Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Menyebar Isu


__ADS_3

Kenzo menatap tajam pria dihadapannya. "Aku bertanya, untuk apa kau datang ke mari?" ulangnya dengan nada keras.


"Beginikah caramu menyambut sahabat masa kecilmu?"


"Aku tidak punya sahabat masa kecil sepertimu!" tukas Kenzo. "Jika tidak ada urusan lagi, segera pergi dari sini!" usirnya dengan nada emosi.


"Aku datang kemari hanya ingin memberitahumu satu rahasia", ucap Richard, anak sulung Baron itu. "Tapi sepertinya kau tidak tertarik, sayang sekali", sesalnya kemudian.


Kenzo mendelik mendengar ucapan Richard. Namun dia tahu benar bagaimana sifat Rochard sebenarnya. Richard adalah orang yang selama ini selalu berusaha memprovokasi hubungan persahabatannya dengan Dave, adik angkat Richard.


"Maaf aku masih sibuk", kata Kenzo sembari beranjak dari posisinya berdiri. Dia menunjukkan sikap acuh pada ucapan Richard.


"Zo, dengarkan aku dulu!" pintanya dengan sedikit berteriak.


"Roni, kenapa orang ini bisa masuk? Kemana semua keamanan kantor?" tanyanya dengan penuh amarah.


"Maaf, Tuan. Akan saya cari tahu." Roni gegas menghubungi bagian keamanan kantor.


Sementara Richard masih terus berusaha membujuk Kenzo, agar dia mendengarkan perkataannya.


"Aku tahu kalau istrimu hilang", ucap Richard yang membuat Kenzo dan Roni mendelik.


Kenzo gegas mendekati Richard dan menarik kerah bajunya. "Apa maksud perkataanmu, ha?"


Richard tersenyum sinis. "Beginikah caramu bertanya pada orang yang akan memberitahumu berita baik?" tanyanya sembari menepis tangan Kenzo.


Tak ingin menjadi tontonan para karyawannya, Kenzo mundur selangkah dan mulai menjauhi Richard. "Ayo, masuk keruanganku", ajaknya depan memimpin di depan.


Richard menatap punggung Kenzo yang semakin menjauh. Aku pikir kau pintar, tapi ternyata kau sangat lemah jika berurusan dengan orang yang dicintai. Ucap Richard di dalam batin. Lalu dia mengayunkan langkahnya mengikuti Kenzo masuk ke dalam sebuah ruangan.


...---...


"Sekarang, katakan dengan jelas!" desak Kenzo tanpa berbasa basi.


Spontan Richard duduk dihadapan Kenzo sebelum pemilik ruangan mempersilakannya. "Sabarlah sebentar", kesal Richard. "Setidaknya kita berbincang sambil ditemani secanngkir kopi", lanjutnya dengan menyandarkan punggungnya.

__ADS_1


Kenzo semakin di buat kesal oleh pria yang mengaku sahabat masa kecilnya itu. Dia pun menghunuskan tatapan tajam ke Richard, agar tidak menganggap remeh dirinya. "Cepat katakan!"


"Santai dong, Bro. Kita bicara jangan pakai urat!" pinta Richard dengan tersenyum meledek.


Tangan kekar Kenzo menghentak meja. "Cukup!" teriaknya dengan nada emosi.


Richard terjingkat dan hampir saja jatuh dari kursi. "Iya, iya, aku beritahu. Jangan marah-marah terus dong, entar cepat tua lo", guyon Richard yang membuat Kenzo mengangkat tangannya hendak melemparnya dengan tumpukan berkas di atas mejanya. "Eits, sabar bro", lanjutnya masih dengan sikap nyeleneh.


Kesabaran Kenzo sudah di ambang batas. Dia beranjak dari posisinya dan menarik Richard ke luar.


"Tunggu dulu!" pinta Richard, namun Kenzo tak mau mendengarkannya, tangannya masih saja menarik Richard.. "Aku tahu di mana istrimu berada", ucapnya kemudian di sela usahanya melepaskan diri dari cengkeraman Kenzo.


Mendengar perkataan Richard, Kenzo berhenti menariknya. Lalu Kenzo menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Kali ini aku akan bicara serius." kata Richard dengan takut.


Merasa dipermainkan oleh Richard, Kenzo sempat berfikir sejenak. Namun tak lama kemudian dia melepaskan cengkeramannya seraya mendengus kasar. Setelah itu dia menjauh dari Richard.


"Aku akan memberitahumu keberadaannya, asalkan kau mau membantuku", lanjut Richard.


