Ucap Alana di dalam batin. Dia berharap ada seseorang yang kebetulan melewati kebun itu, walaupun itu mustahil.


Bugh.


Tubuh orang yang telah membekap Alana jatuh ke tanah. Alana menoleh dengan tubuh gemetar.


"Kau!" tunjuk Alana pada pria dihadapannya.


Tidak berselang lama para pengawal berpakaian kasual datang. Demi penyamaran, mereka harus mengganti pakaian ala mahasiswa.


"Nyonya tidak kenapa-napa?" tanya salah seorang pengawal.


"Siapa kalian?" tanya Alana bingung.


Pengawal itu pun terdiam. Jika membongkar identitas, maka Kenzo akan marah pada mereka. "Owh, maaf saya mengira tadi anda Nyonya kami, ternyata hanya mirip", ucapnya berbohong. "Kami permisi dulu, Nyonya." Para pengawal buru-buru pergi sebelum Alana menanyakan hal lainnya, namun mereka masih tetap waspada dengan bersembunyi tak jauh dari posisi Alana.


Alana mengernyitkan keningnya menatap para pria berperawakan hampir sama itu pergi begitu saja, hingga menyisakan bayangannya.


"Kenapa lewat sini?" Pria yang telah menolong Alana buka suara. Sontak Alana mengalihkan perhatiannya.


"Saya sudah terlambat ke ruang Dekan. Jalan ini jalan pintas, makanya lewat sini."


"Tempat ini jarang dilalui mahasiswa lain, bukan karena angker, tapi karena terlalu sepi."


Alana manggut-manggut. "Iya, walaupun sepi seharusnya tidak ada pencuri atau penjahat sejenisnya di tempat ini."


"Itu tidak menjadi jaminan. Andai saja tadi aku tidak melewati tempat ini, aku tidak tahu apa yang akan pria tadi lakukan padamu."


"Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih pada Bapak." kata Alana dengan tulus. "Lalu apa alasan Bapak melewati tempat ini?"

__ADS_1


__ADS_2