Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Penawaran Alexa


__ADS_3

Pagi ini Kenzo mengadakan konferensi pers yang ditayangkan di stasiun TV swasta. Tayangan itu pun di tonton oleh Alexa. Netranya terbeliak kala mendengar pernyataan Kenzo. "Alana tidak boleh mengetahui hal ini", ucapbya dengan gelisah. Lalu dia gegas berlari menuruni anak tangga mencari keberadaan Alana. "Kak Alana", panggil Alexa dengan berteriak, hingga memekakkan telinga Tuty.


Dia tidak pernah berubah, selalu saja berteriak gak jelas! Ucap Tuty di dalam batin.


"Apa kau melihat kak Alana?" tanyanya pada Tuty.


"Em, baru saja dia naik ke lantai atas", jawab Tuty sembari membereskan meja makan.


Alexa mulai kelabakan. Dia buru-buru naik ke lantai atas. "Kak Alana!" teriaknya memanggil nama Alana.


"Ada apa?" tanya Alana saat membuka pintu kamarnya dan melihat Alexa berjalan mendekat. "Dari tadi aku mendengarmu berteriak!" kesalnya.


"Maaf, Kak", sahut Alexa dengan wajah memelas. "Aku mau mengajak kak Alana pergi ke makam ibu kakak", ucapnya kemudian dengan wajah serius.


Alana menelisik ke dalam netra Alexa, mencari tahu apakah adik tirinya itu sedang berbohong. "Tumben kau mengajakku", katanya dengan nada curiga.


"Hm, aku tahu selama ini mama sudah berbuat kesalahan pada mamamu, jadi aku secara khusus datang ke makam mamamu untuk meminta maaf mewakili mama", ucapnya dengan wajah sendu.


Mendengar ucapan Alexa, lidah Alana seakan kelu. Dia tak tahu harus mengatakan apa pada adik tirinya itu.


Sementara Alexa merasa kuatir karena Alana tak kunjung menyahutnya, Dia mulai menunjukkan raut wajah sedihnya. "Aku tahu tidak ada gunanya meminta maaf sekarang, tapi aku benar-benar ingin menunjukkan ketulusanku dan mama." Alexa menarik nafasnya dalam-dalam, menjeda ucapannya. "Aku mewakili mama, mengatakan mama menyesal telah melakukannya." Alexa menangis sembari menundukkan kepalanya.


Tatapan Alana masih saja menelisik ke dalam netra Alexa, karena hanya dalam hitungan hari Alexa telah berubah menjadi orang yang penuh penyesalan. Rasanya itu di luar nalar Alana.


Kenapa dia lama sekali menjawab? Rutuk Alexa di dalam batin.


"Hm, oke. Kita pergi sekarang", sahut Alana yang membuat Alexa bergirang di dalam batinnya.


"Terimakasih, Kak. Ayo, kita pergi."


Mereka beranjak dari posisinya masing-masing, lalu bersiap pergi kepemakaman.


...---...


Di perusahaan Thompson Group, Kenzo baru saja menyelesaikan Konferensi pers. Dia kembali ke dalam ruangannya dengan rasa was-was.

__ADS_1


"Tuan, nampaknya konferensi pers yang kita adakan berdampak besar", tutur Roni dengan penuh semangat.


Kenzo meletakkan ponselnya, kemudian memberi perhatiannya pada Roni. "Apa dampaknya?"


"Saham Tuan kembali menguat!" katanya girang.


Wajah lesu Kenzo berubah cerah. "Kau tidak sedang bermimpi?"


Roni langsung menunjukkan laptop ditangannya. "Tuan, lihat sendiri saja. Barangkali penglihatanku sedikit buram karena kurang tidur."


Dengan cepat Kenzo meraih laptop milik Roni. Sesaat kemudian netranya berbinar kala grafik di layar laptop menunjunkkan angka yang terus naik. "Bagus!" katanya dengan bersemangat. "Aku harap istriku juga menontonnya dan segera kembali ke rumah", lanjutnya dengan tersenyum.


"Saya juga berharap seperti itu Tuan", timpal Roni.


Lalu Kenzo mencoba menghubungi Alana.


Tut. Tut.


Panggilan terhubung, namun tiba-tiba di reject. "Kenapa Alana masih belum mau mengangkat telponku", ucap Kenzo seraya berfikir.


"Roni, apa aku harus pergi menjemput istriku?" tanya Kenzo seraya menatap Roni.


