Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Kedatangan Ibu Tiri Alana


__ADS_3

Di dalam ruang kerja Kenzo, Alana baru saja mengakhiri siaran livenya. "Semoga setelah ini tidak ada lagi isue negatif tentang perusahaan suamiku."


Baru saja Alana menyelesaikan ucapannya ponsel miliknya tiba-tiba berdering. "Alexa", ucapnya kala membaca nama di layar ponselnya. Namun Alana mengabaikan panggilan telepon dari saudara tirinya itu, hingga ponselnya berhenti berdering, namun beberapa saat kemudian ponsel Alana kembali berdering, kali ini dia mengangkatnya.


"Halo, tumben adikku menelpon", ucap Alana saat menggeser tombol hijau diponselnya.


"Apa Kakak sudah merasa hebat, ya?"


"Tidak...", sahut Alana dengan lembut. "Kenapa adikku berkata seperti itu?" tanya Alana.


"Cih, jangan pura-pura lagi! Apa maksud siaran live Kakak barusan?"


"Aku hanya ingin menyelamatkan perusahaan suamiku dari fitnah."


"Kakak bohong! Kakak pasti ingin menunjukkan pada Kenzo kalau foto itu adalah aku, supaya dia membenciku. Itu kan niat Kakak?"


"Untuk apa aku melakukan itu, karena tanpa aku melakukan itupun suamiku tidak akan pernah lagi menyukaimu!" tegas Alana.


"Hapus siaran live Kakak atau akan adukan ke Papa!"


"Silakan adik tiriku tercinta. Aku malah senang kau melakukannya. Aku mau melihat reaksi Papa saat mengetahui perbuatan putri yang sangat dia sayangi ini!"


"Kau pikir aku tidak akan melakukannya. Lihat saja sebentar lagi Papa akan menelponmu anak pembawa sial!"


"Jaga -- "


Tut. Tut.


Alexa memutus sambungan telepon sebelum Alana menyelesaikan ucapannya.


"Semoga Papa menyadari bahwa foto itu bukan aku", ucap Alana bermonolog. Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian Alana. "Masuk", ucapnya.


"Permisi Bu. Saya membawa kiriman Pak Kenzo", kata Shinta seraya berjalan mendekati Alana dan menyerahkan bucket bunga padanya.


Alana menerimanya dengan tersenyum manis. "Terimakasih."


"Sama-sama, Bu. Kalau begitu saya pamit." Shinta melangkah ke luar.


Sementara Alana masih tersenyum memandang bucket bunga ditangannya. Diraihnya sebuah kartu ucapan yang terselip di antara rangkaian bunga. "I love you", ucap Alana kala membaca isi kartu ucapan. "I love you too, honey", jawab Alana dengan tersipu malu.


Bunyi dering telepon Alana membuat dirinya tersentak kaget. "My honey", ucapnya saat membaca nama kontak di layar ponselnya.

__ADS_1


"Ha- halo, honey", ucap Alana dengan gugup.


"Apa my honey sudah menerima kiriman bunga?"


"Sudah honey. Terimakasih buat bunganya, aku suka."


"Aku senang mendengarnya. Maaf, aku tidak berpamitan langsung saat kami pergi ke Bali hari ini", ucap Kenzo dengan nada rasa bersalah.


"Tidak apa-apa, honey. Aku ngerti kok, ini urusan pekerjaan."


"Aku beruntung menjadikanmu istriku, selain cantik kau juga bijaksana. Dan terimakasih honey telah membantuku menjelaskan yang sebenarnya tentang foto itu."


"Jangan terlalu memujiku, aku takut nantinya jadi besar kepala. Intinya aku melakukan semua ini hanya untuk membantu suamiku."


"Sekali lagi terimakasih, honey. Tunggu aku pulang.. Aku janji setelah ini selesai, aku akan memberikan sepenuhnya cinta yang selama ini belum pernah aku berikan padamu."


Tiba-tiba hening beberapa saat.


"Honey, apa kau masih di sana?" tanya Kenzo kala Alana tidak membalas ucapannya.


"I- iya honey. Aku masih mendengarmu."


"Honey, nanti aku hubungi lagi." Kenzo buru-buru mengakhiri sambungan telepon, sebelum Alana menyahut ucapan Kenzo.


Tok. Tok.


