
Kenzo berdiri di depan cermin seraya menatap pantulan wajah tampannya. Semoga Alana mau memberikan permintaan kado spesialku. Ucap Kenzo di dalam batin. Lalu netranya mendelik kala sosok yang sedari tadi dinanti muncul dari dalam walk-in closet.
"Cantik sekali", ucap Kenzo kagum saat pupilnya terisi penuh dengan pantulan Alana yang sedang memakai gaun merah muda.
Senyum Alana mengembang, hingga kecantikan wajahnya semakin terpancar. "Apa kita berangkat sekarang, honey?"
"Hm, sepertinya aku mulai ragu. Semua orang nantinya akan menatap wajah cantik my honey. Aku pasti sangat cemburu."
Tawa renyah Alana mengisi pendengaran Kenzo. "Apa perlu aku memakai topeng?"
"Ide yang bagus."
Alana menyesal atas ide yang dia berikan. "Tidak, honey. Aku tadi cuma bercanda."
"Masih ada waktu, aku akan meminta Roni untuk mengubah pestanya menjadi tema topeng."
"Tapi Hon-- "
Ucapan Alana terputus bersamaan dengan Kenzo menyahut ucapan di telepon. "Kebetulan sekali", ucap Kenzo saat Roni menghubunginya. Tanpa menunggu laporan dari Roni, Kenzo terlebih dulu menyampaikan idenya.
Sementara Alana hanya bisa duduk di kursi meja rias tanpa suara. Dia sedikit menyesal atas ide yang keluar dari mulutnya. Tidak berselang lama, netranya melihat Kenzo memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Ayo, kita berangkat honey", kata Kenzo dengan raut wajah bahagia.
"Ayo", balas Alana singkat. Dia berdiri seraya terus memikirkan kesialan Roni akibat ulahnya. Pak Roni pasti kewalahan menemukan topeng dalam jumlah besar dengan waktu yang sudah mepet gini. Ucap Alana di dalam batinnya.
...---...
Hanya butuh waktu 15 menit Kenzo dan istrinya tiba di tempat pesta ulang tahun.
"Malam Tuan dan Nyonya", sambut penjaga pintu lobi hotel miliknya sendiri.
"Malam", sahut Alana tersenyum manis.
Kenzo kesal sang istri menunjukkan senyuman manisnya. "Dimana Roni?" gumamnya. Netranya menatap liar ke sekeliling hotel.
"Malam Tuan", sapa Roni dari arah belakang Kenzo. Helaan nafasnya membuat tubuhnya merasa sedikit rileks.
"Sudah beres?" tanya Kenzo tanpa memikirkan kesulitan Roni.
"Sudah Tuan", jawab Roni. Lalu dia memberikan topeng milik Kenzo dan Alana. "Ini milik Tuan dan Nyonya."
"Cepat pakai!" titah Kenzo yang membuat Alana sedikit terjingkat.
"Hm, baiklah honey", sahut Alana. Kenapa harus memakai ini? Bahkan topeng ini menutupi seluruh wajahku. Ucap Alana kesal di dalam batinnya.
Kenzo berjalan menggandeng mesra tangan sang istri, seolah topeng yang dikenakan oleh Alana tidak cukup baginya untuk menunjukkan bahwa Alana tidak boleh di lirik oleh siapapun.
__ADS_1
"Pestanya cukup meriah", kata Alana kala melihat dekorasi dan musisi yang sedang berjalan menuju Kenzo.
"Selamat ulang tahun Tuan Kenzo", ucap musisi terkenal itu seraya menjulurkan tangan.
"Apa anda masih mengenalku?" tanya Kenzo.
"Apa Tuan bercanda? Mana mungkin saya tidak mengenal Tuan, meskipun Tuan mengenakan topeng", jawab musisi itu yang membuat Alana gelisah.
"Kalau begitu apa anda juga mengenalnya?" tanya Kenzo seraya menunjuk ke arah Alana.
Sudah ku duga, dia masih belum puas, walaupun aku sudah mengenakan topeng. Rutuk Alana di dalam batinnya.
"Hm, ini pasti istri Tuan Kenzo", jawabnya tanpa berfikir.
Alana yakin musisi pria itu hanya asal menebak, karena melihat dirinya berdiri tepat di samping Kenzo. "Maaf, Pak. Apa anda yakin? Karena anda pasti tidak bisa mengenali wajah saya, kan."
"Nyonya benar. Tapi siapa yang berani bersanding dengan Tuan Kenzo selain istrinya."
Alana meliriķ ke arah Kenzo. Matanya seakan bicara, mengisyaratkan sesuatu. "Apa suamiku masih berfikiran aneh?" tanya Alana berbisik.
Musisi pria itu menatap bingung pasutri yang saling menatap tanpa bicara.
