Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Siapa wanita itu?


__ADS_3

Kenzo gegas beranjak dari posisinya duduk, lalu berjalan menuju pintu keluar tanpa mengucapkan sepata kata pada Roni.


"Apa yang telah terjadi, Tuan?" tanya Roni saat tangan Kenzo baru saja memegang handle pintu.


"Alana..." ucapnya tanpa penjelasan.


Roni mengkerutkan keningnya. "Nyonya kenapa, Tuan?"


"Ayo, ikut denganku!"


Roni pun beranjak dari posisinya, lalu berjalan menghampiri Kenzo. "Nyonya kenapa Tuan?" Dia mengulang pertanyaannya saat mereka sedang menyusuri lorong kantor.


"Coba lihat foto ini!" Kenzo menyodorkan ponsel miliknya pada Roni. "Coba identifikasi tempatnya, apakah itu di gudang?"


Roni menyipitkan matanya. "I- iya Tuan", jawabnya sedikit gugup. Kenapa sembarangan mengganti lokasinya? Ide konyol siapa ini? Rutuk Roni di dalam batinnya. Dia kesal pada karyawan yang telah berani mengubah lokasi meletakkan posisi Alana.


"Segera hubungi security dan minta mereka datang ke gudang sekarang!" titah Kenzo dengan nada keras.


"Ba- baik, Tuan", sahut Roni. Tanpa menunda waktu Roni langsung menghubungi security.


Kenzo melangkah masuk ke dalam gudang suram minim penerangan itu. Suara hewan pengerat menjadi pengisi kesunyian gudang yang penuh debu dan jaring laba-laba.


"Walaupun ini cuma gudang, bukan berarti kalian membiarkannya begitu saja! Segera ganti kepala gudang!"


Roni mendelik mendengar ucapan Kenzo. "Saya rasa dia hanya belum membersihkannya hari ini saja, Tuan", bela Roni.


"Bereskan itu nanti. Sekarang cari keberadaan Alana!"


"Itu Nyonya, Tuan!" tunjuk Roni pada Alana yang sedang terikat di kursi.


"My honey", panggil Kenzo seraya menghampiri Alana. Sementara Roni berjalan mundur menjauhi Kenzo, lalu tangannya menekan nomor seseorang di ponselnya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Kenzo saat berada di dekat Alana seraya melepas penutup mulutnya.


"Aku tidak apa-apa", sahut Alana dengan menghela nafas lega.


"Apa my honey melihat orang yang membawamu ke sini?"


Alana menggelengkan kepalanya. "Tidak honey", jawabnya.

__ADS_1


Kenzo memeluk erat tubuh Alana, namun tatapannya membenci pelakunya. "Dia telah melakukan kesalahan besar! Beraninya dia melakukan ini pada istriku!"


Alana gugup saat mendengar ucapan Kenzo. "Hm, mungkin dia tidak bermaksud seperti itu honey", belanya.


Kenzo menatap curiga ke arah Alana. "Apa my honey menyembunyikan sesuatu?"


Alana menggeleng dengan cepat. "Untuk apa aku menyembunyikan sesuatu darimu, honey."


"Lebih baik kita keluar dari sini, dulu. Tempat ini tidak nyaman", kata Kenzo bersamaan dengan datangnya security. Kenzo menatap tajam para security yang baru saja datang. "Jika saja tadi terjadi sesuatu pada istriku, maka aku tidak butuh kalian lagi!"


Para security beringsut mundur. Padahal kami masuk bersamaan dengan Pak Roni. Ucap salah seorang di dalam batinnya.


"Ayo, kita pergi dari sini Tuan, Nyonya", ajak Roni mengalihkan perhatian Kenzo. Dia tidak menduga Kenzo sangat marah dengan kejadian itu.


"Bereskan mereka!" titah Kenzo yang membuat Roni ketar ketir. Mereka pun berjalan ke luar dari dalam gudang.


Sepeninggal Kenzo dan yang lainnya. Seorang wanita keluar dari persembunyiannya. "Kenapa ada yang tahu aku membawanya kemari. Pada hal kepala gudang tadi sibuk dengan acara di lantai 4", gumamnya berdecak kesal.


...---...


Roni menuntun Kenzo dan Alana berjalan masuk ke dalam lift.


Ting.


"Kenapa kita ke sini?" tanya Kenzo saat dirinya sadar mereka berada di lantai 4.


"Surprise...!" teriak seluruh karyawan. Sekretaris Kenzo membawa cake ditangannya.


