Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Pelakunya


__ADS_3

Tono dan Dino kelabakan, sementara pria yang hendak mendekati Alana, mencoba untuk kabur.


"Berhenti!" titah pihak yang berwajib itu.


Tidak sampai adanya kekerasan menangkap para pelaku. Mereka langsung di giring menuju keluar ruang berhabuk itu dengan tangan terikat.


Roni gegas melepaskan ikatan Kenzo, setelah itu dia membiarkan Kenzo yang melepaskan ikatan Alana.


"Kenapa kau lama sekali?" tanya Kenzo saat membantu Alana berdiri.


"Saya minta maaf Tuan. Tadi Alexa mencari Tuan. Dia sengaja membuat onar di pesta, jadi saya terpaksa membereskannya lebih dulu."


"Alexa?"


"Iya, Tuan. Alexa sangat marah karena Tuan tidak memberinya undangan."


"Cih, ternyata dia masih saja mengira aku peduli padanya", ucap Kenzo dengan raut wajah kesal. "Ayo, kita bicara di mobil saja. Aku tidak suka berlama-lama di sini", lanjutnya. Kemudian Kenzo menggandeng tangan Alana seraya berjalan ke luar dari ruangan.


"Honey, sepertinya kejadian ini ada kaitannya dengan Bibi Kokom", kata Alana saat berjalan beriringan.


"Owh, jadi hasil penyelidikan my honey mengarah pada Bi Kokom?"


Alana mengangguk. "Untuk sementara aku masih mencurigai Bi Kokom."


"Apa my honey sedang belajar ilmu detektif?"


Alana mendongak seraya tersenyum. "Aku tidak sengaja membaca buku-buku yang ada di ruang keluarga.


"Owh, tidak sengaja ya. Berarti setiap malam duduk di sana sambil membaca buku itu tidak sengaja, ya?"


Alana mendelik. "My honey tahu aku di sana?"


Kenzo tersenyum menatap wajah bingung sang istri. "Pada hari bersamaan dengan aku melihat rekaman CCTV Bibi Kokom, aku tidak sengaja melihat rekaman CCTV istriku sedang berada di ruangan itu hampir setiap malam."


"Aku ke dalam dulu, honey", kata Alana seraya masuk ke dalam mobil. Dia tidak ingin Kenzo mengekspos lebih banyak lagi apa yang telah Alana lakukan diruangan itu. Namun tiba-tiba netranya menyipit kala melihat wajah serius Kenzo dan Roni. "Mereka lagi bicara apa, sih?" Alana menarik helaian rambutnya ke belakang telinga, namun saat daun telinganya hendak menempel di kaca mobil, tiba-tiba Kenzo sudah membuka pintu.


"Aaaa..." pekik Alana kala dirinya hampir saja terjatuh.


Sontak Kenzo menahan tubuh Alana. "Maafkan aku honey", kata Kenzo. Dia merasa bersalah, karena hampir saja membuat Alana terjatuh.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, honey", jawab Alana dengan rasa canggung. Kenapa aku ceroboh sekali, untung saja Kenzo gak menyadari kalau aku sedang menguping tadi. Ucap Alana di dalam batinnya.


"Ayo, kita berangkat!" titah Kenzo pada Roni.


"Hm, Pak Herinya mana?" Alana celingak celinguk mencari keberadaan Heri.


"Dia sudah di tahan."


"Apa... di tahan?" ulang Alana.


"Iya. Dia dalang dari kejadian ini", sahut Kenzo seraya menghembuskan nafas dengan kasar.


Alana menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Tapi kenapa?"


"Nanti juga kita akan tahu", jawab Kenzo. "Saat ini my honey harusnya lebih fokus memikirkan kado spesial yang akan diberikan pada suamimu ini."


Alana mendelik, perasaannya kembali bergejolak kala Kenzo mengingatkannya. "Hm, iya honey", jawab Alana gusar.


Sementara Roni menatap Kenzo dan Alana dari spion dalam mobil dengan tersenyum. Apakah sebentar lagi akan ada Kenzo junior? Tanya Roni di dalam batinnya. Lalu dia melajukan kendaraan meninggalkan jalanan sepi menuju keramaian kota.


...---...


