
Alexa di bawa para pengawal menuju bandara. Dia tidak bisa menolak atau meminta bantuan pada siapapun.
Berakhir sudah semua rencanaku. Kenzo bukanlah tandingan Pak Baron lagi. Aku sangat menyesal meninggalkannya demi pria yang seujung kukupun tak sebanding dengannya. Ucap Alexa di dalam batin. Netranya menatap bangunan tinggi yang saling berlarian dengan tatapan sendu, hingga tanpa dia sadari bulir kristal jatuh bebas membasahi pipinya.
...---...
Sementara di tempat berbeda Kenzo dan Alana tengah menikmati sarapan pagi ditemani mentari yang menghangatkan pagi ini.
"Terimakasih, honey", ucap Alana yang membuat Kenzo mendelik bingung.
"Untuk apa, honey?"
Alana menyunggingkan senyuman manisnya seraya menatap intens sang suami. "Karena kau memberikanku cinta yang begitu manis. Kau ada saat aku membutuhkanmu, kau begitu khawatir padaku di saat seseorang menculikku. Aku tidak pernah merasakan perhatian yang begitu besar sejak 12 tahun ini", sahut Alana dengan mata berkaca-kaca.
Kenzo mendekat sembari memeluk Alana. "Aku akan berusaha memberikanmu cinta yang tulus setiap hari, setiap jam, setiap menit bahkan setiap detik selama aku bisa melakukannya, honey." Kenzo menjeda ucapannya kala merasakan pundaknya basah. "Apa kau menangis, honey?" tanya Kenzo.
"Bukan apa-apa, honey. Aku menangis hanya karena rasa haru."
Kenzo menyentak lembut tubuh Alana. Lalu dia mengusap air mata yang masih membasahi pipi lembut istrinya itu. "Sudah cukup air mata ini mengalir. Biarkan senyuman manis yang selalu menghiasi wajah cantikmu, honey."
Seketika Alana tersenyum manis kala mendengar penuturan sang suami, lalu dia mengecup singkat bibir Kenzo.
"Kau menggodaku honey", kata Kenzo dengan tatapan penuh arti.
Alana mendelik, karena kecupannya telah di salah artikan oleh sang suami. "Hm, aku mau ke toiket sebentar", katanya dengan buru-buru menjauh dari Kenzo.
"Sayang, kau sungguh tidak bertanggung jawab!" Kenzo berlari mengejar Alana. "Apakah kau tahu pagi hari adalah waktu yang sangat disukai oleh para pria?" tanyanya saat berhasil menangkap tangan Alana.
Mendengar pernyataan Kenzo, jantung Alana berdebar kencang. Dia tahu niat sang suami setelah itu. "Aku harus segera ke toilet, honey!"
Merasa tak tega pada Alana, Kenzo pun melepas pegangannya. "Pergilah sayang", katanya dengan tersenyum.
Alana bernafas lega sembari mengusap dadanya. "Syukurlah dia tidak memintanya sekarang."
Namun apa yang Alana pikirkan itu salah. Setelah selesai dari toilet, Kenzo kembali menggodanya, hingga kisah indah malam itu kembali terulang.
Aku tidak boleh menggodanya sedikit pun, pasti dia selalu mengartikannya seperti ini. Ucap Alana di dalam batin saat menatap wajah Kenzo yang sedang tertidur disampingnya.
...---...
__ADS_1
Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru saja mereka tiba di kota Paris, namun lusa mereka harus kembali karena terjadi kekacauan yang disebabkan oleh tindakan Baron.
"Sayang, kau tidak marah kan?" tanya Kenzo.
Alana mendekati Kenzo sembari tersenyum. "Sayang, apa aku terlihat seperti istri yang suka menuntut?"
"Memang kau bukan istri yang suka menuntut, tapi aku sudah janji padamu untuk memberikan bulan madu yang tidak akan kau lupakan."
"Ini saja sudah cukup, sayang. Bulan madu yang kau berikan ini tak akan pernah aku lupakan", sahut Alana dengan tersenyum.
Tangan kekar Kenzo mengusap lembut pipi mulus Alana. "Aku benar-benar beruntung telah menikah denganmu."
"Honey, dalam pernikahan tidak ada untung rugi! Cukup neraca keuangan yang aku buat ada laba dan ruginya!" tegas Alana.
Kenzo mencubit gemas hidung mancung Alana sembari berkata. "Iya, ibu Accounting. Aku sudah tahu salah."