Kurangnya pengalaman Roni dalam hubungan rumah tangga membuatnya harus berfikir keras untuk memberi jawaban pada Kenzo. "Hm, menurut saya itu ide yang bagus Tuan", jawab Roni. Setelah beberapa saat yang lalu dalam benaknya terlintas pengalamannya bersama mantan pacar. Dia akan selalu mendatangi rumah sang mantan saat mereka bertengkar.


"Oke, sore ini kita ke rumah mertuaku", putusnya.


"Baik Tuan", jawab Roni dengan sopan. "Kalau begitu saya permisi, kembali bekerja Tuan."


"Ya, bekerjalah yang rajin, karena aku sudah menaikkan gajimu!" tukas Kenzo.


Kata-kata Kenzo bak sindiran halus bagi Roni. "Baik Tuan. Saya akan memberikan performa kerja yang lebih maksimal", jawabnya.


Kenzo menaikkan jempolnya seraya berkata. "Bagus!"


"Terimakasih, Tuan. Kalau begitu saya pamit undur diri", imbuhnya seraya berjalan menuju pintu keluar.

__ADS_1


"Oke", jawab Kenzo sembari meraih ponselnya di atas meja. Kemudian dia mencoba menghubungi Alana kembali, dan ternyata hasilnya masih sama. "Ya, sudah aku langsung ke rumahnya saja", katanya sembari meletakkan kembali ponselnya.


...---...


Di tempat pemakaman umum. Alana dan Alexa baru saja selesai ziarah. Mata sembab Alexa menunjukkan banyaknya air mata yang sudah dia tumpahkan di sana.


"Kak Alana, aku harap kakak memaafkan mama", ucap Alexa dengan nada lirih.


"Ayo, kita masuk ke mobil!" ucap Alana tanpa menjawab perkataan Alexa.


Susah sekali meluluhkan hatinya. Kalau begini terus kapan mama bebas. Rutuk Alexa di dalam batinnya.


Sebuah notif masuk ke ponsel Alexa. Hatinya senang saat membacanya. Lalu dia menatap pada Alana yang baru saja duduk disampingnya. "Kak Alana. Coba lihat ini." Alexa menyodorkan ponselnya pada Alana.


"Ada apa diponselmu?" tanyanya seraya melihat isi ponsel Alexa. "Ini artinya saham perusahaan Kenzo sudah kembali normal?" tanyanya kembali.


Alexa menganggukkan kepalanya. "Iya, kak. Jadi sekarang kak Alana percaya denganku, kan?"


"Hm, kita bahas masalah ini setelah kita sampai di rumah", jawab Alana dengan tersenyum. Dia bahagia karena saham perusahaan sang suami sudah naik kembali, namun di satu sisi dia sedih karena dia tidak rela jika harus membebaskan mamanya Alexa.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Alana tiada henti memikirkan penawaran Alexa yang telah berjanji akan mengklarifikasi foto dirinya dan Kenzo, asalkan Alana mencabut tuntutan atas mamanya Alexa. Awalnya dia setuju dengan apa yang ditawarkan Alexa, demi menyelamatkan perusahaan Kenzo. Namun setelah perusahaan Kenzo kembali normal, rasanya dia ragu untuk membebaskan Sally.


"Aku harap Kak Alana tidak ingkar janji", tukas Alexa saat mobil sudah memasuki gerbang rumah.


"Hm..." jawab Alana ragu.


Kemudian mereka sama-sama turun dari dalam mobil.


"Kak Alana", panggil Alexa dengan wajah serius.


"Iya, aku tak akan ingkar janji", jawabnya dengan kesal. Rasanya Alana telah menjadi anak durhaka, karena membiarkan pelaku yang menyebabkan ibunya tiada bebas begitu saja.


Alexa tersenyum mendengar jawaban Alana. "Kau memang sangat baik. Aku bangga punya kakak sepertimu", puji Alexa.


Mendengar pujian Alexa, hati Alana semakin gusar, karena pujian itu tidak pantas disematkan pada dirinya yang telah durhaka pada ibu sendiri. "Aku ke kamar dulu", katanya dengan buru-buru pergi menjauhi Alexa. Maafkan aku, Ma. Ucap Alana dengan hati pedih.

__ADS_1


Melihat Alana sudah masuk ke dalam kamarnya Alexa gegas menghubungi seseorang yang telah mengabarinya tentang saham perusahaan Kenzo. "Terimakasih sayang", kata Alexa dengan raut wajah bahagia.


__ADS_2