
"Tolong lepaskan tangan saya, Tuan", pinta Alana dengan lembut.
Perlahan Kenzo melepaskan genggamannya. Dia menoleh menatap Alana. "Apa kau baik-baik saja? Penjahat itu menyemtuh mulutmu kan, akan aku hajar tangan kotornya!"
Alana menatap Kenzo dengan muka cengo. Dia tidak menyangka reaksi sang suami akan seperti itu. "A- aku baik-baik saja. Tidak perlu menghajar pria itu. Serahkan saja pada pihak yang berwajib."
"Tidak bisa!" tolak Kenzo. "Aku tidak terima istriku diperlakukan seperti itu!" lanjutnya. "Ayo, kita pergi ke kantor polisi." Kenzo gegas membukakan pintu mobil untuk Alana.
Alana masuk ke dalam mobil tanpa bantahan. Dia tidak ingin Kenzo mendapat masalah nantinya. Diam-diam dia mengirimkan pesan pada asisten Kenzo.
Mobil yang dikendarai Kenzo pergi meninggalkan parkiran kampus.
...----...
Di tempat berbeda, Alexa berjalan mondar mandir memikirkan rencana gagal sang kekasih. "Dimana dia mencari orang id**t itu!" maki Alexa. Nafasnya memburu kala memikirkan keberuntungan Alana.
"Kenapa?" teriak Alexa histeris. Dia tidak terima hidup Alana seberuntung itu. "Akulah nona muda di rumah ini bukan Alana! Dialah anak pembantu bukan aku!" Alexa terus berteriak di dalam kamar yang pernah dia rebut dari Alana. Pikirannya mulai kacau kala dia membandingkan hidupnya dengan Alana.
Aaa... pekik Alexa seraya menghempas semua barang-barang yang ada disekitarnya.
Ceklek, pintu di buka seseorang yang mendengar keributan dari dalam kamar Alexa.
"Astaga!" Sally menutup mulut lebarnya kala baru saja menutup pintu kamar Alexa. "Apa yang telah terjadi? Kenapa kau melakukan ini?"
Alexa menangis histeris saat melihat sang ibu, dia semakin gencar menghancurkan apa yang dapat di jangkau oleh tangannya.
"Hentikan Alexa!" teriak Sally.
"Tidak, Ma. Aku tidak akan berhenti sebelum Alana mendapatkan balasannya!"
"Jangan jadi b*doh!" Sally menarik paksa tangan Alexa, agar putrinya itu berhenti menghancurkan barang-barang miliknya sendiri. "Apa kau pikir dengan melakukan ini semua, Alana akan merasa dirugikan?" Sally menatap Alexa yang membeku saat mendengar ucapannya. "Tidak sama sekali!"
"Jadi aku harus bagaimana, Ma?"
"Mama sudah meminta bantuan Steve, supaya dia mencelakai Alana. Tapi sampai sekarang dia tidak bisa dihubungi."
Alexa mengernyitkan keningnya menatap wajah gelisah sang Ibu. "Kalau dia saja.tidak bisa Mama hubungi, kenapa mama masih berharap dia akan membantu kita?"
"Ini tidak sesederhana yang kamu pikirkan. Mama khawatir sesuatu terjadi padanya."
Alexa memutar bola matanya jengah, lalu dia menjatuhkan bobot tubuhnya di atas ranjang king size miliknya. Masalah pribadinya saja belum kelar, sang ibu malah membicarakan masalah kekasihnya sendiri. "Mama jangan berfikiran yang aneh-aneh, mungkin saja dia sedang bersama dengan wanita lain."
"Hus, kamu jangan asal bicara! Steve cinta mati sama Mama. Dia tidak akan berpaling pada yang lain."
"Itu kan menurut Mama", gumam Alexa.
__ADS_1
"Kamu bicara apa?"
"Hm, tidak ada Ma", sahut Alexa. Untung Mama gak dengar. Ucap Alexa di dalam batin.
...----...
Sementara di sebuah jembatan yang tampak jauh dari dasar sungai, ada keramaian yang sedang menonton sebuah penemuan di bawah sana.
"Ada apa? Kenapa ramai sekali?" tanya Kenzo penasaran saat mobil yang dia kendarai melewati keramaian itu.
"Apa perlu saya bertanya pada salah seorang yang ada di sana?" Alana menawarkan diri, karena dia sama penasarannya dengan Kenzo.
"Tidak perlu! Nanti jalanan semakin macet", tolak Kenzo. Lalu dia melajukan kendaraannya, agar pengendara dibelakangnya tidak berisik.