"Bukan!" jawab Richard dengan tegas. "Aku pernah melihatnya sekali di sebuah taman. Bisa jadi dia tinggal di lingkungan itu", lanjutnya.


"Katakan di mana tempatnya!"


"Tenang dulu, bro. Kita kan belum membuat kesepakatan."


"Apa yang kau inginkan?" tanya Kenzo dengan nada tidak ramah.


"Kerjasama!" sahutnya dengan wajah serius.


Kenzo mengernyitkan keningnya mendengar permintaan Richard.


"Aku tahu besok akan ada rapat di Bali. Banyak perusahaan besar yang ingin menjalin kerjasama dengan perusahaanmu termasuk papa. Tapi papa meminta Dave yang pergi!" sesalnya dengan menghela nafas.


"Bukankah kau selalu sibuk dengan wanitamu, saat ada rapat di Bali. Tentulah paman Baron lebih percaya pada Dave", balas Kenzo dengan nada meledek.

__ADS_1


"Aku sudah berubah, percayalah!" imbuh Richard. "Sekarang aku benar-benar fokus pasa bisnis papa."


Kenzo berjalan, lalu duduk di kursi kebesarannya. "Aku gak percaya!" tukasnya seraya bersandar. "Dari dulu kau sangat membenci Dave", lanjutnya dengan menatap intens Richard. "Kau iri karena paman Baron mengangkatnya menjadi anak."


Richard terdiam saat mendengar perkataan Kenzo. Dia menunggu Kenzo menyelesaikan ucapannya.


"Kau juga iri, karena Dave lebih unggul darimu. Dia dapat menjalankan bisnis paman Baron, walaupun dia harus bekerja sebagai Dosen. Sementara kau, hanya biaa berfoya-foya dengan kekasihmu itu!"


Perkataan Kenzo membuat Richard emosi, dia pun membalas dengan berteriak. "Ya! Aku memang iri pada Dave. Dia bahkan bukan ahli waris, tapi mendapat perlakuan lebih baik dariku!" pungkas Richard yang mengakui kebenaran ucapan Kenzo. "Tapi aku bukanlah orang yang munafik!"


Kening Kenzo mengernyit mendengar kata munafik. "Apa maksudmu?"


Richard berjalan mendekati Kenzo. "Kau mungkin tidak tahu, orang yang telah mencuri berkas papamu itu bukanlah papa atau pun paman Alferd, melainkan Dave."


"Sudah cukup omong kosongmu!" ucap Kenzo dengan nada kesal. "Sekarang pergi dari sini!" titahnya kemudian dengan menunjuk pintu ke luar.


Richard hanya membalas dengan tertawa keras "Baiklah kalau memang kau tidak mau menerima penawaranku, tapi jangan salahkan aku jika suatu saat apa yang aku katakan tadi membuatmu menyesal karena tidak mempercayainya", lanjut Richard seraya beranjak pergi menuju pintu keluar. Dia berjalan perlahan, berharap Kenzo menghentikannya, namun Kenzo sama sekali tidak berniat untuk menahan kepergiannya.


Dia lebih mementingkan persahabatan daripada istrinya sendiri. Gerutu Richard di dalam batin. Lalu dia melangkah ke luar.


Sepeninggal Richard, Kenzo gegas menghubungi Roni dan meminta pengawalnya mengikuti Richard dan mengawasinya selama beberapa hari ke depan. Dia curiga Alana di culik olehnya.


...----...


Kenzo masih saja bekerja, jika Roni tidak datang untuk mengingatkannya.


"Tuan, satu jam lagi kita harus pergi ke bandara" ucap Roni dengan wajah serius, namun Kenzo sama sekali tidak menyahut perkataannya. "Tuan", ulangnya memanggil Kenzo.


"Iya, aku tahu", jawab Kenzo seraya menonaktifkan laptop. Lalu dia bangkit dari tempat duduknya. "Ayo", ajaknya dengan membawa laptop.


Roni pun mengikuti di belakang Kenzo. Saat berada di luar ruangan, Roni berjalan dengan langkah lebar dan mensejajarkan langkahnya dengan Kenzo.


"Tuan, saya dapat info tentang pak Billy dan pak Baron. Saat ini mereka saling serang", kata Roni saat berjalan masuk ke dalam lift.


"Hm, iya aku tahu", jawab Kenzo santai. "Aku yang menyebar isunya. Sekarang mereka akan sibuk dengan masalah pribadi", lanjut Kenzo dengan tersenyum.

__ADS_1


Roni tak ingin mengatakan apapun lagi. Dia tahu amarah Kenzo bisa menghancurkan siapa saja yang ingin mengusiknya.


__ADS_2