Alana terkekeh mendengar perkataan seorang CEO perusahaan besar yang biasanya sangat mendominasi. Dia kagum pada suaminya itu, karena tidak menyombongkan posisinya. "Sayang, sepertinya aku semakin mencintaimu", kata Alana yang membuat gairah Kenzo kembali bangkit.
"Sayang, kenapa kau selalu menggodaku?"
Pertanyaan ambigu Kenzo membuat Alana harus segera menemukan alasan yang tepat untuk bisa kabur dari hadapan Kenzo. "Sayang, aku -- "
Kecupan singkat Kenzo membuyarkan pikiran Alana. Rasanya dia tidak dapat menghindar lagi. Tidak menunggu waktu yang lama, Dia pun kembali merasakan cinta yang hebat dari sang suami di atas ranjang.
...---...
Setelah pergulatan sepanjang malam, rasanya tubuh ramping Alana sudah tidak kuat jika harus bangkit dari tempat tidur.
"Sayang, sepertinya aku harus mencabut kembali kata-kataku!" tukas Alana seraya menatap serius Kenzo yang baru saja menyelesaikan ritual mandi.
"Maksud honey?"
"Aku rasa kau bukan suami yang penyayang. Kau suami yang selalu menyiksa istrinya!" keluh Alana.
Kenzo mendekati Alana yang masih berbaring di tempat tidur. "Jangan berkata seperti itu sayang. Maaf, jika perbuatanku menyakitimu." Tangan kekar Kenzo langsung membawa tubuh polos Alana ke dalam kamar mandi. "Katakan apa yang harus aku perbuat, supaya istriku ini tidak punya pikiran seperti itu lagi?"
"Aku hanya bercanda, sayang", sahut Alana yang merasa bersalah telah mengatakannya.
Kenzo mengecup kening Alana sembari berkata. "Lain kali jangan diulangi, ya."
__ADS_1
Alana mengangguk cepat sesaat setelah mereka berada di dalam kamar mandi. Kenzo membantu sang istri menyelesaikan ritual mandinya, meski Alana menolaknya.
...---...
Tanpa terasa hari sudah siang. Kenzo dan Alana sudah bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Mobil pun melaju kencang meninggalkan kenangan bulan madu mereka di kota Paris.
"Jika honey tidak rela kita pulang, bagaimana kalau kita tinggal sehari lagi", tawar Kenzo kala melihat raut wajah sedih Alana.
"Tidak perlu, sayang. Aku tadi tiba-tiba kepikiran sama mendiang Mama. Kapan-kapan kita pergi ziarah ya."
"Oke, honey. Lusa kita ke sana."
Alana tersenyum mendengar jawaban Kenzo. "Hm..." sahut Alana sembari mengangguk.
...---...
Keesokan harinya di bandara Internasional.
Roni sudah menunggu kedatangan Kenzo dengan tidak sabar. "Nah, itu mereka", kata Roni sembari berjalan menghampiri Kenzo dan Alana. "Pagi, Tuan dan Nyonya", sapa Roni saat sudah berada di dekat Kenzo dan Alana.
"Pagi. Maaf.sudah mengganggu tidurmu", ucap Kenzo yang membuat Roni mendelik.
Apa yang sudah terjadi? Biasanya dia tidak peduli aku lembur sampai malam atau pulang hingga pagi. Ucap Roni bingung di dalam batin.
"Pak Roni, ini ada ole-ole", kata Alana sembari menjulurkan tangannya menyerahkan paperbag pada Roni.
"Terimakasih, Nyonya. Maaf membuat Nyonya repot."
"Tidak masalah, Pak", sahut Alana. Namun itu masalah bagi Kenzo. Dia tidak tahu kapan sang istri membelikan ole-ole untuk Roni.
"Lihatlah isinya, barangkali tidak cocok", ujar Kenzo yang sebenarnya penasaran dengan isi paperbag.
"Hm, nanti saja Tuan."
"Sepertinya kau tidak membutuhkan uang lembur selama 5 hari ini!" tukas Kenzo.
"Eh, maaf Tuan. Akan segera aku buka." Tangan Roni gegas mengeluarkan isi paperbag. Sebuah baju jersey klub sepakbola Perancis mencuat dari dalam paperbag. "Wah, aku suka baju jerseynya Nyonya."
Netra Roni berbinar sementara Kenzo menatap tajam ke arah Roni. Namun tatapan itu tidak mampu membuat Roni takut.
__ADS_1
"Baguslah kalau Pak Roni suka", kata Alana dengan tersenyum. Kemudian mereka berjalan menuju parkiran mobil.