"Masuk..." ucap Alana kala seseorang pintu.


"Permisi Bu. Di lobi ada saudara tiri Ibu. Katanya ingin bertemu dengan Ibu."


"Alexa?"


"Iya, Bu. Apa dia diizinkan menemui Ibu?"


"Hm, suruh saja dia naik."


"Baik, Bu. Kalau begitu saya permisi", pamit Shinta dengan sopan.


Tidak berselang lama Alexa datang, tapi tidak sendirian. Dia membawa Sally ikut bersama dengannya.


"Apa kalian ingin menyerangku?"

__ADS_1


"Alana, sepertinya kau sudah menganggap dirimu hebat setelah menikah dengan Kenzo!"


"Apa Bibi tidak punya perkataan lain? Misalnya maafkan Bibi, karena telah membuat Mamamu mengalami kecelakaan dan membuatmu menjadi kehilangan Mama", terang Alana namun bernada ejekan.


"Jaga sikapmu! Bagaimanapun aku adalah Ibumu juga, jadi kau harus hormat padaku!"


"Cih, apa ada seorang Ibu yang memperlakukan anaknya layaknya pembantu?"


Sally mendelik kala mendengar perkataan Alana. Dia tahu persis apa yang sudah dia lakukan pada putri suaminya itu. "Kau salah, Nak", sahut Sally yang sudah mengubah nada bicaranya, hingga membuat Alana bergidik ngeri. "Selama ini, aku menganggapmu sama seperti Alexa, aku harap kau pun sama. Jadi, tolong kau hapus video siaran langsung itu", pinta Sally dengan lembut.


Namun bujuk rayu Sally seolah angin lalu bagi Alana. Dia tahu persis bagaimana sikap sang ibu tirinya sebenarnya "Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan, maka silakan cari pintu keluarnya."


"Kau terlalu sombong!" ketus Sally yang sudah mengubah nada bicaranya. "Kau harus tahu satu hal. Aku telah merebut Papamu dari Mamamu, apalagi Kenzo. Alexa akan merebutnya kembali darimu!"


Mendengar ucapan sang Ibu, Alexa menyeringai. Dia pantas menjadi Mamaku. Ucapnya di dalam batin. "Mama benar. Aku akan membuat Kakakku ini menangis, karena terlalu sombong!"


Sikap santai dan acuh Alana membuat Sally semakin naik pitam. "Dasar anak pembawa sial!" sergah Sally. "Apa kau pikir ucapan kami ini main-main! Lihat saja tak lama lagi kau bahkan tidak bisa untuk mengangkat kepalamu menatap kami."


"Jangan buang energi Mama hanya untuk orang seperti dia. Ayo, kita pergi saja dari sini!" Alexa menarik paksa tangan Sally. Lalu mereka berjalan ke luar dari ruangan itu.


"Ah, akhirnya!" ucap Alana bernafas lega setelah bayangan kedua wanita menyebalkan itu tidak terlihat lagi.


...---...


Sementara.di Bali, Kenzo menaruh curiga pada karyawannya yang telah bekerja sama dengan Billy.


"Mengaku saja atau hukuman yang kalian dapat akan semakin berat!" Suara bariton Kenzo tidak mampu membuat pelaku sebenarnya takut.


Roni melangkah mendekati Kenzo, lalu berbisik di telinganya. Kenzo pun menganggukkan kepala kala mendengarkannya. "Oke", sahut Kenzo.


Kenzo mengayunkan langkahnya mendekati karyawannya satu per satu. Dia melihat ekspresi karyawan yang sedang didekatinya, namun saat langkahnya berhenti pada salah seorang pria yang berdiri dengan kaki bergetar, dia langsung menatapnya tajam.


"Ampun, Tuan. Saya hanya sedang butuh uang", ucapnya terburu-buru.


"Kenapa?"


"A- anak saya sakit, Tuan. Dia butuh biaya yang sangat besar. Kalau Tuan tidak percaya --" ucapan pria itu terhenti saat Kenzo mengangkat tangan kanannya.


"Roni, segera urus dia!" titah Kenzo seraya berjalan menuju seseorang yang sedari tadi dia curigai. "Namamu siapa dan dari bagian apa?"


Tanpa menjawab Kenzo, pria itu langsung kabur.

__ADS_1


"Hei, berhenti!"


__ADS_2