"Sial!" rutuk Alexa kala rencananya bersama sang kekasih kembali gagal. "Padahal hanya tinggal selangkah lagi."


Steve merangkul pinggang Alexa. "Jangan marah sayang. Mungkin kal ini mereka masih bernasib mujur, barangkali esok atau lusa mereka bernasib kurang baik, who know's", kata Steve mencoba menghibur Alexa. Lalu dia menyodorkan segelas minuman pada Alexa. "Ayo, minum ini dulu, biar sayangku rileks."


Alexa melirik ke arah Steve. "Apa kau tidak marah aku melakukan ini sayang?"


Steve mendengus kasar. "Sudah berapa kali aku katakan. Asalkan hatimu tetap padaku dan kau tidak pernah minta putus dariku, maka aku akan tetap menerimamu."


"Terimakasih sayang", ucap Alexa. Manik mata Alexa bersinar kala mendengar penuturan Steve.


Sementara Steve membalas dengan tersenyum penuh arti. Entah apa yang ada dalam benaknya saat ini, hingga dia tersenyum dengan begitu misterius.


...---...


Di halaman luas milik Kenzo, Roni baru saja memarkirkan kendaraan yang dia kemudikan.


"Ini sudah larut. Kau menginap saja", kata Kenzo pada Roni.

__ADS_1


"Baik, Tuan", sahut Roni tanpa bantahan.


Lalu mereka sama-sama turun dari dalam mobil. Kenzo kembali menggandeng mesra tangan Alana saat hendak berjalan masuk ke dalam rumah. Di sini hanya ada Pak Roni seorang, kenapa sikapnya masih saja sama seperti di pesta malam ini. Ucap Alana di dalam batinnya.


Rasanya Alana ingin bersembunyi malam ini. Tapi dia tidak tahu bagaimana caranya. Tiba-tiba dia punya ide brilian dalam benaknya.


"Kau pergilah istirahat, kami pun akan ke kamar", kata Kenzo kala mereka sudah berada di lantai 2.


"Oke, Tuan."


Lalu mereka saling berpisah dan berjalan menuju kamar masing-masing.


"Honey, apakah kado spe - "


"Aku sedang halangan, honey", jawab Alana cepat sebelum Kenzo menyelesaikan ucapannya.


"Emangnya dalam pikiran honey, suamimu ini mau minta apa?"


"A- aku tidak tahu", jawab Alana gugup. "Mungkin saja sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh suami dan istri."


Kenzo tertawa sangat keras kala mendengar ucapan Alana. "Tapi kado itu boleh juga", godanya seraya menaikkan alis.


"I- itu... A- aku ke kamar mandi dulu." Alana lari, hingga bayangannya pun tak terlihat.


Kenzo menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap malu-malu sang istri. Kemudian dia gegas membuka laptop miliknya untuk mengecek email dari Roni. Saat emailnya terbuka, netranya tertarik pada satu email dari nama yang tidak asing.


Klik.


Netra Kenzo membulat sempurna kala membaca laporan keuangan yang dikirimkan padanya. "Jadi selama ini paman tidak pernah menyerah untuk mendapatkan warisan Kakek", ucapnya dengan emosi. Lalu dia membuka email dari Roni. Dia pun tak kalah terkejutnya membaca email dari Roni. "Ternyata begitu kejadian sebenarnya." ucapnya dengan mulut menganga. Lalu dia buru-buru menutup laptopnya kala mendengar pintu kamar mandi di buka.


Alana keluar dari dalam kamar mandi, kemudian berjalan menuju walk-in closet, tanpa menoleh ke arah Kenzo.


"Dia masih saja malu", kata Kenzo saat berjalan menuju kamar mandi.


Hanya dalam 15 menit Kenzo menyelesaikan ritual mandinya. Dia berjalan menuju walk-in closet untuk memakai pakaian tidurnya.


"Kemana istriku pergi?" Kenzo mencari-cari keberadaan Alana. Dia menemukan Alana sedang berdiri di balkon seraya menatap ke langit gelap. "Kenapa berdiri di sini? Ini sudah larut malam, nanti kamu masuk angin", imbuhnya.


Alana menoleh ke arah Kenzo, hingga membuat Kenzo terjingkat kala melihat wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2