Alana mengerucutkan bibirnya, bak anak yang merajuk karena tidak diperbolehkan bermain oleh Papanya.
"Apa my honey lapar?" tanya Kenzo seraya melirik ke arah Alana.
Alana menggelengkan kepalanya sebagai balasan.
Kenzo kecewa dengan jawaban sang istri, karena dia tahu Alana belum sarapan pagi ini. Padahal dia dengan sengaja melewati jalan yang jauh hanya untuk membawa Alana sarapan di tempat favoritnya itu.
Krukkk... Suara perut keroncong Alana membuat Kenzo menahan tawanya.
Kenzo berusaha tenang dan fokus menyetir. Dia sama sekali tidak menyahut ucapan Alana.
Alana bergerak gusar, karena baru saja perutnya kembali berbunyi. "Hm, Tuan..." panggil Alana, namun Kenzo tetap diam.
"Ha..honey..." panggil Alana dengan terpaksa.
"Ya, honey." Kenzo menoleh sekilas. Senyumnya mengembang sebagai ekspresi bahagianya.
"Aku lapar", katanya dengan jujur.
"Oke, honey. Di depan ada bubur ayam yang enak. My honey suka bubur ayam?"
Alana mengangguk. "Iya", jawabnya.
Setelah melewati jarak beberapa meter Kenzo menepikan kendaraannya. Mereka turun dari mobil dan berjalan menuju warung yang tampak sederhana tapi sangat ramai.
Alana terperangah melihat tempat itu. Aku tidak menyangka suamiku mau makan di tempat seperti ini. Ucap Alana bergumam.
"Ayo", ajak Kenzo saat melihat Alana mematung diposisinya.
Lalu Alana beranjak dari posisinya mengikuti langkah Kenzo masuk ke dalam warung. Ibu warung langsung menyapa Kenzo dengan ramah.
__ADS_1
"Datang sama siapa, Zo?" tanya Ibu warung yang tampak sangat akrab dengan Kenzo.
"Sama istri saya, bude", sahut Kenzo. Lalu dia mengajak Alana duduk di meja yang kosong.
"Wah, istri kamu cantik banget Zo", tuturnya. "Tapi kayaknya masih muda, ya?"
"Iya, bude. Dia masih kuliah."
"Owh, masih kuliah to. Ini kamu pesannya seperti biasa, kan?"
"Iya, 2 mangkuk ya, bude."
"Oķe, sebentar."
Saat Kenzo asyik berbincang dengan pemilik warung, Alana sibuk dengan ponselnya. Dia merasa bersalah, karena telah meminta Roni datang ke kantor polisi terlalu cepat, sementara mereka baru saja memesan makanan.
"Ada apa, honey?" tanya Kenzo kala melihat wajah bingung sang istri.
"Hm, bukan apa-apa." Alana tidak ingin Kenzo marah padanya, karena telah memerintah Roni tanpa izin darinya.
Alana memasukkan kembali ponselnya saat pesanan mereka datang. Maafkan aku Pak Roni, di sini kami menikmati makanan sementara Pak Roni menunggu seorang diri. Ucap Alana di dalam batin. Dia pun mempercepat tempo makannya.
"Jangan buru-buru. Tidak baik untuk lambung", imbuh Kenzo.
"Um, aku lapar sekali", sahutnya memberi alasan.
Ibu pemilik warung tersenyum menatap Alana dan Kenzo. "Kalian berdua sangat serasi, walau mungkin umur kalian terpaut jauh."
"Bude benar, usia kami terpaut 9 tahun. Tapi aku sangat sayang padanya."
"Jagalah dia baik-baik, Zo. Jangan pernah sakiti dia", katanya menasehati, hingga salah seorang pengunjung pria tersedak kala mendengar ucapan ibu pemilik warung.
"Bude, kami sudah selesai. Ini kembaliannya ambil saja", kata Kenzo saat membayar.
"Terimakasih. Tapi lain kali kalau datang kalian tidak perlu membayar, bude yang traktir", katanya saat menerima uang pemberian Kenzo.
"Oke, bude", sahut Kenzo dengan tersenyum. "Kami pergi dulu."
"Iya, hati-hati di jalan."
Kenzo dan Alana melangkah keluar dengan wajah bahagia. Lalu berjalan menuju mobil di parkir.
"Kita ke kantor polisi dulu ya", kata Kenzo saat sudah berada di dalam mobil.
Alana pun mengangguk sebagai jawaban.
__ADS_1