
Alexa berusaha tenang saat Kenzo menanyakan tentang minuman.
"Jika memang sayangku tahu aku menaruh sesuatu pada minuman itu, kenapa sayangku meminumnya?" tanya Alexa balik.
"Aku hanya bertanya barangkali kau yang telah melakukannya", sahut Kenzo. "Tapi jika bukan kau, jadi siapa?" Kenzo seolah sedang berfikir, lalu dia menatap serius ke arah Alexa "Aku tidak melakukan hal-hal yang aneh kan?"
Alexa langsung menangis, dengan ekspresi mengiba. "Sayangku telah melakukan hal itu denganku, apa itu dikatakan hal yang aneh?" sahutnya dengan terisak.
"Maksudmu kita sudah ..."
Alexa menganggukkan kepalamya, seakan paham akan maksud ucapan Kenzo. "Em..." jawabnya lirih.
"Tapi aku tidak sadarkan diri, bagaimana bisa kita melakukannya?"
Alexa mulai gugup. Dia menatap Kenzo seraya memikirkan alasan yang tepat. "Sayang, jika aku katakan saat itu kau sangat agresif, mungkin kau juga tidak akan percaya. Seandainya aku punya bukti rekaman, mungkin kau akan percaya", imbuhnya.
"Oke, aku percaya padamu. Nanti kita bahas lagi masalah ini, saat ini aku ada pertemuan dengan kolega bisnis. Kau tinggallah di sini, jika butuh sesuatu minta saja pada karyawan hotel atas namaku."
"Terimakasih sayang, kau masih percaya padaku. Itu artinya kau masih mencintaiku. Kau pergilah menyibukkan diri, aku bisa mengurus diriku sendiri di sini", sahut Alexa dengan tersenyum bahagia.
Kenzo gegas beranjak dari posisinya berdiri. Dia berjalan menuju pintu keluar.
Roni yang sudah menunggunya di luar langsung menuntun Tuannya itu, karena Kenzo belum mau menunjukkan pada orang lain tentang dirinya yang tidak buta sama sekali.
"Kita kemana dulu, Tuan?" Roni membuka suara saat mereka berjalan menuju lift.
Kenzo tidak menjawab pertanyaan Roni. Dia tahu Alexa belum menutup rapat pintu kamarnya.
Ting.
Pintu lift terbuka, Roni menuntun Kenzo masuk ke dalam lift.
"Kita ke kamar Alana", kata Kenzo saat pintu lift tertutup rapat.
"Oke, Tuan."
...---...
Kenzo dan Roni sudah berada di depan pintu kamar Alana. Tangan Roni langsung memencet bel.
__ADS_1
Tidak berselang lama Alana sudah membuka pintu kamarnya setelah dia melihat dari lubang pintu terlebih dulu.
"Boleh kami masuk?" tanya Kenzo.
"Silakan, sssuuamiku." Lidah Alana sangat berat saat mengatakannya. Dia tidak begitu yakin Kenzo masih ingin dipanggil dengan sebutan itu.
"Terimakasih", jawab Kenzo yang membuat Alana sedih.
Kenapa dia tidak memanggilku dengan sebutan istri? Ucap Alana di dalam batinnya.
"Aku datang hanya ingin membicarakan tentang sahabatmu itu", kata Kenzo seraya berjalan dan duduk di sofa. "Katakan kau ingin aku berbuat seperti apa untuk sahabatmu itu?"
Alana berjalan mendekati Kenzo. "Aku memohon agar Tuan membantunya, agar segera bebas dari tahanan."
Kenzo menatap Alana beberapa saat. Tatapan itu seakan menghujam tajam. Dia menatapku seolah aku ini musuhnya. Apa ucapanku barusan ada yang salah? Alana menundukkan kepala seraya menanti Kenzo menjawabnya.
"Oke, aku akan membantumu", sahut Kenzo. Lalu dia beranjak dari tempat duduknya. "Roni, segera hubungi pihak yang berwajib!" titah Kenzo.
"Baik, Tuan", sahut Roni
Roni langsung menghubungi pihak yang berwajib saat mereka masih berada di dalam kamar Alana. Setelah telepon terhubung, Kenzo pun berbicara langsung pada petugas itu Dia mengatakan akan mencabut tuntutan pada Diva, agar Diva segera bebas dan meminta Albert tetap berada dalam tahanan.