"Happy birthday to you..." paduan suara karyawan Kenzo terdengar merdu di telinganya, hingga dia di buat tersentuh oleh nyanyian yang sudah biasa dia dengar itu, bahkan netranya berkaca-kaca kala melihat antusias seluruh karyawan.


"Selamat ulang tahun suamiku", ucap Alana saat nyanyian itu berhenti.


"Terimakasih honey", sahut Kenzo dengan lembut.


Para karyawan lainnya pun bergantian memberi ucapan selamat ulang tahun pada Kenzo.


"Tunggu dulu!" seru Kenzo yang membuat para karyawan mendelik. "Apa menculik istriku adalah ide kalian?"


Karyawan pria dan wanita saling tatap, tidak ada yang berani buka suara. Namun tiba-tiba mereka menatap Roni hampir bersamaan.

__ADS_1


"Hm, maaf Tuan", ucap Roni pasrah. "Sebenarnya konsep awal tidak seperti itu. Saya tidak tahu kenapa bisa tiba-tiba berubah di tengah jalan."


"Berarti ide kamu untuk mengikat Alana?"


Roni mulai ketakutan. "Kami hanya berpura-pura saja Tuan. Saya akan cari tahu siapa yang telah melakukannya dengan sungguh-sungguh."


"Siapa yang telah mengirimkan foto istri saya?"


Seorang pria berumur berkisar 40 tahun tampil ke depan. "Saya yang telah mengirimnya, Tuan."


Kenzo menatap tajam ke arah pria itu. "Kenapa kau mengirimkannya?"


"Saya mendapat tugas untuk memotret istri Tuan dan mengirimkan fotonya. Tapi saya ada laporan yang harus di kirim segera, jadi saya minta tolong pada Pak Dani kepala gudang untuk memotret istri Tuan."


"Huft, kepala gudang lagi!" celetuk Kenzo yang membuat kepala gudang tampil dengan kaki gemetar.


"Maafkan saya Tuan. Saya tidak berfikir dengan jernih saat itu", sahut Dani dengan menunduk. "Saya tidak diberitahu dengan jelas di mana saya akan memotret Nyonya Alana, dan kebetulan saya melihat Nyonya Alana di bawa seorang wanita ke dalam gudang. Saya pun berfikir disanalah saya akan memotret, lalu saya masuk ke dalam gudang. Awalnya saya merasa aneh kenapa Nyonya Alana diikat seperti itu, namun kemudian saya berfikir bahwa itu dilakukan agar tampak real."


Kenzo dan yang lainnya terperangah mendengar penuturan Dani.


"Berarti ada orang yang hendak mencelakai istri saya!" tebak Kenzo seraya menoleh ke arah sang istri.


Alana menutup mulutnya, kala menyadari bahaya yang baru saja dia lewati. "Aku juga tadi sempat bertanya pada wanita itu, kenapa membawaku ke sana, tapi dia hanya tersenyum menatapku."


"Roni, cek siapa wanita itu!" titah Kenzo.


"Baik, Tuan", sahut Roni. Lalu dia gegas pergi ke ruang kontrol CCTV.


Kenzo pun berterimakasih atas surprise yang diberikan sekaligus meminta maaf, karena tidak bisa ikut dalam acara surprise yang telah di buat oleh para karyawannya itu. Namun Kenzo telah berjanji akan mentraktir mereka sehabis pulang kerja. Kenzo buru-buru membawa Alana pergi dari tempat itu menuju ruang kerjanya.


Kenzo menggandeng mesra tangan Alana, hingga membuat cemburu para kaum jomblo. Mereka terus berjalan mengabaikan jeritan hati yang tertahan. Akhirnya mereka sampai di depan pintu lift. Kenzo seakan enggan melepas gandengan tangannya saat masuk ke dalam lift.


"Apa my honey sudah menyiapkan kado spesial buat suamimu ini?" tanya Kenzo saat menekan tombol angka lantai yang ingin di tuju.


Alana menggigit bibirnya untuk menghilangkan rasa gugup. "Hm, belum honey", jawabnya.


"Karena my honey belum menyiapkannya, maka bolehkah aku memintanya?"


Alana semakin gugup mendengar penuturan Kenzo, pikirannya mulai menerawang jauh, hingga tanpa dia sadari pintu lift sudah terbuka lebar.

__ADS_1


"Ayo, keluar my honey", ucap Kenzo saat melihat Alana tidak beranjak dari posisinya.


"I- iya, honey", jawabnya gugup.


__ADS_2