"Hm, maaf Tuan dan Nyonya. Saya pamit undur diri dulu", katanya dengan rasa canggung. Pria itu khawatir akan semakin sulit untuk dirinya pergi dari hadapan pasutri itu nantinya.
"Oke, silakan", jawab Kenzo tanpa menoleh.
Acara di mulai oleh MC yang berdiri dengan wajah ceria. Tanpa menunggu lama, MC masuk pada acara inti yakni pemotongan kue, karena Kenzo tidak ingin meniup lilin dua kali.
Tepuk tangan terdengar kala sang istri mendapat suapan potongan kue pemberian Kenzo, begitu pula sebaliknya sang istri memberikan suapan kue pada Kenzo.
Nyanyian dari musisi terkenal mulai terdengar, menandakan acara inti sudah selesai, kini Kenzo dan Alana dipersilakan untuk menari bersama.
"Ayo, honey", ajak Kenzo dengan tangan terbuka.
"Ta- tapi aku tidak pandai menari." Alana menatap ke sekeliling ruangan. Meskipun semua yang ada diruangan itu sedang memakai topeng, namun mereka masih dapat melihat tariannya dengan jelas.
"Tidak apa-apa. Pijak kakiku saat menari nanti."
Alana bergeming diposisinya, dia seakan berada di dalam dilema. Jika dituruti akan membuat malu Kenzo nantinya, dan jika tidak dituruti Kenzo tetap akan mendapat malu, karena Alana akan di cap istri pembangkang.
"Ayo, jangan takut."
Alana menutup matanya beberapa saat. Lalu tangannya terjulur menyambut tangan Kenzo.
Semua mata tertuju pada tarian Kenzo dan Alana, bukan karena tariannya, melainkan karena Alana benar-benar menginjak sepatu mahal milik Kenzo, hingga musik berhenti.
"Ah, akhirnya." Alana bernafas lega kala musik berhenti dan tarian mereka ikut selesai.
__ADS_1
"Tarianmu cukup bagus, juga", kata Kenzo saat mereka kembali ke tempat duduk.
"Jangan meledekku. Aku tahu sepatu heelsku sungguh menyakitimu kan."
"My honey berfikir terlalu berlebihan. Tarianmu memang bagus."
Alana tidak ingin membahasnya terlalu dalam. Dia lebih memilih berkenalan pada karyawan Kenzo, bukan sebagai ajang pamer, melainkan karena dia ingin mengenal mereka lebih dekat.
Suasana pesta yang meriah, tidak dinikmati oleh Roni. Dia malah tertidur di sudut kursi panjang, karena kelelahan. Topeng yang dia kenakan seolah suatu kebetulan yang menguntungkan baginya, karena tidak ada yang mengenalinya, hingga seorang bartender datang menghampiri.
"Pak... Pak... " ucapnya seraya menyentak tubuh Roni.
Mulut Roni menganga kala rasa kantuknya belum juga hilang. "Sudah jam berapa ini?" katanya seraya menutup mulut.
"Jam 9 malam, Pak. Tapi tolong jangan tidur di sini, Pak", tegurnya dengan sopan.
Roni membuka topengnya. "Hm, sebentar lagi aku pergi", sahutnya.
"Maaf pak Roni, tadi saya tidak mengenal suara anda."
"Tidak apa-apa. Saya ingin menemui Tuan Kenzo dulu", ucapnya seraya bangkit dari atas tempat duduk.
"Sepertinya Tuan Kenzo baru saja pulang, Pak."
Roni mendelik kala mendengar ucapan bartender itu. "Apakah pestanya sudah usai?"
"Belum, Pak. Mungkin Tuan Kenzo ingin pulang lebih awal saja."
"Owh, begitu. Kalau begitu saya pergi dulu", ucap Roni seraya beranjak dari posisinya dan berjalan menuju ruang pesta diadakan.
...----...
Di dalam mobil Alana duduk tidak tenang, tiada henti dia meremas tangannya kala memikirkan apa yang akan Kenzo minta sebagai hadiah ulang tahun.
Citt...
"Kenapa Pak Heri?" tanya Kenzo seraya mengelus kepalanya yang membentur kaca mobil
"Sepertinya saya menabrak sesuatu Tuan", kata Heri dengan gugup.
"Pak Heri kenapa tidak berhati-hati", ucapnya berdecak kesal. "Coba cek keluar!" titahnya.
Kenzo dan Alana menunggu di dalam mobil dengan perasaan was-was.
"Kenapa lama sekali?" Kenzo penasaran dan ingin keluar untuk melihat keadaan Heri. Namun Alana melarangnya.
"Aaa... " pekik Alana kala wajah seseorang tampak menempel tepat di kaca dekat tempat duduknya.
__ADS_1