Alana menggelengkan kepalanya. "Tidak Tuan. Terimakasih atas bantuannya", sahut Alana.
Kenzo hanya membalas dengan berdehem. Lalu dia meminta Roni menuntunnya berjalan keluar, setelah berpamitan pada Alana.
Sepeninggal Kenzo, Alana duduk di sofa seraya memikirkan perubahan sikap Kenzo. "Apakah dia akan segera menceraikanku?" Alana bermonolog dengan raut wajah sedih. Kemudian dia bangkit dari atas tempat duduk dan berjalan menuju tempat tidur, lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di sana. "Heh, biarkan saja. Kalau harus terjadi, ya terjadilah!"
Alana menghela nafas panjang kala memikirkan ucapan Alexa. "Kenzo akan segera menceraikan aku dan menikah dengan Alexa." Terdengar hembusan nafas berat Alana, saat dia duduk di tempat tidur dengan menyandarkan tubuhnya. "Kenapa hatiku sakit ya? Padahal hubungan kami hanya sebatas nikah kontrak."
Tiba-tiba kamar sunyi Alana dipenuhi dengan suara dering ponselnya. Dengan malas Alana menunjulurkan tangannya meraih ponsel di atas nakas.
"Halo, Pak Roni", sahut Alana.
"Halo, Nyonya. Untuk masalah sahabatnya sudah selesai, ya", ucap Roni yang disambut girang oleh Alana.
"Syukurlah sudah selesai. Setidaknya dia dapat menemui.Papanya," ucap Alana dengan rasa bahagia.
"Iya, Nyonya. Kemungkinan dia akan keluar hari ini", lanjutnya dari seberang telepon.
__ADS_1
"Sampaikan rasa terimakasihku pada Tuan Kenzo. Aku berhutang budi padanya", balas Alana .
"Baik, Nyonya akan saya sampaikan. Kalau begitu saya tutup teleponnya."
"Oke, Pak", sahut Alana. Setelah itu Roni memutus sambungan telepon.
...---...
Waktu berlalu begitu cepat, bahkan Diva sudah memberitahu Alana bahwa dia sudah bebas. Diva pun langsung memesan tiket untuk kembali ke rumah orang tuanya.
Alana menghela nafas lega saat mendengar kabar dari Diva. Dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.
Baru saja Alana keluar dari kamar mandi, bel kamarnya berbunyi. "Siapa yang datang?" tanya Alana berguman sembari berjalan menuju pintu. Dengan berjinjit dia melihat orang yang sudah memencet bel kamarnya.
"Siapa pria itu? Aku tidak mengenalnya!" Alana bergumam dengan rasa was-was. Kejadian yang sebelumnya saja masih segar dalam ingatannya, bagaimana mungkin dia tidak waspada
Alana membiarkan orang itu memencet bel pintu kamarnya berkali-kali, sampai orang itu merasa bosan. Namun tiba-tiba suara bel tidak terdengar lagi. Alana pun kembali berjinjit. "Apakah dia sudah pergi?" Pandangan matanya yang terbatas menyulitkan Alana untuk melihat barangkali pria itu masih bersembunyi.
Sudah setengah jam lamanya Alana menunggu, tapi bel kamarnya tidak berbunyi lagi.
"Akhirnya dia benar-benar pergi", ucap Alana dengan sedikit lega.
Ting. Tong.
Alana berjingkat kala mendengar bel kamarnya kembali berbunyi. Dengan rasa takut dia pun mengintip lagi. "Ternyata Pak Roni", gumamnya. Lalu dia membuka handle pintu.
"Apakah Nyonya baik-baik saja?" tanya Roni yang panik saat anak buah yang dia tempatkan persis di depan kamar Alana melaporkan kejadian pria asing yang tiada henti memencet bel kamar Alana.
"Saya baik-baik saja, Pak. Emangnya ada masalah apa?"
"Em, bukan apa-apa. Saya hanya kebetulan lewat", bohong Roni. Dia tidak diizinkan oleh Kenzo untuk memberitahu Alana tentang pengawal yang ditempatkan khusus disekitar Alana.
"Owh, kalau begitu saya tidak ingin mengganggu kesibukan Pak Roni", ucap Alana dengan lembut.
"Maaf saya sudah mengganggu, Nyonya. Kalau begitu saya pamit undur diri dulu."
"Oke, Pak", sahut Alana singkat.
Lalu Roni berjalan menjauhi kamar Alana.
__ADS_1